Kapan Waktu Yang Tepat Berhenti Menjadi Blogger Murni

Blogger murni ibarat tenaga sukarelawan dalam musibah bencana alam. Keberadaannya penting dalam upaya memberi kontribusi bagi komunitas yang ditempati, membantu orang lain, mendapatkan aktualisasi diri dan menjaga keseimbangan iklim blogosphere. Paling tidak, bisa mengimbangi upaya monetisasi habis-habisan yang dilakukan blogger profesional saat Β ini.

Tapi yang terjadi adalah kelelahan secara fisik, mental dan menguras isi kantong. Coba jawab: benar atau benar? Apakah mentang-mentang saya sudah bergabung dalam pengelolaan bisnis affiliasi lantas saya anti pada blogger murni? Tidak. Saya tidak sedang memprovokasi siapapun untuk meninggalkan profesi blogger sukarelawan.

Okelah jika memang faktor sharing menjadi pilihan Anda. Namun kebaikan yang tidak terkelola dengan baik, biasanya dapat dengan mudah dihancurkan kejahatan yang dikelola dengan baik. Hargailah setiap tindakan Anda sehingga mampu meminimalkan kerugian di kedua belah pihak. Jika memang hobi Anda menulis, maka berkreasilah sehingga tulisan itu bisa mencukupi kebutuhan Anda.

kapan waktu yang tepat untuk berhenti menjadi blogger murni

Berikut ini beberapa hal yang patut dipikirkan untuk tetap menjadi blogger murni atau sebaliknya.

1. Hindari memaksakan diri menjadi sukarelawan blogger jika tidak punya penghasilan yang mendukung aktifitas blogging.

Jika saat ini Anda tidak punya dana cukup untuk mewujudkan aktifitas sosial, ya nggak usah memaksakan diri. Ngeblog itu butuh dana, kecuali yang gratisan. Akan lebih bijak kalau mendahulukan kebutuhan primer untuk kepentingan anak, isteri dan keluarga. Kalau ada sedikit kelebihan dana, baru deh bisa ditabung secara berkala sampai mencukupi budget yang dianggarkan.

2. Berhentilah menawarkan bantuan jika tidak punya waktu.

Saya percaya bahwa disiplin waktu merupakan salah satu kunci sukses setiap profesional blogger. Waktu juga menjadi modal utama sebagian besar freelancer melaksanakan project. Kesalahan menentukan prioritas langkah bisa mengacaukan beberapa langkah selanjutnya. Kalau memang tidak punya waktu untuk mengerjakan ya jangan dipaksakan. Ingat hukum sunnah muakad (pilihan wajib) dan sunnah ghoiru muakad (pilihan bebas bersyarat)? Seperti itulah gambarannya.

3. Jadilah diri sendiri dan jangan mengikuti trend yang sedang berkembang.

Lingkungan memang berpengaruh kuat pada tingkah laku seseorang. Apa yang dilakukan kawan sebelah, sangat mungkin menular kepada Anda. Sayangnya setiap orang memiliki kebutuhan hidup yang berbeda-beda, sehingga tidak etis kalau melakukan generalisir satu sama lain. Yang lebih tahu apa yang harus Anda lakukan ya Anda sendiri. Just be yourself ajalah.

4. Pertimbangkan beberapa hal yang bersifat kondisional dan mendesak dipenuhi.

Ada waktu dalam hidup Anda yang memaksa untuk tidak melakukan aktifitas sharing melalui blog. Misalnya: sedang sakit, menunggui keluarga sakit, bepergian, melahirkan dan sebagainya. Meskipun tagline ini motivasi blogging, kalau saya berada dalam keadaan demikian pasti akan memilih break sebentar. Nggak masalah. Telat update blog nggak kena hukum pidana kok.

5. Hati-hati membantu permasalahan yang bisa menyebabkan masalah lain.

Punya blog dengan konsistensi limpahan informasi biasanya akan menjadi rujukan blogger pemula saat mereka mendapatkan masalah. Membantu sih boleh saja. Tapi harus tahu juga mana masalah yang bisa selesai sekali tebas, mana masalah yang akan berimbas pada munculnya rentetan masalah lainnya. Apalagi bila masalah tersebut menyeret Anda pada hal-hal destruktif dan ruwet. Pergi jauh ke laut aja loe!

Hati nurani nggak pernah bohong. Saat Anda mulai memasuki jalur yang salah, ia akan menyampaikan pesan kepada otak. Anda hanya perlu melatih kepekaan supaya pesan tersebut dapat ditanggapi dengan tepat dan tepat. Selamat memilih.

Enjoy blogging, enjoy writing!

 

58 Replies to “Kapan Waktu Yang Tepat Berhenti Menjadi Blogger Murni”

  1. itu bener tulisannya. benar atau benar? jadi keki saya jawabnya saking engga ada pilihan πŸ˜€

    iya juga sih engga selamanya kita terus2an jadi blogger sukarelawan kecuali memang sudah tajir banget atau punya dana asuransi hari tua berlimpah.

    1. yang saya pakai diatas adalah pertanyaan retoris. sebenarnya kita semua sudah tahu jawabnya. πŸ™‚

      semoga habis baca artikel ini kang Andi makin semangat mempromosikan produk CafeBisnis. hehehe.
      matre: detected πŸ˜€

  2. Kita perlu dewasa dlm aktivitas blogging. Jgn lantas mengorbankan segalanya yg lebih real di dunia nyata.

    Lepas dari itu, semua ada baiknya di awal tidak memperhitungkan untung dulu. Ngeblog ya ngeblog dulu lah… Baru pelan2 dimanaje dengan baik agar lebih optimal

  3. selera ngeblog setiap orang memang beda2 mas hehehe.. (aku dah pengen tutup blog mashengky, tapi sayang juga, nanti fans berat pada kehilangan tulisanku)

  4. Saya sebenarnya udah gatel pengen memonetisasi blog. Dalam waktu dekat mungkin saya akan membuka keran monetisasi. Masih dalam perencanaan membuat sales letter untuk halaman penawaran khususnya πŸ˜‰

  5. Jujur seandainya saya disuruh memilih saya akan memilih melakukan klagenan blogging saya dengan tetap ngeblog murni tapi juga dapat uang dari hobi menulis itu. Namun kalau bisa kenapa tidak dipisahkan antara menulis karena hobi dengan menulis untuk kepentingan komersial itu? Karena sesuatu yang komersial sering mengkesampingkan nurani. Benar tidak, Mas Agus?

    Jalan tengahnya, buat minimal dua blog yang memisahkan keduanya. Ini sama seperti usaha korporasi yang di satu sisi berusaha mengeruk profit sebesar-besarnya namun di sisi lain juga buang duit untuk menyumbang atau menyisihkan sebagian profit korporasinya untuk kegiatan sosial.

    Dan saya lihat semua korporasi besar rata-rata melakukan itu. Sekarang pertanyaan saya: Kenapa blogger tidak mencoba seperti itu? Jadi biar jelas.

    Sedikit saya mengutip pernyataan wartawan senior Andreas Harsono dalam buku Jurnalisme Sastrawi yang sedikit berhubungan dengan hal ini. Di buku itu dia mengktitisi wartawan kita dengan mengatakan katanya sedikit sulit untuk membedakan pada media kita, mana yang iklan dan mana yang tidak karena iklan campur-aduk dengan muatan redaksional. Disebut Advertorial, gabungan kata Advertisement dan Editorial dan wartawan kita lebih dianggap kuli daripada orang kreatif, katanya.

    1. saya baru sadar sudah menjalankan apa yang Pak Joko tulis. πŸ™‚ waktu saya membuat website http://www.agussiswoyo.net awalnya cuma ingin mengamankan domain. ternyata asyik juga untuk alat curhat dan nulis-nulis topik yang nggak mungkin saya bahas disini.

  6. Nasihat yang keren Mas, terutama untuk poin ini Namun kebaikan yang tidak terkelola dengan baik, biasanya dapat dengan mudah dihancurkan kejahatan yang dikelola dengan baik. πŸ˜€

  7. Untuk blog personal, idealnya kalau pasang iklan ya yang relevan dengan konten. Begitu juga dari pemasang iklan, pasti memilih konten blog yang relevan, mengambil asumsi bahwa mereka blog tersebut dikunjungi oleh orang-orang yang juga relevan dengan produk yang diiklankan.

    Saya lihat blog-blog lokal tentang monetisasi berisi iklan-iklan tentang SMUO, affiliasi, arisan berantai dan semacamnya. bahkan di blognya Cosa, saya pernah menjumpai iklan obat kuat yang dikombinasikan dengan affiliasi — What the Hell??

    Kalau mau menjadi blogger yang baik, posisikan iklan itu tidak mengganggu usabilitas, ramah & tidak ofensif, tidak menipu, relevan sehingga orang tidak segan untuk sekedar melihatnya.

    BTW, perhatikan juga desainnya. Saya lihat banyak iklan banner yang desainnya jelek, ngasal, ngawur, dan yang lebih buruk, bergerak-gerak tidak karuan bikin pusing kepala. Konon, desain yang jelek bisa memicu stress dan memperpendek usia loh… πŸ˜‰

  8. setuju dg pak joko.

    Sebaiknya lebih bijak dalam membndingkan, apalagi sisi keuangan. Ngeblog eksis, tp bwt makan aja bingung.
    Makanya kadang bagi bloger pemula (like me), artikel2 juga masih sering disisipi link iklan.

  9. Wah mas agus, artikelnya inisiatif banget ne.. dan kebetulan sangat cocok dengan kondisi saya yang saat ini lagi dilanda ngeblog angin2an… he..he..

  10. tetep milih yang gratisan dulu…nanti kalau sudah mumpuni, baik ilmu atau pun finansial mendukung modal, barulah pindah ke blog berbayar… step by step bukankah begitu, kangmas Agus? πŸ˜€

  11. saya seh.. baru belajar ngeblok, yang penting buat saya, saya bisa menyalurkan hobi menulis saya, entah nanti….karena itu saya pakai yg gratisan… biar nggak ada biaya he..he..he.. ntar kalau mau go komersialisasi baru pakai yg berbayar biar keliatannya profesiaonal ha…ha…ha….

  12. Wow, informasinya sangat menarik nih mas Agus. Iya,ya kalau saja bisa memperoleh tambahan penghasilan dari blog, mungkin akan lebih termotivasi. semoga ke depan bisa seperti Anda. Salam dari Pekalongan.

  13. Saya masih mikir definisi ‘murni’ itu mas, apa itu berarti fulltime? Tapi bila merunut poin2nya, saya rasa ini merujuk pada blogger yang jadi source. Kalau gitu masalahnya ya memang kudu dipertimbangkan hal2 di atas. Harus balance antara goal pribadi dan goal relasi.

    Begitu saja. Ada yang menambahkan? πŸ˜€

  14. Waduh, saya masih tetep jadi blogger murni mas.. Hasrat untuk berbagi di komunitas dan teman-teman sekitar terasa tak terbeli dengan hasil memajang iklan, referall dan sebagainya.
    Beda dengan berkarya, pembuatan project kreatif berbasis web (startup) misalnya. Ini yang lagi saya matangkan. Duit yg datang pasti seret, tapi efek untuk membuat sesuatu kebutuhan menjadi penghasilan mungkin jadi terlihat elegan.. πŸ˜€

    Salam..

  15. Enaknya kita kerja offline dulu sambil kerja online, nah setelah itu hasil dari kerja offline tersebut kita kembangkan untuk memajukan kerja online kita tersebut… Jika memang bisnis Online kita tersebut sudah maju maka baru kita bisa banting setir menjadi blogger murni…

    Gimana Pendapat anda ????

    1. peluang mendapat penghasilan internet itu tetap ada. namun tidak serta merta hadir dalam waktu singkat. butuh ketekunan dan kerja keras ke arah sana. tetap semangat ya… πŸ™‚

  16. Wow that was unusual. I just wrote an very long comment but after I clicked submit my comment didn’t appear. Grrrr… well I’m not writing all that over again. Anyways, just wanted to say superb blog!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *