Praktek Konfrontasi Krusial Dalam Blogging

Pada artikel sebelumnya saya telah menulis resensi buku Crucial Confrontations. Namun yang saya bagi hanya bagian pembuka saja, belum kepada jeroannya. Nah, kali ini saya membahas lebih lengkap teknik konfrontasi krusial, khususnya buat blogger. Apa saja hal yang patut diketahui? Ini dia.

1. Benahi diri sendiri dulu.

Ketika menghadapi konfrontasi krusial, yang perlu diketahui bahwa kita harus membenahi diri sendiri dulu. Kita tidak bisa langsung terjun dengan tekad akan ‘membenahi orang lain’ dan mengharapkan hasil yang baik yang kita inginkan. Buru-buru mengubah pemikiran orang lain, sesungguhnya, kita hanya bisa mengubah diri kita sendiri.

Pilih apa dan perlukah?

Pertama kali tentu saja harus jelas hal apa yang perlu dikonfrontasi? Harus fokus pada satu masalah. Kalau cakupannya terlalu luas, hendaknya dibatasi. Semakin spesifik semakin mudah menyelesaikan. Lalu perlukah dilakukan sebuah konfrontasi? Karena tidak semua hal bisa diperdebatkan, terutama yang menyangkut hak privasi seseorang mengenai pilihan jalan hidup.

Pahami cerita sesungguhnya.

Pemahaman yang sepotong-potong berpeluang menghasilkan miskomunikasi antara pembaca dan penulis. Jadi, kalau mau melakukan konfrontasi hendaknya mengumpulkan informasi yang lengkap, akurat dan berasal dari sumber yang terpercaya. Saya tidak menyarankan sumber yang Anda percaya adalah seleblogger yang gemar bergossip di situs jejaring sosial. Hehehe.

2. Berkonfrontasi dengan aman.

Berhasil atau gagalnya konfrontasi krusial tergantung dari kata-kata yang dipilih dan cara menyampaikannya. Apa yang terlintas di pikiran orang saat membaca pernyataan kita itulah yang patut diperhatikan.

Gambarkan letak perbedaannya.

Perlu dijelaskan letak perbedaan secara detail. Pada bagian yang mana pembeda itu berada. Lalu seberapa ‘parah’ tingkat ‘melencengnya’ masalah. Hal ini membutuhkan sedikit kepintaran menganalisa masalah. Nggak masalah kalaupun sekarang belum bisa menganalisa, bisa Anda asah sambil jalan.

Buatlah agar memotivasi.

Gaya penyampaian tetap harus memotivasi dan menimbulkan optimisme untuk perbaikan ke depan. Hindari berdebat pakai cara kotor yang kebanyakan ujung-ujungnya membuat depresi dan patah semangat lawan. Redamlah emosi dan tetap berkepala dingin meski yang diajak debat adalah blogger sumbu pendek.

Buatlah agar mudah.

Penyampaian yang ribet dan berbelit-belit bukanlah solusi. Mungkin terselip tujuan Anda menunjukkan kemampuan bahasa asing nomor wahid. Tapi percaya deh, disini nggak diperlukan tuh bahasa. Malahan saya lebih suka kalau pakai bahasa Indonesia dengan campuran dialek lokal. Medhok banget gitu!

Tetaplah fokus dan fleksibel.

Fokus dan fleksibel apakah bisa berjalan beriringan? Bisa dong. Memang sepertinya bertolak belakang, tapi sebenarnya tidak. Fokus berarti topik pembahasan tetap, ajeg dan tidak ngalor-ngidul. Fleksibel artinya topik bisa dilihat dari berbagai sekup pengamatan dan tidak terpaku pada satu sudut pandang.

3. Bergerak untuk tindak lanjut.

Setelah mengetahui dimana letak perbedaan yang perlu diperdebatkan, inilah saatnya untuk mengambil tindakan. Kemungkinannya ada dua, pendapat Anda diterima atau ditolak. Anda harus siap menerima segala kemungkinan kedua-duanya. Kalau diterima ya syukur kalaupun tidak ya hargailah sebagai sebuah pilihan.

Seringkali setelah pendapat Anda diterima, maka seolah menimbulkan ‘tanggung jawab moral’ untuk mendampingi langkah perbaikan selanjutnya. Ibaratnya sudah berani mengacak-acak peta pemikiran orang lain, maka Anda harus berani merapikan kembali. Bukannya meninggalkan begitu saja. Itu namanya lempar sandal sembunyi celana.

Hmm, kalau menurut saya pribadi, esensi konfrontasi krusial bukan pada pemaksaan gagasan kepada orang lain. Ataupun pada penyebaran ‘prinsip pribadi’ supaya diikuti yang lain. Saya memandang perbedaan sebagai warna-warni dinamika blogosphere yang tak pernah henti membuat letupan aksi seru beserta pro-kontra yang melingkupi. Just enjoy it! Berantem itu seru kok!

Bagaimana menurut Anda? Ada yang mau menambahkan ide?

6 Replies to “Praktek Konfrontasi Krusial Dalam Blogging”

  1. A key question within your personal brand is: Would I buy me? a tough question, but if an honest answer is realised and it’s not exactly positive, then it’s a great opportunity to ask yourself why? and start to work on it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *