Blogger di Kursi Terdakwa

Masih dalam suasana ceria Lebaran, sebenarnya saya masih enggan menulis. Otak masih kepikiran menghabiskan stock makanan yang menumpuk di gudang. Belum lagi persiapan tampil habis-habisan untuk acara reuni kawan-kawan SMA. Hahaha.

Kali ini saya mau berbagi secuil moment yang terjadi sehari kemarin. Cerita bermula saat semua anggota kelurga besar berkumpul di ‘markas’ Bani Singo Karso, nama yang menyeramkan untuk sebuah keluarga besar yang cinta damai. 🙂

Seperti biasalah, kalau ketemu sesama cucu dan cicit yang lama nggak ketemu kan sukanya saling bertanya ini itu tentang pribadi masing-masing. Dan yang utama tentu saja masalah pekerjaan sehari-hari.

Sekilas saya memperhatikan kalau mereka bangga dengan profesi offline yang mereka jalani. Saya mengira suasana perbincangan bakal adem ayem nih. Dan saat dapat giliran berbicara, saya mengatakan kalau untuk jangka panjang saya akan menekuni dunia blogger dan bisnis online sebagai profesi utama.

Glek…! Pada umumnya mereka pada kaget mendengarnya. Iseng-iseng ada yang menyela: “Mau jualan SMUO ya mas? Nggak takut masuk penjara? Kan banyak tuh yang ketipu model MLM kayak gitu”

Saya sempat panik. Pertanyaan saudara sepupu saya yang lagi kuliah di STAN Jakarta itu membuat saya grogi juga. Dalam hati saya berkata, gileee… nama SMUO beken banget ya. Calon pegawai Depkeu aja akrab. Tapi kok asosiasinya ke hal negatif. Pakai nyangkut nama MLM pula. Ada yang harus diluruskan nih. Seketika itu jiwa blogger saya mulai bangun dari tidurnya.

Generalisasi Bisnis Online dan MLM

Tak diragukan lagi, masyarakat awam masih memandang sebelah mata keberadaan bisnis online dan MLM. Mereka lebih prefer menekuni bisnis konvensional dengan resiko kecil dan hasil yang pasti. Tradisi yang turun temurun terjadi adalah menjadi pegawai kantoran, PNS ataupun pegawai perusahaan negara yang memberi reward dana pensiun untuk menjamin kelangsungan hidup mereka di hari tua.

Saya sih nggak ambil pusing pilihan hidup mereka. Karena saya juga maklum setiap orang punya potensi dan kompetensi yang berbeda-beda sesuai bidang yang ditekuni. Yang saya sayangkan, mereka terlanjur gebyah uyah terhadap bisnis internet. Bahkan ada kawan saya menganggap SMUO sama halnya Tianshi, TVI Express, CNI dan beberapa jenis MLM lainnya.

Well, inilah fakta yang harus IM Indonesia hadapi. Tentang bagaimana menanamkan persepsi baik di mata masyarakat. Juga tentang membangun pondasi kepercayaan supaya para orang tua warisan ORBA nggak melarang anak gadis mereka menikah dengan blogger dan pebisnis internet. Ups! Kelepasan curcol nih. 😀

Nggak usah muluk-muluk menjadikan 100 persen masyarakat Indonesia mampu mengakses internet setiap hari lalu membaca dan memahami jargon-jargon bisnis yang Anda publikasikan. Sebagai pebisnis online yang punya etika, tidak selayaknya kita saling tuding mengenai penyebab keadaan ini. Perubahan itu mari dimulai dari kita masing-masing. Nggak usah tipu kanan tipu kiri untuk mendapatkan tujuan.

Karena yang saya khawatirkan kalau persepsi mereka terhadap bisnis internet makin buruk, bisa-bisa setiap kali orang mengucapkan kata blogger pun sudah dicap sedang menjalankan soft selling terhadap sebuah produk. Padahal sebagaimana Anda ketahui, blogger itu ada banyak macamnya. Dan tidak semuanya melulu money oriented.

Hmm, pertemuan dua hari ini sepertinya benar-benar menguji mental blogger saya. Tubuh saya serasa terlempar ke suasana kursi pesakitan yang sedang mengadili dan mengorek borok bisnis internet dengan berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya.

Bagaimana dengan Anda, apakah waktu kemarin berlebaran dengan saudara dan teman ada yang usil menyentil profesi blogger Anda? Mari dibagi disini.

Bagikan artikel ini melalui:

6 Replies to “Blogger di Kursi Terdakwa”

  1. Di mas Kus gak ada artikel baru. Di mas Agus sini juga gak ada. Ini para master pada kemana? apa sibuk bisnisnya ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *