Setelah Teges Gawe Pernikahan Kenapa Malah Puyeng?

Anak Mengajak Bertengkar? Tahanlah Emosi Untuk Tidak Berdebat Dengannya
Anak Mengajak Bertengkar? Tahanlah Emosi Untuk Tidak Berdebat Dengannya

Tradisi Islam Jawa yang berkembang di Indonesia dalam hal pernikahan sangat unik. Keunikan itu bisa dilihat dari pemilihan hari baik untuk melangsungkan lamaran atau tunangan, teges gawe, dan melangsungkan akad nikah. Penganut adat Jawa yang taat pasti tidak akan berani memilih tanggal-tanggal bersejarah untuk melaksanakan hajatan keluarga, baik pernikahan maupun sunatan (khitan).

Penulis telah melangsungkan acara lamaran pada 10 Agustus 2020 lalu. Kedua keluarga kemudian bertemu lagi dalam acara teges gawe pada 21 September 2020. Teges gawe adalah acara musyawarah dua keluarga untuk menentukan hari dan tanggal baik melangsungkan pernikahan. Penulis mengikuti acara teges gawe dengan perasaan tidak menentu. Inilah momen paling canggung yang pernah penulis alami.

Deal! Dua keluarga telah membuat kesepatan mengenai tanggal pelaksanaan akad nikah. Acara teges gawe berlangsung sederhana dan singkat. Dua keluarga berunding bersama selama kurang lebih 90 menit. Seremonial teges gawe telah usai. Kini giliran penulis yang puyeng dengan hasil musyawarah dua keluarga. Kenapa jadi pusing memikirkan hari pernikahan?

Melangsung pernikahan adalah impian setiap pasangan muda. Tapi melaksanakan resepsi pernikahan lebih cepat dari rencana semula bisa jadi kejutan yang paling mengagetkan. Mau tidak mau, segala persiapan harus dikebut lebih cepat. Segala perubahan menuju situasi baru pasti menimbulkan stress. Belum lagi persiapan mental menyandang status sebagai pasangan suami dan istri pasti menguji kekuatan mental.

Tantangan paling berat masa setelah tunangan menuju akad nikah adalah bagaimana mengelola emosi saat menanggapi pembicaraan tetangga. Mau secuek apapun diri kita, omongan Bu Tejo selalu menyakitkan hati. Dunia perghibahan modern sangat mudah berkembang berkat dukungan sosial media. Sebuah percakapan sederhana bisa bermakna lain saat disebarluaskan oleh mulut-mulut tidak bertanggungjawab.

Dibutuhkan komunikasi intensif antara kedua pasangan dalam menangkal dampak buruk ghibah. Keduanya perlu memiliki keluasan hati menerima masa lalu pasangan, bersabar menerima cobaan, dan tetap fokus menyusun masa depan. Bagaimana dengan pengalaman Anda melalui masa pelik antara hari pertunangan hingga akad nikah? Silakan berbagi pengalaman pada kolom komentar di bawah ini.

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Setelah Teges Gawe Pernikahan Kenapa Malah Puyeng?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *