Mengantisipasi Adaptasi

Roda kehidupan terus berjalan. Kita tidak akan pernah menyangka akan berada di lintasan yang mana. Jalur kesuksesan atau malah jurang kehancuran. Saya tidak akan membahas tips-tips menuju kesuksesan hidup. Karena value yang saya miliki pun sebenarnya belum mumpuni. Anda bisa mendapatkan info tersebut di beberapa situs pengembangan diri dan motivasi hidup.

Yang bisa saya katakan saat ini adalah kita harus terus beradaptasi dengan keadaan. Hal ini berarti memerlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi aktual di lingkungan. Baik dalam kondisi menuju kebahagiaan maupun kesusahan.

Secara alami, kita terbiasa menyesuaikan diri terhadap kejadian sehari-hari yang kita alami. Ketika sedang kesulitan, adaptasi memungkinkan kita menghindari atau bahkan melawan kerasnya kenyataan. Saat hidup terasa mudah dan serasa melaju di jalur bebas hambatan, kita berusaha merampas sebagian kepuasan yang kita dapatkan dari kejadian positif.

Waspada Kondisi Manja

Yang patut diingat adalah kita tidak boleh terlena oleh secuil kesenangan ketika melaju di ‘jalan tol’ pencapaian target. Karena kita tidak tahu ada apa di depan sana. Sangat mungkin ada truk trailler yang tiba-tiba oleng di depan mobil Anda. Atau bisa juga muncul penampakan setan gentayangan yang coba mengusik konsentrasi Anda. Semua bisa saja terjadi.

Namun fakta di lapangan menyatakan lain. Orang cenderung berusaha mengadaptasi perilaku kalau sedang susah saja. Misalkan saat kondisi keuangan sedang seret, orang cenderung memangkas pos pengeluaran yang tidak penting. Sebaliknya, jarang sekali orang mau mengerem belanja saat keuangan lagi baik. Dan banyak contoh lainnya.

Dalam hal ini, mensyukuri nikmat adalah tindakan bijak agar kita tidak terlalu berlebihan menanggapi fakta. Atau bisa juga dengan membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi bila kita kehilangan nikmat-Nya. Hal ini setidaknya membuat kita lebih hati-hati memegang rejeki yang diamanatkan kepada kita.

Tangkal Kekecewaan

Siap menang siap kalah. Mungkin itu semboyan atlet yang sedang berlaga di Asian Games. Bagi kita, mungkin diubah jadi siap bahagia siap kecewa. Saya nggak percaya kalau ada orang yang bilang cuma siap menang saja tanpa membekali diri untuk kondisi terburuk sekalipun.

Nah, agar kecewa tidak terjadi belakangan (mana ada kecewa di depan), setidaknya perlu kita perhatikan hal-hal berikut:

1. Ketika kita mendapatkan kesenangan baru, percayalah bahwa kenikmatan yang dirasakan tidak akan sama dalam kurun waktu tertentu ke depan.

Hal ini ada dalam teori ekonomi. Kalau nggak salah namanya Hukum Gossen II. Pemenuhan kebutuhan yang sama dalam jangka waktu tertentu dapat menurunkan tingkat pemuasan pemakai. Bagi kawan-kawan IM kalau tiap hari dapat 5 dollar maka dalam jangka waktu 2 bulan hal ini akan terkesan biasa-biasa saja.

2. Hindari menjadi seorang perfeksionis atau maksimalis yang kebanyakan menghabiskan biaya untuk mencapai kesempurnaan diri.

Di ujung kalimat sudah tertulis banyak biaya. Hal ini jelas sebuah adaptasi yang tidak benar. Obsesi, misi, ambisi atau apapun namanya yang tidak terukur dan mengutamakan ego diri pada umumnya menyeret orang pada kelelahan pikiran, stress yang berkepanjangan hingga menurunnya motivasi diri.

Last but not least, bersyukur dan berbagi dengan sesama adalah cara terbaik untuk mengundang rejeki datang lagi. Prakteknya bisa jadi lebih sulit dari menuliskan. Namun tidak akan ada kata terlambat untuk mengadaptasi perilaku kita sehingga selalu siap ketika mendapat berkah ataupun ketiban musibah.

Tetap semangat!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

5 thoughts on “Mengantisipasi Adaptasi”

  1. Semua memang pada akhirnya akan berpuncak pada kebutuhan kita akan Tuhan. dunia yang kita kejar ini ternyata hanya meberikan kita lubang kecil di akhir. buka kebahagiaan yang abadi…

  2. Teori ‘menyimpan tenaga’ yang dipaparkan di atas cocok dengan kebiasaan manusia yg hidup di 4 musim. Mereka sudah terbiasa mempersiapkan adaptasi dengan memperkirakan apa2 yg bakal terjadi di musim berikutnya.

    Dan inspirasi di atas tokcer gan! 🙂

  3. Tetap semangat dan tetap bersyukur
    Semoga tetap bisa merasakan nikmat tanpa terlupa hal-hal buruk yang akan terjadi dan ambil pelajaran dari setiap kejadian. 🙂

  4. The interesting part of personal branding is that if marketers can cleverly manipulate the perceptual elements of a brand so we build a preference for that brand over that of its competition, so it enters our ‘evoked set’ the brands we like and trust. Then can we alter perception on a personal basis so we are perceived differently, getting more buy-in to us?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *