Tubuh Saya Disini, Tetapi Pikiran Saya Tidak

Seolah kontradiksi dengan tulisan kemarin, artikel kali ini adalah curhat saya. Jadi maaf kalau tulisan ini agak personal dan tidak penting banget. Mudah-mudahan tidak dianggap hoax.

Saat ini saya berada berada dalam keadaan dimana pikiran dan tubuh saya tidak bisa akur. Konsentrasi pikiran saya terbagi antara menjalankan tugas-tugas accounting dengan aktifitas blogging.

Boleh saja saya terlihat sibuk memeriksa report analisa vendor-vendor yang masuk ke meja kerja, namun tidak ada yang tahu isi pikiran saya yang sebenarnya bahwa saya tengah merencanakan beberapa langkah dalam bisnis online.

Ya, tubuh saya secara fisik boleh saja berada di Sidoarjo, tetapi pikiran saya justru melayang pada kritikan mas Ahmad, support mas Fadly, kontroversi status fesbuk saya, tanggungan review blogger dan sejumlah goal yang saya targetkan akan tercapai dalam waktu dekat ini.

Mungkin ini salah satu tahap perkembangan yang harus saya lalui, seperti halnya beberapa pebisnis internet senior yang mengawali langkah sebagai pekerja kantoran. Beberapa bulan kemarin saya tidak pernah mengalami hal begini. Saya bisa enjoy bekerja di siang hari, lalu sore hingga malam hari meleburkan diri dengan dunia maya.

Tapi entah kenapa, selama sebulan ini saya mulai tidak respek terhadap perintah boss. Setiap pemikiran yang beliau sampaikan saya anggap bukan solusi final terhadap masalah yang dihadapi. Lalu, saya merasa sangat terpukul kalau ide saya tidak disetujui oleh perusahaan.

Ujung-ujungnya, saya lebih banyak mengambil inisiatif tanpa meminta pertimbangan boss. Meski sebagian besar keputusan yang berkenaan dengan keuangan berhasil saya jalankan tanpa kesulitan berarti, masih saja ada ketidakpuasan yang tersisa.

Meminjam analog masa kecil Anne Ahira saat bermain di atas tumpukan jerami saat menunggu penjualan pisang goreng di sawah, saya adalah burung elang yang terkungkung di sangkar emas. Meski bisa mencicipi nikmat sukses, ini hanyalah kesuksesan semu. Tentunya tidak ada seorang pun yang mengharapkan keadaan ini.

Saya merasa eksistensi saya di kantor adalah palsu. Tidak ada yang patut dibanggakan. Justru dunia blogging mampu memberi ruang bagi saya untuk lebih banyak mengeksplorasi wawasan, menunjukkan jati diri dan mendapatkan kesempatan kehidupan yang lebih menjanjikan secara finansial dan rohani.

Bagaimana dengan kawan-kawan semua? Apakah pernah mengalami hal seperti saya saat ini? Lalu bagaimana cara mengatasi tekanan diri ini? Saya tunggu sharing kawan-kawan semua.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Tubuh Saya Disini, Tetapi Pikiran Saya Tidak”

  1. Pingback: Improve Eyesight

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *