Menuang Bensin di Atas Kobaran Api

Bersikap sok suci memang tidak bisa digunakan dalam pergaulan dunia maya. Apalagi pergaulan internet telah berbaur dengan usaha mereka-ulang identitas diri. Prinsip WYSIWYG (What You See is What You Get) mulai dipertanyakan kebenarannya. Contohnya seperti kalimat berikut ini. (Ini hanya contoh, tidak lebih dari itu).

Salah satu kawan blogger curhat kepada Pak Untung lewat YM: “Apa sih maunya si X dalam komentar tadi? Dia menghina saya di sebuah publikasi artikel!”

Bisa saja Pak Untung membalas dengan: “Hei, berhentilah bertingkah bawel seperti anak kecil. Kalau kamu lagi chat sama saya, kamu harus bersikap seperti orang dewasa.”

Atau bisa juga Pak Untung memberi saran: “Kayaknya kamu lagi esmosi. Nih, ku transfer 10.000 ribu dan pergilah ngopi di warkop sebelah warnet lalu balik online lagi setelah kamu bisa mengendalikan diri.”

Menyuruh orang untuk mengendalikan diri atau menjadi dewasa sama dengan menuang bensin di atas kobaran api nilai yang dilanggar. Dia sudah marah-marah karena merasa mendapat perlakuan tidak layak, lalu Pak Untung menambahinya dengan perlakuan yang tidak semestinya. Tanpa sadar, sebenarnya Pak Untung sedang menggurui.

Cara bicara demikian menyiratkan bahwa Anda merasa lebih hebat daripada mereka. Lebih buruk lagi, Anda bersikap seakan Andalah tempat mereka curhat untuk mendapatkan nasihat yang diperlukan. Saya pastikan orang yang curhat tadi akan ketiban konflik baru dengan Pak Untung. Hal yang tidak diinginkan, tapi sangat mungkin terjadi.

Semoga menginspirasi.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

17 thoughts on “Menuang Bensin di Atas Kobaran Api”

  1. tiap melakukan kegiatan kita awali dengan pikiran positif. . .
    jadi ga ribet, kalo ada hal negatif,kita kan tetep + . . ehehehe

  2. Pak Agus, hehehe. Kayaknya pengalaman pribadi nih digituin jadi sebel. Terus solusinya gimana nih kalo ada yang curhat gitu. Mungkin sebut aja ya, bahwa orang yang dicela berarti mendapat ujian untuk memperbaiki dirinya. Pas banget kayak postingan saya terbaru "kumpulan hadits tentang ujian hidup" :)…

  3. Entahlah, membaca tulisan ini saya teringat iklan masyarakat saat bulan puasa yang disponsori oleh perusahaan rokok. Ceritanya sang suami kehabisan kesabaran karena si istri tidak sabaran. Kemudian marah-marah menyuruh istrinya sabar. 😀

  4. hahaha kalo ini sih kayaknya dialami sama semua murid-murid. Misalnya di lapangan upacara dimarahin karena gak rapi pasti di kelas bakal gak mau belajar hahahaha

  5. Ini tulisan sindiran ya kayaknya..hehehe

    Kesan menggurui bisa saja cuma masalah penafsiran. Yang penting isi kritikannya. Tapi tidak semua orang bisa menerima dengan ikhlas komentar yang bernada menggurui. Oleh sebab itulah diperlukan teknik komunikasi yang sekiranya bisa meminimalisir perasaan tidak nyaman pada target/objek.

  6. kesan menggurui kadang muncul dari pemilihan kata yang dituangkan dalam tulisan. benar apa kata mas iskandar, yang penting isi kritikannya.
    eh…. iya sekalian minta kritik, saya ini terkesan menggurui ga ya ? mohon masukannya mas 🙂

  7. Entah. Akhir-akhir ini berseliweran blogger dengan tipe seperti itu. Dan bila saya memposisikan diri sebagai Pak Untung, apa boleh buat, saya cuma bilang: selamat datang di blogosphere, kawan 🙂

  8. Pingback: Menuang Bensin di Atas Kobaran Api - Bisnis Pulsa Online Gratis
  9. Hehehe… itu mungkin karena pada dasarnya keumuman manusia tidak mau digurui, manusia maunya selalu unggul; itu sifat dasar ‘nafsu’ yang menjadi salah satu potensi yang dianugerhkan kepada manusia.
    Nafsu bisa membuat manusia kreatif dan berpikir lebih maju, namun saat tidak terkendalikan, nafsu bisa menjadi liar 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *