Eksis di Jejaring Sosial, Bukan Berarti Jadi Bigos

Keberadaan situs jejaring social sangat berimbas kepada gaya penulisan para blogger. Menulis artikel blog bukan lagi seperti halnya menyusun proposal kerja sebuah proyek pembangunan gedung. Saat ini ngeblog lebih fleksibel dan tidak terpaku pada tata bahasa baku yang terasa mencekik leher. Blog pribadi benar-benar menjadi cerminan pribadi masing-masing blogger. Tiap blogger seolah berlomba-lomba menunjukkan sisi gue banget mereka.

Apa yang terjadi kemudian? Semakin longgarnya kebebasan menulis seolah mengaburkan kebenaran isi tulisan. Semakin jarang saya temukan artikel yang benar-benar murni dari pengolahan ide sendiri tanpa campur tangan jejaring social, dan… benar-benar fakta. Nggak masalah kalaupun Anda menulis berdasarkan chat via Facebook ataupun timeline Twitter. Namun itu bukan berarti Anda bebas menyebarkan psywar, kabar burung, gossip murahan ataupun info sejenis lainnya.

Fakta Itu Penting.

Sudah jelas bahwa fakta itu penting. Artikel yang ditulis berdasarkan bisik-bisik tetangga jelas bukan termasuk jenis tulisan yang bisa dipercaya kebenarannya. Pembaca saat ini makin pintar untuk berpikir rasional dan factual. Dan saya sendiri malas menanggapi artikel murahan yang seringkali menyudutkan seseorang (bukan hanya saya, tetapi orang lain juga). Saya lebih suka menyerahkan semua pada waktu yang berjalan.

Fakta Tidaklah Mencukupi.

Lalu berikutnya. Seringkali Anda tidak dapat meyakinkan seseorang hanya dengan fakta saja. Hanya dengan sebuah kalimat kebenaran, pembaca tidak akan begitu saja mau bergerak sesuai tujuan tersirat dalam artikel. Sesekali Anda harus menggunakan emosi untuk mengubah orang. Kalimat yang emosional (tapi bukan lebay) bertujuan memanusiakan pembaca sehingga mereka tanpa sadar akan terbawa dalam medan magnet tulisan.

Angka-angka Statistik Tidak Mudah Diingat Pembaca.

Salah satu alasan saya jarang dan hampir tidak pernah menampilkan data statistic adalah karena alasan ini. Pembaca jarang sekali melakukan scanning terhadap grafik, tabel, bangun ruang berbentuk lingkaran, kotak, polygon dan sebagainya. Kecuali saat riset dengan Google Keyword Tool, saya aja males kok menelitinya.

Pembaca Lebih Menyukai Gambar.

Daripada menampilkan angka-angka dalam bentuk statistic, saya cenderung memakai gambar-gambar penjelas (meski akhir-akhir ini malas browsing images). Kalau mau sedikit ribet, bisa kok data statistic Anda ubah menjadi gambar-gambar. Hal ini tentu lebih menarik dan membuat suasana lebih hidup. Apalagi kalau gambarnya sedikit β€˜menantang’, dijamin pembaca betah berlama-lama nongkrong di blog Anda.

Yahh, itulah yang bisa saya bagi kali ini. Aktif di jejaring social adalah salah satu konsekuensi logis era informasi. Justru kalau nggak pernah bersosial bisa membuat kita kuper dan kesulitan membangun komunitas. Namun sekali lagi, ini bukan berarti bahwa artikel blog menjadi tercampur aduk oleh kebiasaan ngakak bareng kawan-kawan disana.

Bagaimana pendapat Anda? Silakan dibagi disini.

38 Replies to “Eksis di Jejaring Sosial, Bukan Berarti Jadi Bigos”

  1. Yup, saya pun mungkin menerima imbasnya. Menulis jadi tak seprigel dulu, yg mampu melihat dari berbagai sudut pandang dan menyajikannya dengan pemaparan berstruktur.

    Kini, dengan twitter kita bisa melihat bagaimana kita secara tak langsung dipaksa ‘menyunat’ kalimat tanpa menghilangkan maksud dan inti pesan. 140 karakter doang jeck? πŸ˜€

    Dan kemudian seperti yg ditulis artikel di atas. Efeknya akan merembet pada penuangan fakta yang hanya berkiblat melulu fakta dari cuit2 di jejaring sosial. Jadi repot. Nah, betul itu, pembaca kini dah mulai kritis kok. Ngga tau klo yg blogwalker murni πŸ˜€

    Setuju juga, picture talks louder than words πŸ™‚

    1. kasus saya hampir sama dengan kang darin. tapi artikel ini seakan mengingatkan kita kembali pada kodratnya. πŸ™‚

      semoga walaupun hidup di blogosphere dan sosnet semoga kita dapat tetap memilah bahasa dan penyajian yang tepat. nah, saya lagi belajar ke arah sana πŸ™‚

    2. kalau saya sendiri menyiasati hal ini dengan membuat blog baru di Agus Siswoyo.Net Disitu saya bisa curhat sebebas-bebasnya tanpa perlu khawatir di komplain pembaca. hehehe.

  2. Makasih sharingnya Mas…
    Ilmu2 seperti inilah yang justru cepet nambah wawasan dan membuka pemikiran baru.
    Salam!

  3. Pembaca jarang sekali melakukan scanning terhadap grafik, tabel, bangun ruang berbentuk lingkaran, kotak, polygon dan sebagainya.

    Menurut saya, justru penyajian grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya itu berfungsi untuk mempermudah ‘scanning’ atau membaca cepat. Itulah fungsi utama grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya. Dalam hal ini yaitu untuk meringkas penyajian data/fakta. Membuat data tersebut lebih mudah dibaca.

    Bayangkan saja kalau semua itu kita tulis dalam bentuk paragraf/tulisan. Pembaca akan lebih susah memindainya πŸ˜€

    Selebihnya saya setuju mas.

    1. ada benarnya juga komen mas Is. untuk blog dengan topik tertentu (misalnya akuntansi, indeks keuangan, kimia dll) keberadaan gambar sangat membantu menjelaskan pemikiran.

  4. Oya, satu lagi. Penyajian data/fakta dalam bentuk tabel, grafik, diagram dan sejenisnya akan membuat kumpulan data lebih terstruktur dengan baik (karena dikelompokkan dalam satu bingkai). Begitu pula dengan penyajian ‘screenshot’. Fungsinya untuk mempermudah pemahaman pembaca.

    1. Kalau boleh menambahkan mas Is, penulisan dengan menambahkan gambar mindmapping akan sangat membantu pembaca untuk memahami tulisan kita secara utuh, tidak terpotong-potong. Meskipun ini sangat cocok untuk pelajaran disekolah namun tidak menutup kemungkinan diterapkan dalam segala tulisan.

      Tulisan mas Agus ini memang mewakili apa yang dirasakan blogger saat ini. Mereka diasyikkan dengan kemudahan dan efektivitas penggunaan jejaring sosial yang mampu menyajikan info2 baru dengan cepat..

      1. waduh kok salah nama, mohon maaf mas Agus.. ralat…

        Tulisan mas Agus Siswoyo ini memang mewakili apa yang dirasakan blogger saat ini. Mereka diasyikkan dengan kemudahan dan efektivitas penggunaan jejaring sosial yang mampu menyajikan info2 baru dengan cepat..

      2. Gambar mindmapping? Bukankah itu hanya cocok untuk jenis/topik tulisan tertentu saja mas? Terutama yang membahas teknik pemetaan pikiran atau pemetaan ide.

        1. Saya setuju bro bahwa untuk gambar mindmapping hanya cocok untuk topik tertentu… Bahkan menurut saya ngga banyak topik tulisan yang bisa menggunakan gambar mindmapping.

  5. Tapi saya semakin sering update status twitter, nulis di blog kok jadi makin panjang ya? Mungkin gara2 di twitter gak bisa ngomong banyak.. hehehe.. Akhirnya pelampiasannya di blog πŸ˜›

  6. keaktifan saya di jejaring sosial (Fb 1 th, Tw 1 bln) jarang update, jadi belum tahu efek terhadap penulisan (blog 1,5 bln) hehe

  7. I am about to start a blog. Along with many other hopeful’s, I hope to eventually make money off it. I noticed a lot of sites do not allow you to make money of google ad sense and things like that. What are some sites I can start my blog on that will allow this since it seems to be the most profitable way to make money off a blog?.

  8. I’m creating a new blog about literature ( what I’ve read, what I’m reading), but I’m having trouble thinking of a title. I like the idea of something having to do with an obsession with literature but I think bookophilia is on the average side. What do you think of Litophilia? Is it too similar to “lithophilia” Which means the love of stones? Any ideas? Thanks!.

  9. I’ve been exploring for a little bit for any high quality articles or blog posts on this sort of area . Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this web site. Reading this information So i am happy to convey that I have a very good uncanny feeling I discovered just what I needed. I most certainly will make sure to do not forget this site and give it a look regularly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *