Berkreasi Melalui Dongeng Anak Wayang Kertas di Rumah Cerdas Islami

Terlalu banyak momen berharga saya lalui selama Ramadhan 1437 Hijriyah sehingga saya baru sempat menuliskan pengalaman seru itu selepas Lebaran Idul Fitri. Bulan puasa tahun 2016 ini memaksa saya untuk berpikir lebih keras dan membaca lebih banyak dalam berkreasi dan berkarya untuk menyajikan presentasi edukasi anak-anak selama kegiatan bulan Ramadhan 1437 Hijriyah. Melalui beragam acara itulah saya selalu mencoba menghadirkan persembahan yang unik dan berbeda di setiap kali saya tampil. Salah satu media berekspresi yang saya dapatkan adalah melalui dongeng anak.

Sejatinya, mendongeng untuk anak-anak adalah seni peran yang baru saya tekuni setahun belakangan ini. Sebelumnya saya cukup membaca banyak literatur mengenai cara mendalami seni peran, baik untuk teater, drama musikal, pengetahuan public speaking, maupun kiat-kiat memotivasi orang lain ucapan dan tindakan. Tumpukan-tumpukan pengetahuan itu sudah saatnya saya keluarkan dan berwujud sebuah tindakan nyata. Disitulah saya merasa bersyukur bahwa masa muda saya habis di sekolah, kampus, dan tempat kerja. Pengalaman bertemu dengan orang-orang baru setiap hari membantu saya mengenali beragam karakter manusia yang unik.

Dongeng Karakter Ulat Merah Muda

Kemampuan public speaking adalah bagian penting dalam setiap presentasi saya. Selama Ramadhan tahun ini saya menampilkan dua kali dongeng anak di Rumah Cerdas Islami (RCI). Semuanya membutuhkan pelatihan public speaking yang tidak sebentar. Dongeng anak yang pertama saya lakukan secara dadakan pada Kamis, 16 Juni 2016. Saya mendapat pemberitahuan dari pengelola acara bahwa hari itu adalah jadwal saya tampil hanya lima belas menit sebelum jam tayang. Saya sempat panik. Dalam waktu lima belas menit saya harus menentukan sebuah cerita dongeng yang mampu menginspirasi anak-anak lengkap dengan kostum dan alat peraga yang tepat. Sekali lagi saya memutar otak dengan keras.

Saat berjalan mencari alat peraga itulah saya menemukan boneka berbentuk binatang ulat berwarna merah muda atau pink milik Bunda Zahra. Aha! Ini dia yang saya cari. Berbekal boneka itulah saya mendongeng untuk anak-anak. Cerita dongeng saya angkat dari kehidupan sehari-hari, khususnya dari pengalaman saya berinteraksi dengan para santri yang belajar di TPQ Al-Mujahiddin Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Meski persiapan mendongeng kali ini dadakan, namun saya cukup puas dengan respons anak-anak saat mendengarkan cerita dongeng saya dan mereka paham amanat cerita dongeng tersebut.

Si Ulil, karakter ulat berbulu merah muda dan saudara kembarnya, Alin, adalah perwakilan dua sifat anak-anak yang berbeda. Salah satu dari mereka bermalas-malasan saat bulan puasa tiba. Tidur di siang hari, lupa sholat lima waktu, dan rakus bersantap buka puasa. Seorang lagi, Si Alin, memiliki semangat yang luar biasa dalam mengisi aktifitas selama Ramadhan berlangsung. Alin gemar tadarus dan sholat fardhu di masjid. Saya tidak memiliki banyak kesulitan untuk memecah suara Ulil dan Alin karena tidak banyak karakter yang harus saya mainkan. Dua karakter dongeng itu saya bedakan dengan suara besar dan kecil, ringan dan berat, serta halus dan kasar.

Dongeng Anak Islami di Kabupaten Jombang
Dongeng Anak Islami di Kabupaten Jombang

Eksperimen Dongeng Wayang Kertas

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya membawakan dongeng anak dengan menggunakan alat peraga berupa wayang kertas. Sebenarnya akan lebih afdhol kalau mendongeng menggunakan wayang kulit layaknya seorang dalam beneran. Tapi kali ini saya memilih menggunakan paket murah meriah hanya bermodal wayang kertas saja. Hal itu terjadi pada Rabu, 22 Juni 2016 di Rumah Cerdas Islami Jombang. Berbeda dengan dongeng karakter ulat sebelumnya yang terkesan dadakan, dongeng karakter wayang kali ini saya lebih siap. Saya telah mempelajari beberapa teknik vokal dari video seni wayang kulit yang saya unduh dari situs Youtube.

Mendongeng dengan menggunakan alat peraga wayang sebenarnya sangat beresiko. Tidak semua kalangan masyarakat muslim menyetujui penerapan wayang sebagai media dakwah. Namun saya berusaha memoderasi anggapan tersebut dengan meniru metode dakwah Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Mereka terbukti sukses syiar Islam melalui atraksi budaya Jawa. Respons anak-anak pun awalnya sedikit terkejut saat saya menunjukkan wayang kertas yang saya ambil dari tumpukan wayang milik keponakan di rumah. Wah, ada wayang! Pak Sisi bawa wayang. Hore! Demikian ucapan salah satu murid RCI saat saya memasuki tempat mendongeng.

Bisa dipahami mengapa anak-anak kecil jaman sekarang mulai tidak mengenal seni wayang kulit, wayang golek, wayang orang, maupun wayang kertas. Jangankan anak-anak, orang tua mereka pun belum tentu tahu dan hapal nama-nama tokoh pewayangan. Saya pun tidak ambil pusing dengan pemilihan dua karakter wayang yang saya ambil untuk mendongeng kali ini. Buto Cakil dan Nakula. Dua nama yang populer bagi masyarakat Jawa. Buto Cakil saya gambarkan dalam dongeng anak tersebut sebagai tokoh jahat. Sedangkan Nakula adalah karakter baik. Keduanya akhirnya bersatu dan bekerjasama untuk menyingkirkan halangan batu besar yang menutupi gua tempat mereka berlindung dari hujan badai.

Beragam respons hadir saat saya mendongeng. Sebagian besar audiens anak-anak surprise dengan karakter wayang dan isi cerita dongeng. Sebagian lagi ikut berinteraksi dengan saya selama saya mendongeng. Respons lebih mengejutkan datang dari Facebook saat saya mengunggah satu foto ketika saya tengah asyik mendongeng di depan anak-anak. Salah satu komentar dari kawan Facebook memberikan apresiasi terhadap eksperimen saya mendongeng dengan menggunakan karakter wayang. Banyaknya komentar dari mereka menyadarkan saya untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar lebih handal dalam mendongeng anak. Yes! I got it.

Semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam mendidik anak dengan cara yang menyenangkan sekaligus memiliki prospek dan kemajuan. Mari tumbuhkan kebiasaan mencintai budaya Nusantara kepada anak-anak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *