Kanibalisme Bahasa Nasional Terhadap Bahasa Daerah

Bahasa daerah (bahasa ibu) terancam punah akibat jarang dipakai dan gengsi memakai bahasa Nasional dan Internasional. Diperkirakan hanya 10 persen bahasa daerah yang akan tersisa pada abad ke-21.

Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono, menyatakan bahwa keberadaan bahasa daerah di Indonesia hampir punah. Kabar ini terdengar sungguh memprihatinkan. Hal tersebut diberitakan oleh VOA Indonesia pada 23 Septeber 2011 yang menulis bahwa menjelang berakhirnya abad 21 ini terdapat kurang lebih 90 persen bahasa daerah yang punah akibat jarang dipakai. Sebaliknya, tersisa hanya 10 persen bahasa daerah yang masih digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Beberapa faktor yang menyebabkan minimnya frekuensi penggunaan bahasa daerah dalam percakapan penduduk adalah karena kegiatan urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota), perkawinan antar etnis, peperangan, bencana alam, dan rasa gengsi. Masih menurut Sugiyono, dari beberapa penyebab punahnya bahasa daerah, faktor urbanisasi dan pernikahan antar etnis menjadi penyebab terbesar mengapa orang warga Indonesia jarang menggunakan bahasa asalnya.

Dalam prakteknya kita sering menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan dengan beragam warga pendatang di ibukota. Hal ini sesuai dengan anjuran Pemerintah untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Anjuran secara tertulis penggunaan bahasa Indonesia juga didukung oleh poin ketiga Sumpah Pemuda. Penggunaan bahasa Indonesia relatif membantu komunikasi antar etnis sehingga meminimalkan terjadinya salah tafsir.

Bahasa Nasional Versus Bahasa Daerah
Bahasa Nasional Versus Bahasa Daerah

Mendokumentasikan Bahasa Daerah

Data yang dipaparkan oleh Sugiyono menyatakan bahwa saat ini terdapat 746 bahasa daerah di Indonesia. Perkembangan pergaulan modern dan tingginya angka mobilitas penduduk menghasilkan seleksi alam terhadap bahasa yang mampu bertahan untuk tetap dipakai tersisa 75 bahasa. 746 bahasa yang terdapat dalam kebudayaan Indonesia tersebar di seluruh wilayah NKRI mulai dari Sabang sampai Merauke, kecuali Timor Timur tentunya.

Uniknya, dari sekian banyak bahasa daerah yang ada, hanya 9 bahasa yang mempunyai sistem aksara. Bahasa tersebut adalah Jawa, Melayu, Aceh, Lampung, Batak, Bugis, Bali, Sasak, dan Sunda. Bagaimana dengan sisanya? Selain 9 bahasa tersebut, umumnya pengajaran bahasa dilakukan secara lisan. Oleh karena itu, kita perlu mengambil langkah dokumentasi supaya bahasa ibu tidak hilang. Misalnya dengan meng-upload video percakapan bahasa daerah di situs Youtube.

Sedangkan dari pihak Pemerintah, usaha Kemendiknas untuk menjaga agar budaya berbahasa daerah tetap terjaga dilakukan dengan beragam cara. Misalnya dengan mengumpulkan kosa kata bahasa ibu, merekam percakapan bahasa daerah, dan melaksanakan festival seni budaya. Dengan hadirnya acara tersebut, diharapkan mampu membangkitkan kembali suasana kedaerahan yang sempat terlupa. Pemerintah juga menyarankan agar orang tua mengajarkan anak memakai bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari di rumah.

Blogger pun memiliki peran penting dalam usaha menjaga kelestarian bahasa ibu. Kadang saya jumpai terdapat beberapa blog yang menulis dengan bahasa Jawa, Bali, Sunda, maupun bahasa lain dalam posting blog. Mungkin hanya sebagian kecil pembaca yang mampu memahami isi tulisan, namun tanpa disadari seorang blogger telah ikut mendokumentasikan bahasa daerah asalnya. Atau jangan-jangan kita memang sudah tidak butuh keberadaan bahasa daerah?

Monggo poro sederek ingkang nggadhah paguneman enggal-enggal ninggalaken komentar. Mikul dhuwur mendhen jero budoyo kito.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

50 thoughts on “Kanibalisme Bahasa Nasional Terhadap Bahasa Daerah”

  1. Assalamu’alaykum…

    Betul juga mas, ada beberapa bahasa ibu yang terancam punah, karena interaksi antar budaya dan bahasa itu sendiri mas dan sesuai juga sih dengan judul posting ini “kanibalisme bahasa nasional terhadap bahasa daerah”..

    paleng sesok putu putu kito wes ora podo isi boso jowo maneh….

  2. Bahasa daerah memang patut untuk di lestarikan. Tapi saya kadang merasa risih dan gak enak juga mendengar banyak teman saya bercakap-cakap pakai bahasa daerah masing2 di tempat umum. Kayaknya kurang sopan! πŸ˜€

  3. mas kalau up load percakapan bahasa daerah di Youtube di jamin tidak ada pengunjung, beda dengan dengan lagu seperti bobtu Norman meki orang tidak mengerti bahasa india karena sifatnya menghibur banyak pengunjungnya,

  4. tapi di harapkan juga ada kepedulian dari pemerintah dengan cara bahasa daerah jadi pelajaran wajib di sekolah-sekolah mulai SD s. d. SMA

  5. Betul sekali tuh .. dulu waktu masih SD sepertinya ada pelajaran bahasa daerah dah, tp sekarang ??? Bisa-bisa bahasa daerah kita di klaim sama negara lain sebagai bahasa mereka …. “tragis” …
    Monggo mas … ditunggu lawatannya.

  6. Betul juga ya, kelestarian bahasa daerah seharusnya dijaga. Kebetulan saya keturunan jawa, tapi 18 tahun di Kaltim sehingga bahasa daerah yang kadang saya gunakan bahasa banjar dan paser. Memang seharusnya dilestarikan sebagai warisan termahal dari Indonesia.

  7. Blogger itu banyak atau sedikit,selalu berpengaruh dengan bahasa.
    Mempengaruhi bahkan kadang memperkaya bahasa..

  8. Agak OOT mas, yang saya dengar dari kontributor Wikipedia asal Solo. Beberapa Wiki yang ditulis dengan bahasa daerah sudah berada di ujung tanduk. Selain kontributor-nya sudah makin menipis, minat pengembangan Wiki dengan bahasa daerah itu juga terancam dihentikan. πŸ™

    1. nah, ini dia yang perlu kita bahas lebih lanjut. waktu saya bikin blog the jombang taste maksudnya pengen bahas bahasa daerah. tapi respon teman-teman nggak ada yang menarik. mau nggak mau saya tambahi pakai topik-topik populer. πŸ™‚

  9. setahu saya masih kok kalau bahasa daerah mas agus. tapi kalau tulisan daerah itu yang sekiranya benar tinggal 10%. Bahasa itu meniru. tanpa perlu tahu kosa kata asalkan meniru orang yang berbicara bahasa indonesia, itu sudah dipastikan bisa. asal rutin melakukannya. sedangkan berbeda dengan tulisan yang memiliki teknik menulis berbeda setiap daerah. ya, semoga tidak punah.

    1. kalau dipakai secara lisan sih mungkin masih banyak. tapi kalau tertulis belum tentu. bahayanya kalau dokumentasi tertulis nggak ada, maka bisa mengancam kelestarian bahasa. lha kalau sumber orannya tidak ada, cari sumber kemana lagi? πŸ™‚

  10. Menurut para pakar kajian bahasa, pelestarian bahasa sangat tidak memadai jika hanya melalui penyajian bahasa daerah sebagai mata pelajaran. Diperlukan juga penggunaan bahsa daerah sebagai pengantar di pendidikan dasar. Juga diperlukan penggunaan bahasa daerah di media massa. Tidak kalah pentingnya, penggunaan bahasa daerah di ranah pemerintahan lokal, umpamanya di tingkat kelurahan pada zaman dulu. Paling penting menjaga agar bahasa daerah tetap dipakai di rumah tangga dan komunitas. Namun, tanpa upaya yang lainnya (seperti penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar, di media massa, dan di ranah pemerintahan), bahasa daerah akan dipandangg kurang berguna oleh penuturnya. Inilah, agaknya, yang menyebabkan, banyak orang tua, khususnya usia muda, yang meninggalkan bahasa daerah dan menggunakan bahasa Indonesia kepada putra-putrinya, karena merasa bahasa Indonesia lebih menjanjikan. Sekarang ini bahasa daerah hanya disajikan sebagai mata pelajaran. Tanpa disertai upaya lainnya, mungkin upaya pelestarian bahasa daerah in bakal sangat sulit tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *