Semoga Ini Bukan yang Terakhir Kali

Foto prewedding bertema Islami Agus dan Riza

Kupandang mimbar imam masjid sendirian. Sepi sore ini membuat kayu mimbar terlihat kaku. Tetes-tetes air gerimis menderik di ujung jalan. Seolah mereka ingin mengadu dan merayuku agar tak hengkang dari sajadah panjangku.

Tidak. Aku pun tak ingin segera berlalu dari mujahadah nama-nama indah-Nya. Aku pun tak hendak kembali menuju rumah berhias janur kuning di teras. Aku ingin berlama-lama disini. Mungkin ini akan menjadi mujahadah perpisahan sebelum ku sempurnakan separuh agamaku.

Masih teringat dalam benakku ancaman para santri padaku. “Paling mari ngene Pak Agus gak mulang maneh. Aku emoh ngaji maneh.”

Ku terdiam mendengar ucapan polosnya. Aku tak berani janji lebih dari kemampuanku. Terlebih lagi keesokan harinya ku ikrarkan dalam hati untuk membangun ikatan suci di depan makam. Pantang bagiku meneteskan air mata di depan wanita. Cukup sesenggukan nafas diantara doa yang mewakili haru di balik dada.

Aku tidak pernah bertatap muka sampai akhir hayat beliau. Tapi kurasakan kasih sayang tulus dalam mendidik anak-anaknya. Seorang anaknya yang esok hari akan menjadi istriku.

Kurasakan kehadirannya di sela-sela bacaan tahlil. Seolah berbisik, “jagalah dia dengan kasih sayang tanpa batas“. Inilah salam perkenalan terindah dari dua makhluk berbeda dunia.

Janji lho pak, mari ngene tetep nang kene,” terbersit ucapan santri lain dalam memoriku. Ah, suara-suara itu selalu terngiang dalam ruang pendengaranku. Tidak ada keputusan yang lebih berat daripada harus meninggalkan taman belajar quran dalam kepincangan. Aku tak akan mengulang dua kali kesalahan dulu yang pernah mengabaikan mereka.

Sampeyan dungakno Pak Agus selalu sehat dan banyak rejeki ben saget mulang sampeyan terus,” ucapku menenangkan forum kecil di serambi masjid.

16.18 WIB. Tak pernah ku selama ini berdiam dalam ketenangan di sore di bawah kubah masjid. Tempat ini biasanya ramai oleh suara gelak-tawa dan decak kaki anak-anak. Apakah selanjutnya tempat ini akan tetap sepi?

Apapun yang terjadi esok hari, ku harap ini bukanlah terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah Tuhan ini. Yaa Habibati, engkau tahu aku sayang padamu melebihi apapun di dunia ini. Tapi rasa cintaku pada Tuhanku tidak akan terganti ketika aku bersujud pada-Nya.

Ya Habibati, bersediakah kelak engkau kuabaikan sejenak saat engkau menginginkan perhatian lebih dariku. Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri. Tapi rasa cintaku pada Tuhanku melebihi rasa cintaku pada makhluk-Nya.

Bagikan tulisan ini:

By Agus Siswoyo

Teacher in real life, story teller and Indonesian blogger.

1 comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *