Syndrom Bimbangologi Dalam Goblogisasi

Kalau lihat data statistik dari Google, kian hari makin banyak orang yang tertarik menekuni blogging. Everyday is newbie day. Saya menduga magnet bisnis online telah menyihir sebagian besar para pendatang baru untuk berbondong-bondong hijrah ke jalur bisnis internet. Upaya Goblogisasi sepertinya telah berjalan sesuai harapan.

Terhadap kenyataan ini, saya merasa diantara senang dan miris. Saya senang karena blogging telah sedemikian jauh membentuk kebiasaan masyarakat untuk lebih ekspresif bersuara dan berpendapat dengan caranya masing-masing. Dalam dimensi sosial, blogging juga berhasil menjembatani berbagai perbedaan yang selama ini mengganjal proses komunikasi dalam dunia nyata.

Lebih jauh lagi, aktivitas update blog telah menjadi kawah candradimuka bagi kemunculan para pemikir baru dari berbagai latar belakang budaya, sosial, ekonomi dan pendidikan. Dimana hal ini tidak mudah terwujud dalam forum-forum offline semacam Karang Taruna, PKK, Rembug Desa, KUD dan sejenisnya.

Apalagi dari pihak Pemerintah juga turut mendukung menciptakan lingkungan kondusif bagi berjalannya proses edukasi lewat blogging. Pemblokiran sejumlah situs dewasa oleh ISP dan program internet sehat adalah dua diantaranya. Bahkan ada pengusaha nasional yang khusus membuat Rumah Blogger untuk mewadahi hal ini.

Idealisme Vs Kebutuhan Isi Perut

Itulah sisi positif blogging yang saya amati. Namun, bukan berarti tidak ada masalah yang berarti. Problem terbesar goblogisasi bukanlah ketersediaan koneksi internet ataupun sarana dan prasarana penunjang lainnya. Hal yang pelik justru datang dari dalam diri aktivis ‘di lapangan’.

Ngeblog memang bukan berarti tidak berbisnis online. Masih terdapat celah untuk mendapatkan penghasilan dari internet. Namun itu pilihan. Karena sejumlahblogger murni justru masih asyik mempertahankan idealisme tanpa buru-buru mo-monetisasi blog mereka.

Tak jarang, pilihan ini menimbulkan kebimbangan dalam diri yang bersangkutan. Terus menyebarkan virus blogging dengan keterbatasan pemasukan? Atau me-nomordua-kan blogging untuk tujuan ekonomis yang lebih baik?

Jika hal ini dilakukan secara massal, saya khawatir kondisi ini diterima sebagai proses wajar yang pada akhirnya membantu terbentuknya endemi syndrom bimbangologi dalam ranah blogging Indonesia.

Contoh mudah terjadi kepada para penulis buku cetak. Banyak yang beranggapan ngeblog hanyalah buang-buang waktu, tenaga, pikiran dan uang. Duh, eman-eman banget yang berpikiran begitu. Padahal sebenarnya mereka punya potensi untuk mewarnai blogging lebih baik.

Bagaimana solusi terbaik? Sepertinya semua kembali kepada ketebalan kantong masing-masing orang. Eh, bukan! Maksud saya, kembali kepada motivasi awal ngeblog.

Jika memang tujuannya untuk landasan membangun bisnis online, it’s oke. Sejumlah pebisnis online saya kenal mampu menjalani dua-duanya secara seimbang. Meski masih terbungkus rapi dalam bingkai soft selling, mereka mampu memberi nilai tambah bagi pembacanya.

Namun jika pilihan awal adalah sebagai blogger murni yang ‘menutup mata’ terhadap potensi monetisasi, saya sarankan untuk secara perlahan menggambarkan ulang peta pemikiran Anda. Memanfaatkan potensi untuk memperkaya diri bukan hal yang buruk. Berbisnis kan tidak berarti apatis terhadap sekitar kita.

Bagaimana menurut Anda?

3 thoughts on “Syndrom Bimbangologi Dalam Goblogisasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>