Menunggu Tulisan Kaum Akademis

Saya tidak terkejut sedikitpun saat membaca tulisan Bambang Harianto yang mengulas rendahnya produktifitas penulis yang berasal dari latar belakang akademis. Indonesia berada di bawah negara-negara tetangga ASEAN. Bahkan negara miskin Afrika, Ethiopia.

Berita ini seolah mengulang wacana lama bahwa ilmuwan dan penulis adalah dua dunia yang bertolak belakang. Dunia penulisan dianggap lebih cenderung mendekati sastra daripada teknik, sosial, politik, kesehatan dan bidang-bidang lainnya.

Banyak hal yang menjadi penyebab keadaan ini. Diantaranya adalah:

1. Adanya pemikiran bahwa aktivitas menulis adalah sulit dan penuh misteri.

Saya pernah iseng-iseng berbincang dengan salah satu pengajar favorit saya di Excellent Club, Lembaga Pengajaran Bahasa Inggris di Malang. Beliau lulusan S2 Universitas negeri ternama di Jawa Timur. Saya tanyakan kenapa tidak sekalian membuat semacam karya tulis ilmiah. Jawabnya: “Sulit Gus! Butuh banyak waktu, meras otak, merayu penerbit. Belum tentu laku pula.” Jika seorang akademis saja bicara demikian, apalagi bagi masyarakat awam.

2. Kurangnya penghargaan Pemerintah terhadap karya tulis ilmuwan.

Telah banyak contoh di lapangan yang mengabarkan bahwa ilmuwan Indonesia akhirnya ‘dibajak’ negara lain. Minimnya kepercayaan kepada kemampuan ilmuwan lokal sudah keburu membuat mereka memilih kehidupan yang lebih menjanjikan di negara luar. Peribahasa hujan Emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri memang benar adanya.

3. Kurangnya motivasi untuk berbagi kepada yang lain.

Memang, tidak semua ilmuwan itu pelit berbagi ilmu. Apalagi jual mahal. Namun, hanya sedikit dari mereka yang saya jumpai memiliki semangat membagikan pengetahuannya di luar lingkup sekolah ataupun kampus.

4. Banyaknya gangguan-gangguan yang menyenangkan.

Kalau tidak boleh disebut gangguan, mungkin akan lebih baik kalau saya tulis godaan. Godaan memanfaatkan relasi akademis untuk tujuan bisnis pribadi adalah salah satu gangguan terbesar. Selain itu, tentu saja melakukan double job ngajar disana-sini sehingga menghabiskan waktu seharian dan tidak ada celah untuk menulis.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

9 thoughts on “Menunggu Tulisan Kaum Akademis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *