Takdir Sang Blogger

Terinspirasi tulisan Anas Urbaningrum yang berjudul Takdir Demokrasi, saya tergelitik mengangkat tema ini ke arena blogging. Karena blogging tak ubahnya lika-liku kehidupan yang diwarnai perjuangan dan segala intrik yang meliputinya.

Kalau mendengar kata takdir, bayangan kita biasanya mengarah ke hal-hal yang tidak enak dan membuat sengsara. Misalnya ada seorang blogger yang traffic blog-nya kian hari kian seret. Komentar yang sering muncul adalah ‘Mungkin ini takdir. Belum jodoh sama blogging kali…’ Sebaliknya, jarang saya mendengar kata takdir menempel pada atribut keberhasilan dan kesuksesan seseorang.

Sebelum kita bicarakan lebih lanjut, ada baiknya kita sedikit kilas balik ke belakang. Setiap blogger dilahirkan dalam kondisi keluarga yang berbeda-beda. Ada yang sudah kaya-raya sejak bayi, berkesempatan menikmati pendidikan universitas dan tergabung dalam komunitas elite. Jadi, memulai blogging adalah semudah membalikkan telapak tangan.

Ada pula yang harus melewati kehidupan dalam berbagai keterbatasan diri. Kondisi ekonomi yang tidak pasti. Terkungkung dalam aktifitas offline untuk menghasilkan ’sejumlah’ uang. Sehingga, aktifitas ngeblog menjadi sangat mahal harganya. Berjuang dari warnet ke warnet. Berburu sen demi sen dari PTC dan sebagainya.

Hal inilah yang pada akhirnya membentuk persepsi salah bahwa yang berhak menikmati sukses blogging hanyalah kaum berduit yang punya banyak dana untuk membiayai beli domain, sewa hosting, promosi iklan, bayar koneksi internet dan sebagainya.

Percaya deh, aneka kemudahan tersebut tidak serta-merta menjamin Anda memiliki nasib baik. Nasib Anda sepenuhnya ditentukan usaha Anda. Kata usaha disini bisa berarti luas. Usaha lahir dan batin. Kalau perjuangan secara kasat mata dapat kita lihat langsung. Blogwalking, gabung sosial media, forum dan komunitas tertentu.

Namun tidak kelihatan ini yang jarang kita perhatikan. Saya tidak sedang menyarankan Anda mengirim santet, teluh dan sejenisnya kepada pesaing bisnis Anda, bukan itu. Tapi lebih kepada melibatkan invisible hand dalam aktifitas online kita. Kalau selama ini Anda sering meminta second opinion, kenapa tidak sekalian third opinion juga?

Yang sedikit nyentrik nih, ada juga yang berkeyakinan bahwa takdir itu tidak ada. Alias kita sendiri yang membentuk takdir di dunia. Maka saya sering menjumpai seorang ngos-ngosan siang malam mengejar target tanpa pernah melakukan dialog vertikal dengan Yang Kuasa. Duh, kasihan banget.

Well, pilihan ada di tangan Anda. Mau menyikapi takdir dengan cara yang manapun, asal siap menghadapai efeknya. Kalau untung ya bersyukur, kalau buntung pun harus dijalani. Karena poin utamanya adalah bukan pada hasil akhir, tapi bagaimana menjalani proses dengan aksi-aksi positif dan menunjukkan keberadaan kita sebagai makhluk berakal.

Bagaimana menurut Anda? Percaya kepada takdir? Atau justru mau menciptakan takdir Anda sendiri?

2 Replies to “Takdir Sang Blogger”

  1. Takdir tanpa disuruh percaya pun hal ini memang harus di percayai di dalam agama.Mungkin yang terpenting bagaimana kita menyikapi ketika takdir tersebut hinggap di diri kita dan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan,mungkin ini dalam hal negatif takdir yang tidak kita inginkannya.Setelah itu mungkin ada dua pilihan bangkit dari kondisi tersebut atau malah terperosok karena takdir tersebut.

    Untuk seorang blogger,mungkin hukum alam atau seleksi alam akan berlaku disini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *