Blog Commenting: Antara Spam, Seni Mengkritik dan Personal Branding

Membaca komentar pengunjung suatu blog, tak ubahnya menilai karakter tersembunyi yang dimiliki masing-masing orang. Dari gaya bahasa, susunan kata dan kesatuan arti kalimat dapat diketahui komentar Anda masuk kategori mana. Mau nyepam, mengkritisi atau membangun imej diri.

1. Komentar Spam

Komentar spam atau junk kerap ditinggalkan oleh mereka yang mengejar traffic blog dengan menebar jejak link ke sebanyak mungkin blog. Baik blog populer maupun blog merana. Sehingga muncul istilah blogwalking versus blogrunning.

Kalimat yang sering muncul adalah: terima kasih sharingnya, nice info gan, saya setuju dengan Anda, berkunjung mencari kawan, kunjungan perdana sobat, kunjungin balik ya dan bla… bla… bla… lainnya.

Jujur saja, saya muak membaca komentar begini. Menunjukkan seberapa dangkal pemahaman seseorang terhadap isi tulisn. Meski lolos dari Akismet, tetapi saya tidak men-delete komentar jenis ini. Saya menghargai usaha spammer yang mencari backlink.

Dengan meninggalkan komentar spam, sebenarnya Anda telah memberi label kepada diri sendiri. Ini lho diri saya si komentator tabrak lari. Kalau nggak kena black list saja sudah untung tuh orang.

Dongeng Anak Islami di Kabupaten Jombang
Dongeng Anak Islami di Kabupaten Jombang

2. Komentar Cerdas dan Kritis

Jenis kedua adalah komentar yang mengandung unsur seni dan pengamatan detail terhadap satu topik pembahasaan. Kalimat-kalimat yang ditulis bukan sekedar saya hello dan ucapan terima kasih, tetapi bisa memberi umpan balik yang  positif dalam mengkritisi konten artikel.

Yang namanya kritikan, bisa muncul dalam berbagai bentuk. Dari kritikan tajam, moderat, pertanyaan penjelas, hingga slengekan bisa menjadi input yang berguna dalam perbaikan tulisan. Inilah salah satu hal yang saya tunggu saat sebuah artikel dipublikasikan.

Dalam analog saya, kritik yang membangun adalah multivitamin. Sedangkan pujian adalah gula. Terlalu banyak mendapat pujian dan sanjungan yang membuat terlena, Anda berpeluang kena Diabetes Militus alias kencing manis. Sebaliknya, kritikan yang dilakukan secara kontinyu ibarat multivitamin yang mampu meng-cover daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

3. Komentar Untuk Membangun Personal Branding

Lain halnya jika Anda memanfaatkan komentar sebagai cara membangun personal branding sebagai modal membangun bisnis online . Kali ini anda tidak bisa bebas berekspresi. Ada batasan yang mengatur langkah Anda. Mau sedikit tertawa ngakak harus mikir ribuan kali. Mau gila-gilaan di fesbuk pasti mikir panjang. Prinsip kerjanya: laugh less, think more. Nggak ada waktu buat main-main.

Ketiga jenis komentar di atas masing-masing membawa konsekuensi. Mau nge-junk, mengkritisi tulisan dan berkomentar cerdas , semua ada imbalannya.

Contohnya, beberapa waktu lalu saya mendapat kritik dari mas Ahmad. Katanya saya sudah terlanjur punya blog dengan topik-topik serius, jadi dalam pemikirannya saya sudah nggak punya selera tertawa dalam berkomentar. Padahal saya juga manusia seperti Anda semua. Bisa ngakak dan tertawa lepas kalau menemukan hal-hal yang unik.

Memang, inilah salah satu resiko saya membangun imej blog serius. Kesannya too high sekali. Mau menyapa saya di YM jadi segan, komentar di fesbuk kesannya kaku. Actually, I’m not as flat as you think.

Bagaimana, apakah Anda mau nyepam artikel ini? Atau justru mau mengkritisi tulisan yang saya buat dengan terburu-buru ini? Monggo dikomentari gan.

5 Replies to “Blog Commenting: Antara Spam, Seni Mengkritik dan Personal Branding”

  1. wakakakak…kunjungan perdana boz..ditunggu kehadiranya…wakakakak…mau ketawa aja lah…berarti saya termasuk…
    saya ngeblog cuma iseng..jadi ya..’semau gue aje’ .. masih males ngeblog..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *