Terima Kasih Untuk Pernikahan Hari Ini

Hari ini kita mengikat janji di depan saksi dan penghulu untuk sebuah ikatan suci. Tidak pernah terbayangkan bahwa kita akan secepat ini melangsungkan pernikahan. Aku tidak pernah menyangka Allah mempermudah proses ini. Namun aku percaya bahwa Allah selalu mendengar doa-doaku di setiap akhir sholat dan di penghujung malam. Engkau adalah jawaban dari setiap doa yang kupanjatkan ke hadirat-Nya. Gemetar suara dan tanganku menjadi saksi bahwa aku tidak pernah main-main dalam menjalin hubungan denganmu.

Terima kasih untuk kedua orangtuaku yang telah mengasuhku dari kecil hingga saat ini ku telah menikah dan menjadi suami bagi wanita pilihanku. Terima kasih atas keikhlasan kalian melepaskan kakiku untuk meninggalkan rumah dan tinggal di rumah lain. Aku tidak mampu merasakan kesedihan yang sebenarnya di hati Emak saat memelukku tadi pagi menjelang akad nikah. “Berangkatlah, Nak! Hati-hati di jalan,” demikian ucapnya lirih.

Serta-merta mataku terasa panas. Setetes air berhamburan keluar. Buru-buru ku lepas pelukanku pada tubuh Emak. Kulangkahkan kaki lebih cepat meninggalkan ruang tamu. Aku tidak ingin terlihat menangis di hadapan saudara dan kerabatku yang berkumpul di depan. Bahkan mobil yang kutumpangi terasa lambat berjalan. Sekonyong-konyong bayangan masa kecilku terputar. Aku masih ingat saat badanku panas dan digendong Emak di depan teras rumah lama. Ingin ku kembali merasakan pelukan hangat Emak namun kini ku harus menghadapi masa depan.

Terima kasih kepada saudara-saudaraku. Ketiga Cacak dan istri-istrinya tidak pernah terputus memberikan dukungan padaku. Mereka adalah orang tua kedua setelah Emak dan Bapak yang selalu ada disaat ku butuhkan. Para Cacak, Mbak dan keponakan selalu antusias menjelang pernikahan ini. Bahkan kehebohan mereka sudah bermula lima bulan lalu sebelum masa lamaran. Kalian semua juga menjadi penghibur di saat aku mulai lelah dan kehilangan harapan sehingga aku kembali tersadar masih ada cita-cita dan tujuan yang harus kuraih.

Terima kasih kepada istriku tercinta. Mulai hari ini kita akan melalui masa suka dan duka berdua. Kita tidak pernah tahu halangan dan godaan seperti apa yang akan terjadi di masa depan. Sejak saat ini mari kita perbanyak komunikasi dan saling berbagi rasa. Perbedaan usia kita bukanlah penyebab perbedaan tujuan hidup. Kita adalah satu tim dalam berlayar di lautan kehidupan. Semoga Allah selalu memberikan ridho dan limpahan rahmat untuk kita berdua. Aamiin.

Bagikan tulisan ini:

Oleh Agus Siswoyo

Teacher in real life, story teller and Indonesian blogger.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *