Logika Batu Dan Air

Coba bayangkan kalau dua buah batu dipertemukan jadi satu tanpa alat bantu lain, misalnya semen dan air. Yang terjadi adalah tumbukan dua benda yang tak kan bisa melebur selama belum ada satu perekat. Inilah yang terjadi kalau dua orang (mengaku) cerdas bertemu dan saling berargumen tentang satu masalah. Selalu nggak mudah menyatu karena sisi pembeda lebih ditonjolkan daripada kesamaan. Berikutnya, kalau dilanjutkan biasanya akan menjadi ajang saling menjatuhkan, pemboikotan, perang lintas kepentingan dan lain-lain.

Yang lebih tragis lagi kalau keduanya punya massa pendukung fanatik dalam jumlah banyak. Tinggal perintahkan satu kalimat maka segera terjadi pertempuran antara prajurit dua kubu. Si boss-nya tinggal duduk diam, kalaupun pun punya nyali pasti akan mengompori dari balik layar. Bodoh amat dengan mereka yang di lapangan. Penyakit gila kekuasaan ini sepertinya lebih banyak menjangkiti orang-orang cerdas. Kalau gitu, apakah kita lebih butuh orang bodoh daripada orang cerdas? πŸ™‚

logika-air-dan-batu

Sebaliknya, coba bayangkan kalau dua air yang berbeda (jenis, rasa, asal, merk, kebersihan) bertemu dalam satu wadah. Keduanya bisa menyatu walaupun latar belakang dan sejarah masa lalu nggak ada kesamaan. Misalnya: air mineral merk Aqua dan Mizone, kopi bikinan Starbuck dan kopi adukan warung kaki lima, susu cap nona dan susu bantal dan lain-lain. Meskipun kalau nanti dicampur rasanya nggak sesuai, namun keduanya bisa melebur menjadi satu dan siap diolah lagi. Kalau kurang manis tinggal tambah gula, perlu sensasi plong tinggal tambah soda dan seterusnya.

Air nggak melihat kondisi saat ini untuk berbaur dengan jenis air lainnya. Mereka merasa dari satu ibu, yaitu 2 buah ion H+ dan satu buah ion O-2 atau dikenal dengan H2O. Sehingga meski berbeda proses dan sejarah perjalanan hidup mereka masih bisa mengumpul. Inilah logika air yang penting kita renungkan. Jumlah blogger kian bertambah, aneka kepentingan sudah ikut masuk berbaur dengan nafas artikel. Kalau kita nggak mau mencari kesamaan tujuan awal sebagai media sharing, bisa dipastikan kita akan terkungkung dalam jebakan kecerdasan dan melihat diri sendiri sebagai yang paling benar.

Melihat satu hal dari berbagai sisi bisa menghindarkan kita dari perangkap semu untuk menang sendiri. Informasi di internet itu luas, kalau mengklaim paling tahu segalanya, saya khawatir Anda bukan lagi manusia, tapi sudah menjelma menjadi sebuah server raksasa yang melayani ratusan web di dunia. Semoga menginspirasi. Kurang lebihnya mohon maaf πŸ™‚

46 Replies to “Logika Batu Dan Air”

  1. Saya setuju sekali kalau ngeblog itu untuk sharing. Saya nulis di blog (selain untuk aktualisasi diri), juga buat berbagi. Ya, berbagi opini dan juga sedikit pengalaman saya. Masalah merasa paling benar, sepanjang kita punya dasar argumentasi yang bisa dipertanggung-jawabkan dan logis (plus objektif), saya rasa tidak jadi masalah. Toh, akhirnya kita akan memperoleh umpan-balik ketika ada argumentasi lain yang punya dasar berbeda pula. Di situlah kita diuji untuk menemukan ‘benang merah’ atau kesamaan poin yang sebelumnya terkesan bertolak belakang.

    Kadang cuma karena salah penafsiran atau karena kita belum memahami pokok pikiran yang disampaikan lawan bicara atau lawan diskusi. Itulah gunanya berdiskusi. Mempertemukan gagasan yang awalnya tampak sangat bertolak belakang dan akhirnya membuka pintu-pintu pemahaman baru. Saya merasakan hal tersebut ketika berdiskusi secara intens di postingan saya yang membahas tentang google vs bing πŸ˜‰ (lahir dari proses diskusi panjang yang cukup alot).

    1. Setuju.
      Namun semua tergantung dari tuan rumah blog dalam menanggapi komentar dari komentator. Jika sang pengelola hanya lewat, dan tidak menanggapi maka diskusi tidak bisa tercipta.
      Di blog Mas IS bisa tercipta karena mas IS menanggapi semua komentator dengan serius, maka timbal balik pengunjung merasa di hargai. Itulah cafegue.

      Terkadang saya juga pernah menemukan nara blog “pengelola” yang tidak serius menanggapi, sehingga pengunjungpun tidak serius untuk berdiskusi.
      Yah,,sersan lah..serius tapi santai jangan di bawa tegang, blog buat enjoy juga saya rasa.

      1. kayak blognya ane gan haha (mengaku dengan jujur) kadang ada koment engga buru-buru ane jawab hehe soalnya waktu ane sempit πŸ™‚

        1. @Andi Sakab,
          Sebenarnya bukan masalah telat balas komen sih, tapi pada kemampuan menciptakan diskusi saja πŸ™‚

      2. @Hendro Priyatno,
        Saya selalu berusaha fleksibel saja bang. Kalau ada komentar yang menurut saya perlu ditangapi dengan serius, saya akan serius. Sebaliknya, kalau ada komentar yang ngajak bercanda, saya juga menimpalinya dengan serupa. Kecuali becandanya nggak lucu menurut saya (apalagi jika cuma menyindir dengan balutan guyon yg garing).

  2. Tapi yang saya heran candi borobudur tanpa semen dan bisa bersatu, tufa dengan calcopiryt bisa bersatu selama ada kuarsa. Mineral bersumber dari batu.
    Dan juga biar air bisa bersatu tapi bisa menjadi Racun!..berhati-hatilah dalam menyikapi..

    1. Menurut web ini http://tinulad.wordpress.com/2010/03/22/bagaimana-cara-membuat-candi/ ada salah satu tahap pembangunan candi dengan memanfaatkan air. Tapi ini salah satu cara selain model puzzle, pakai cairan telur, gula merah dan lain-lain.

      Memang benar mas, kalau kebetulan air yang dicampur mengandung bahan kimia berbahaya, bakteri atau virus, kemungkinan besar bisa membunuh yang minum. Tapi mana ada orang yang sengaja mau minum racun kalau nggak dijebak, dipaksa atau memang niat bunuh diri πŸ˜€

    2. ane malah heran itu campran beton kalo di campur sama gula kenapa bisa engga keras-keras yaa… rahasia tuhan juga ternyata proses kimiawi itu ya? πŸ™‚

  3. logika batu dan air ini sangat kelihatan di dunia luar khususnya panggung politik. Terkadang sebuah partai jadi es batu tetapi terkadang pula jadi air. Tergantung temperaturnya kali. Yang menjadi pertanyaannya, siapa yang memegang kendali termostatnya.

  4. Teguran untuk jagat blogosphere nih..

    Menyatukan dua hal yang berbeda tentu tidaklah mudah namun juga tidak terlalu sulit. Kembali lagi kepada narablog masing2 bagaimana menanggapi sebuah perbedaan pendapat. Kotak komentar adalah media paling bagus untuk mempertemukannya. Jika memang dari awal seorang narablog mempunyai motivasi untuk selalu diakui dan berego tinggi, bisa jadi hanya menjadikan perang argumen dan tidak ada ujung pangkalnya…

    Blogger sejati selalu menguasai karya orang lain…

      1. Waduh nulis aja sampai belepotan gini.. padahal mau nulis menghargai, hehe…. Menghargai karya orang lain..
        Selalu menjunjung tingii kejujura..

  5. Wah.. itulah sebabnya air menjadi sumber kehidupan..
    Bisa membersihkan, mendinginkan, menyegarkan…
    Hidup air!!! πŸ˜€

  6. wah……..dalem banget nih!!!! tapi buat saya tetap aja ngeblog itu untuk fun aja!!! jika ada blogger yang merasa paling benar yah biarkan saja toh itu di dunianya heheheheheheheh

  7. logika baru dan air jadi teringet campuran beton readymix yang biasa ane jual tiap hari, gan hahaha

    Namun makna di balik tulisan kali ini lumayan dalem juga πŸ™‚

  8. Bima juga menemukan jati diri di dalam air samudera, setelah berhasil mengalahkan egonya …

    Salam sukses

    1. @Khalid Abdullah,
      Hahaha. Saya juga ingat itu.Untungnya Pak JS adem-adem aja dan tidak balik membuat postingan tandingan. Tapi sentilan MH ngena dan cerdas banget.

  9. Ketika kita membuka seluas-luasnya pintu diskusi yang terjadi kadang ada saja yang mencoba menggurui ataupun bahkan menjadi seorang yang sangat oon, sehingga harapan untuk dapat menyatukan ide, opini dan pendapat menjadi buntu akhirnya, yang buntutnya ya itu tadi ada yang merasa paling jago ataopun yang merasa paling oon, kalau sudah begitu ya mau gimana lagi.

    Yang bisa menghancurkan batu tentu air, bagaimanapun kerasnya, kalo tiap hari terkena air, pasti akan hancur juga

    1. semoga demikian mas Tony. namun tetap saja ada pembeda dari struktur batuan. ada yang batu cadas, batu kapur, batu kerikil dan lain-lain. berbeda senyawa pembentuknya bisa membedakan lama tingkat penyadaran diri. πŸ™‚

  10. bukannya kita tetep membutuhkan orang orang cerdas yang bisa saling baebaur, bekerjasama untuk kemakmuran dunia….he he he

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *