5 Penyebab Orang Tidak Memilih Blog Pribadi Sebagai Jurnal Harian Online

Setelah pada artikel kemarin saya menuliskan hal-hal apa saja yang bisa memotivasi seseorang menekuni aktifitas blogging, maka kali ini sebaliknya. Alasan apakah yang membuat seseorang tidak ikutan ngeblog? Apakah takut idenya dicuri? Ataukah karena gaptek alias gagap teknologi?

Blogging adalah salah satu media yang tepat bagi Anda untuk berbagi ide dengan jutaan pengguna internet lainnya di seluruh dunia. Melalui blog pribadi kita bisa memaparkan pemikiran dalam menanggapi satu permasalahan dan gejala sosial yang ada di sekitar kita. Secara umum, aktifitas ngeblog melatih seseorang menjadi lebih cerdas bersikap, peka terhadap lingkungan, dan waspada terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Meski demikian, tidak sedikit orang yang mengalami ketakutan untuk membagi pemikiran mereka melalui blog pribadi. Mereka merasa tidak nyaman dengan aktifitas kebebasan berekspresi di internet yang penuh dengan hiruk pikuk manusia dari berbagai penjuru dunia dan dari beragam latar belakang. Mengapa mereka takut atau tidak mampu menulis jurnal harian dengan cara ngeblog? Beberapa alasan yang muncul diantaranya adalah:

1. Tidak paham teknologi informasi dan pengetahuan seputar blogging.

Inilah penyebab umum mengapa banyak orang pintar tidak memiliki blog pribadi. Secara akademis boleh jadi mereka mumpuni menjadi the best di bidangnya. Namun ilmu yang setinggi langit tersebut tidak dapat dibagi dengan masyarakat umum di internet karena tidak tahu cara ngeblog. Sebagian publik figur dari kaum akademis ada yang mempercayakan pengelolaan blog pribadi kepada sebuah tim ghost writer. Ghost writer bertindak sebagai tangan kanan dalam menyampaikan beragam pandangan terhadap satu permasalahan. Idenya tetap dari mereka, ghost writer cuma membantu merangkai kata dan mempublikasikan di internet.

Faktor usia juga mempengaruhi mengapa mereka lebih suka komunikasi verbal daripada tertulis. Bapak-bapak yang menghabiskan masa muda pada era Orde Baru kebanyakan memandang internet tak lebih dari hiburan semata. Kalau nggak buat download lagu-lagu MP3 terbaru, biasanya menjadikan internet sebagai alat hiburan cari wallpaper dan film biru. Meski nggak semuanya begitu, ada juga kok yang melek teknologi, tetapi pada dasarnya pendidikan masa lalu juga mempengaruhi cara pandang mereka terhadap internet.

2. Ketakutan ide cemerlang dicuri orang lain.

Penyebab lain kenapa orang tidak ngeblog adalah karena takut ide-ide briliyan yang dimiliki dicuri oleh pembaca yang ngerti hak kekayaan intelektual. Misalkan ada seorang akademis yang kepintarannya luar biasa dan nggak ada bandingannya. Kalau dia jelaskan panjang lebar pemikirannya maka hal ini akan beresiko kecurian ide. Memang sih kita bisa setting siapa saja yang bisa baca tulisan kita, apakah cuma member terdaftar, hanya kita seorang diri atau bahkan blokir IP Address tertentu.

Namun kebanyakan blogger menjadikan tulisan mereka sebagai konsumsi publik dan kita nggak bisa melarang mereka untuk datang berkunjung. Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa berbagi pemikiran tapi nggak kecurian ide? Hal ini bisa kita akali dengan menjelaskan garis besarnya saja, tidak sampai mendetail. Supaya tulisan nggak di copas, kita bisa pakai plugin WordPress yang fungsinya mencegah copy-paste artikel. Selain itu, kita bisa daftarkan blog ke blog direktori untuk memudahkan verifikasi artikel.

Karakter Blogger Berdasarkan Hobby
Karakter Blogger Berdasarkan Hobby

3. Antipati terhadap pergaulan dunia maya.

Ada sebagian orang yang sensitif banget untuk membuka diri dan bergaul di dunia maya. Mereka berpikiran blogging tak jauh beda dengan tindakan hacker, cracker, dan beragam kejahatan model cybercrime lainnya. Hal ini dimungkinkan akibat pengalaman buruk dan informasi yang salah yang mereka dapat di masa lalu. Misalkan ada yang pernah lihat berita di tivi tentang penculikan yang bermula dari pertemanan di Facebook. Berita ini menjadikan orang awam melakukan generalisasi terhadap semua hal yang berbau internet.

Antipati terhadap internet bukanlah perilaku yang tepat mengingat saat ini banyak kegiatan manusia yang dibantu internet. Pemerintah pun melibatkan internet dalam administrasi ekonomi negara. Contohnya, bayar tagihan listrik, telepon dan air di kantor pos secara online, transaksi internet banking dan lain-lain. Kejahatan yang terjadi di internet pada dasarnya sama seperti kejahatan di dunia nyata. Kita bisa menjadi korban, tapi kita juga bisa melakukan pencegahan sejak dini.

4. Kecewa terhadap nasib bisnis online yang pernah dijalankan.

Bisnis online menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat negara berkembang yang melek teknologi. Tentu kita masih ingat demam bisnis online yang terjadi beberapa waktu lalu di Indonesia. Mulai dari MLM tiket pesawat terbang, beli pulsa online, arisan bank online, investasi emas di internet dan masih banyak modum bisnis online lainnya. Sayangnya, kebanyakan pemula bisnis online mengalami kegagalan pada tahun pertama mereka bekerja. Beberapa kalangan menyatakan 90 persen pebisnis online pemula gagal bertahan dan menyisakan 10 persen yang konsisten di jalur bisnis internet.

Kecewa akibat gagal dalam bisnis internet menjadikan mereka memberi label buruk pada dunia blogging. Ada yang menyatakan blogging adalah bentuk akal-akalan untuk menipu orang lain dengan beragam modus. Well, pemikiran seperti itu tidak sepenuhnya benar. Mungkin ada pemain MLM online yang bertindak curang, tapi masih banyak kok yang benar-benar niat jualan di internet. Lagi pula, blogging itu tidak harus berakhir ke tujuan bisnis. Masih banyak blogger yang menulis untuk mencari kawan. Misalnya Mbak Imelda, Pak Mars dan lain-lain.

5. Lebih suka berbagi melalui media offline.

Setiap orang memiliki kecenderungan masing-masing dalam gaya penyampaian ide. Ada yang jago melakukan orasi di hadapan orang banyak, menulis artikel di surat kabar, berpidato dalam siaran radio, live show di stasiun televisi dan yang terakhir menulis melalui blog pribadi. Semua jenis media berbagi tersebut dibagi dua, yaitu online dan offline. Bagi yang terbiasa ngomong face to face, biasanya akan kesulitan mengungkapkan ide dengan tulisan. Begitu juga sebaliknya dengan gaya penyampaian lainnya.

Saya pernah mengalami bagaimana sulitnya menyesuaikan diri berbagi ide di ruang siaran radio. Waktu itu saya dan mas Arief Maulana diundang salah satu universitas swasta di Surabaya untuk menjadi narasumber talkshow seputar pergaulan internet. Ternyata nggak mudah berbagi pikiran dengan siaran. Kita dituntut mampu merespons cepat terhadap pertanyaan pendengar yang seringkali di luar dugaan. Akhirnya saya berkesimpulan saya memang lebih cocok ngeblog saja daripada jadi jurkam. Hehehe.

Itulah beberapa alasan mengapa seseorang memutuskan nggak aktif ngeblog. Ketakutan memandang dunia blogging, jejaring sosial, forum di internet, mailing list, social network, dan pergaulan internet seharusnya tidak terjadi saat kita bisa bijak mengelola kehidupan pribadi di internet. Untuk itulah Anda perlu memahami tips menjaga privasi ketika aktif di jejaring sosial internet agar tidak menjadi korban kejahatan dengan latar belakang internet. Ayo kita ngeblog!

Enjoy blogging, enjoy writing!

48 Replies to “5 Penyebab Orang Tidak Memilih Blog Pribadi Sebagai Jurnal Harian Online”

  1. Bener Mas…Daripada update status(galau,sedih,bingung,senang) di jejaring sosial yang bersifat sementara, mendingan ditulis dildalam blog… lebih menarik dan menyenangkan…

  2. Itโ€™s scarce so that i can find some thing on the net that may be as exciting and remarkable mainly because everything you have below. Any page might be pretty, a image samples are good, combined with whatโ€™s way more, buy base which you’ll find about precisely what youโ€™re revealing. Youโ€™re definitely one at a million, done well!

  3. Attractive section of content. I just stumbled upon your website and in accession capital to assert that I get in fact enjoyed account your blog posts. Any way I will be subscribing to your augment and even I achievement you access consistently rapidly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *