Jangan Panggil Aku Seleblogger

Ya. Jangan panggil aku seleblogger. Itulah yang ingin saya katakan saat ini. Ini adalah jawaban sekaligus klarifikasi pertanyaan beberapa kawan di timeland Twitter. Sebentar, sebelum saya meneruskan menulis, saya ingin menata emosi dulu. Saya ingin artikel ini tetap obyektif dan tidak menimbulkan salah pengertian diantara kawan-kawan blogger lain.

Seleblogger, satu kata yang dianggap keramat oleh para pendatang baru dunia blogging. Mereka berlomba-lomba ngeksis demi mendapatkan label ini. Dari blogwalking, aktif di Facebook ataupun berkicau di Twitter. Akibatnya bisa diterka. Seolah label seleblogger identik dengan kata ‘selalu online’ menyapa penggemar.

Kesalahan Memilih Judul Free Ebook.

Saya akui, saya turut andil dalam hal ‘menjerumuskan’ tingkah laku kawan-kawan blogger saat membuat free ebook dengan judul 3 Langkah Menjadi Seleblogger. Berkat bantuan kawan-kawan IM senior, ebook ini mendapat sambutan meriah dari para newbie. Terakhir saya lihat ebook ini telah di download sekitar dua ribu kali.

Waktu itu saya tidak memperhitungkan efek pemilihan judul ebook. Memang sih judulnya menarik. Namun pemahaman yang dangkal atas judul tersebut menciptakan salah persepsi dan sedikit meracuni pikiran mereka. Sorry to say, saya sebenarnya risih kalau ada blogger yang nggak punya pendirian dan seolah cari muka di hadapan blogger lain.

Popularitas Membentuk Personal Branding

Apakah saya anti popularitas? Tidak. Saya tetap berkeyakinan bahwa popularitas tetap dibutuhkan bagi seorang Internet Marketer dalam hal mempromosikan produknya. Siapa sih yang mau beli ebook yang dijual marketer dari negeri antah berantah? Prospek sekarang makin cerdas dan nggak mau tertipu janji-janji kaya mendadak dari internet. Paling tidak, prospek harus tahu latar belakang marketer dan riwayat bisnis online yang pernah ditekuni.

Dalam hal ini popularitas bermanfaat mempengaruhi perilaku prospek untuk segera membeli produk. Contohnya Sandra Dewi yang demikian gampang jualan shampoo hingga laris manis dan bikin ngiri produk kompetitor. Keadaan yang berbeda akan terjadi bila mpok Nori yang melakukannya.

Re-branding dan Revisi Ebook

Nah, saya mempunyai tanggungjawab pribadi untuk mengembalikan citra blogging sebagaimana mestinya. Paling tidak, kawan-kawan yang sudah terlanjur membaca free ebook tersebut tidak terjebak pada pemikiran sempit memaknai seleblogger. Menjadi tenar bukanlah tolak ukur keberhasilan ngeblog. Itu saja intinya.

Saya lebih setuju komentar mas Darin tentang profitable blogger sebagai pengganti kosakata seleblogger. Profitable blogger mengacu kepada tingkah laku blogger yang mampu memberi manfaat bagi ‘alam’ yang ditinggali. Misalnya berupa artikel informatif, konsultasi via YM, diskusi di timeland dan lain-lain.

Oh ya, sebentar lagi file free ebook tersebut mau saya hapus. Kalau tidak ada halangan, awal tahun depan akan saya revisi total materi ebook. Kalau ada yang mau memberi saran gimana baiknya, silakan sharing di kolom komentar. Selamat tinggal seleblogger!

Enjoy blogging, enjoy writing!

68 Replies to “Jangan Panggil Aku Seleblogger”

      1. Baiklah Mas, tahun 2011 kita deklarasikan sebagai tahunnya Profitable – Blogger. semoga banyak yang bisa bisa mendapatkan profit ditahun tersebut. dan semoga teman teman sesama blogger bisa lebih menghasilkan karya karya yang mencerdaskan bangsa..

  1. Ini kayak di dunia nyata Mas…
    Ada sebagian orang yang suka manggil orang lain dengan “Boss”. Kalau yg dipanggil itu Boss beneran sich nggak apa2. Tapi kalau sak ketemune uwong trus semua disapa Boss, agak risih juga. Dikit2 “Piye Boss”.
    Yang lucu lagi malah Tukang Sulap kita itu.
    Kok tega2nya memproklamirkan dirinya sendiri sebagai master.
    Ada Master mentalis, ada master hipnotis…

    1. yaa… itulah faktanya Pak. teknologi dan materialisme menciptakan fenomena banyak orang jadi narsis dan gila ketenaran.

  2. Saya sih mendukung saja mas (jika ingin merevisi ebook tersebut). Sepertinya kata ‘seleblogger’ memang bermasalah. Bagi saya, kesuksesan sebuah blog lebih diukur dari perkembangan trafik harian yang terjadi. Kalo selama berbulan-bulan mentok di angka belasan per hari atau tidak pernah beranjak di bawah 50an, berarti kurang berkembang.

    Tapi trafik bukan prioritas sebenarnya (untuk pemula). Yang paling penting yaitu bagaimana menemukan karakter blog kita. Termasuk karakter tulisan-tulisan atau posting-posting yang kita buat.

    1. kalau sudah dapat limpahan trafik, apa mas Is nggak terpikir untuk meng-konversi-kan menjadi uang?

      *pertanyaan iseng*

      1. Jelas kepikiran dong πŸ˜†

        Tapi sejauh ini trafik harian blog saya baru berkisar 100-an per hari. Masih sangat kecil untuk dimonetisasi.

        1. Kalau 100-an per hari yang dimaksud ini blog KafeGue, setahu saya kalau saya berkunjung dan melihat widget statistiknya bukankah sudah diatas 200 pengunjung per hari, Mas Is? Atau ini blog yang lain?

          1. Yang 100-an per hari itu blog KafeGue Pak. Kalo yang 200-an per hari itu blog saya yang satunya lagi (kafe28.blogspot).

  3. saya termasuk yang membaca e-booknya dan mereviewnya, tapi bagi yang baru nge-blog seperti saya paling tidak dapat tantangan untuk semangat dalam menulis, mungkin judulnya saja yang diganti kalo materinya saya kira masih oke.
    Setuju dengan pendapat mas Iskandaria, artinya kalo blog stagnan tidak lebih bagus dari blog baru tapi traffic meningkat.

  4. Seleblogger juga ndak masalah kok. Justru profitable – blogger itu tanggung jawabnya makin besar. Kalau seleblogger kan yang penting banyak yang kenal dan tahu udah beres πŸ™‚

    1. πŸ™‚ saya kok setuju ya dengan mas lutvi, Kata ‘profit’ malah lebih mengedepankan pendapatan, ya walau maksud mas agus mungkin ‘berguna’, saya takut ke depan blogging hanya disebut sebagai sebauah pekerjaan yang menghasilkan uang, bukan sebagai media sharing.

      Ya apapun itu tentu persepsi orang berbeda tapi ada beberapa kata yang membuat pikiran seorang manusia sempit.

      Apapun judulnya kalu yang nulis mas Agus mah ga ada matinya :-D, saya do’akan smeakin baik mas,

  5. pada posting kali ini engga bisa bilang apa-apa. karena memang udah di bahas di twitter kemaren. πŸ™‚
    di tunggu revisi ebooknya sekalian mo tahu seperti apa perubahan yang akan diambil oleh mas agus πŸ™‚

  6. Sebenarnya ga usah kuatir mas. Sematan seleblogger kan semata julukan dari penikmat/pengunjung blog, jadi bukan kita sendiri yang bikin2 hehe

    Yang jadi masalah ya itu tadi, yang dicap seleblogger kadang risih karena di saat bersosialisasi jadi ada ‘tingkatan kasta’, salah satu yg sangat jauh dari ideologi pun pasal-pasal di blogosphere (apaan sih?). Padahal kenyataan kalau sudah online, semua orang punya kesempatan yang sama, toh ngga ada diskriminasi. Mana bisa sebuah situs hanya bisa dibuka sama seorang seleblogger, sedang yg lainnya ga boleh? Non sense kan?

    Bergeser ke profitable blogger, naah ini yg saya suka. Wajar aja, karena ini pemikiran setelah hampir 2 tahun saya ngeblog, ternyata ya isinya muter2 ga keruan hahaha.

    Bagi saya, kita semua adalah seleb bagi blog kita sendiri. Dan bila itu sudah melekat, profitable blogger bisa jadi pilihan yg bagus, karena bagaimanapun sepintar-pintarnya seleb merawat diri, ia pun akan menua dan tak lagi populer dipandang media.

    Get rocks!

  7. Seleb tidaknya suatu blog kan pengunjung juga yang akan menentukan,kalau menjadi selebblogger bisa bikin terkenal di dunia blogosphere mengapa tidak.Percuma saja kalau ngaku-ngaku selebblogger tetapi blognya tak sesuai harapan untuk menjadi selebblogger.

    Pemilik blog adalah seleb di blognya sendiri dan orang lain/pengunjunglah yang berhak menentukan penulis blog ini layak nggak dijadikan seleb blogger πŸ™‚

    1. mungkin perlu ada lembaga statistik khusus menyeleksi blogger kali ya biar ketahuan mana yang ngeblog mana yang nggak… πŸ™‚

  8. Saya “mah” penasaran ama hasil revisi ebook tersebut πŸ™‚
    Jadinya “sim kuring” termasuk orang yang menunggu terbitnya kembali ebook hasil revisinya πŸ˜€

    1. biar nggak penasaran, gimana kalau mas Erdien yang jadi editor ebook saya nanti. proyek amal dan bermanfaat. ini serius lho.

  9. Wah, saya malah ketinggalan belum pernah baca ebook Mas Agus Siswoyo itu. Jadi penasaran kayak gimana ebooknya.

    Kalau saya, sih pemahaman untuk selebblogger itu ada dua. Yang pertama, seleb yang sebelum ngeblog memang seleb (artis). Kedua, blogger yang karena kepopulerannya di internet sehingga mirip seperti ikan besar yang dikelilingi oleh banyak ikan kecil di sekitarnya. Tak ubahnya seperti artis yang dikerubuti oleh penggemarnya. Entah ini diakui atau tidak oleh bloggernya, yang jelas begitulah selebblogger dalam kaca mata saya.

    1. untuk kasus yang saya alami, mungkin persilangan kedua hal tersebut. udah nggak ngetop tapi pengen dikerubutin penggemar. hahaha…

  10. Padahal gara-gara ebook seleblogger itu saya jadi semangat nulis diblog bahkan berdasar cerita mas agus yang berani beli domain, saya juga jadi berani beli domain…tapi tetap saya dukung mas buat ebook selanjutnya…

    Ntar kira-kira apa ya namanya…?3 langkah menjadi master agus mungkin he3x…(pernyataan iseng mas..he3x)

  11. mungkin judul jangan diganti mas. Tujuannya untuk menciptakan ketertarikan orang untuk download. Sebagaimana peranan headline.

    Hanya saja isi di dalam ebook bisa ditambahkan atau diberi penekanan pada nilai-nilai yang menunjukkan bahwa “ketenaran” seperti apa yang seharusnya. Bukan asal tenar karbitan.

    Beban mengganti ebook menjadi Profitable Blogger, seperti kata Mas Lutvi cukup berat. Saya lebih suka ini jadi ebook sekuel mas Agus. Jadi ada kelanjutannya. Setelah menjadi selebblogger maka nect step, profitable blogger.

    This is my opinion. Sory klo kepanjangan πŸ™‚

    1. Setuju dgn mas arif, karena bagaimanapun hubungan antara seleb dan profit bisa diputarbalikkan. Konsep seleb dulu lalu menjadi profit, atau mendulang profit yang kemudian mendadak seleb. That’s logic πŸ™‚

    2. bikin sekuel? kayak Harry Poetter gitu ya? hehehe… πŸ™‚

      menarik juga idenya. masalahnya, kalau mau bikin sekuel harus punya dasar yang kokoh dulu. artinya nanti ada dua PR: revisi ebook lama dan bikin ebook baru. semoga waktunya nututi. hehehe.

  12. saya dulu waktu masih kerja di warnet, pernah juga mendapat sebutan seleblogger dari beberapa sahabat blogger karena keaktifan saya di dunia blogging, g pagi, siang malam dan hampir tiap hari sll online, tp saya pribadi terlalu berat u/ aq sandang bahkan semalem saya ketemu sahabat lama di FB, mp bilang wah mas ris dah jarang BW nih, padahal dulu aktif bgt, maklum namanya roda kan kadang di bawah kadang diatas, dulu kan kerja di warnet jd waktu buat OL lebih banyak dan sekarang saya jd bklogger serabutan ngeblog berdasarkan doku, he…. he…. kok jd curhat gini yah

    1. nggak apa-apa kok curhat disini. saya justru prihatin kalau sekarang mas Rizky nggak bisa ngeblog secara teratur. padahal eman-eman dulu sudah susah payah bangun branding.

  13. seperti sebuah curahan hati mas agus nih πŸ˜€
    uia saya belumpuny materinya mas…
    jadi saya blm bisa memberikan nilai revisi…. πŸ˜€

  14. I had got a dream to begin my organization, nevertheless I did not have got enough of cash to do this. Thank goodness my friend told to use the . Hence I used the term loan and made real my old dream.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *