15 Fakta Desa Asemgede Pasca Pelaksanaan KKNT UNHASY Tebuireng Jombang

Apa kabar sobat komunitas blogger Jombang? Anda berjumpa lagi dengan blog The Jombang Taste yang menyajikan ulasan terkini fenomena kehidupan sosial budaya masyarakat Jombang. Masih dalam suasana Lebaran Idul Fitri, penulis berkesempatan bersilaturahmi dengan warga Desa Asemgede Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang pada Ahad, 9 Juli 2017. Asemgede merupakan tempat kegiatan Kuliah Kerja Nyata Terpadu (KKNT) yang penulis ikuti tahun 2016 lalu. Silaturahmi ini menjadi kunjungan ketiga penulis disana pasca pelaksanaan KKNT Universitas Hasyim Asyari (UNHASY) Tebuireng.

Berangkat dari Mojowarno menuju Asemgede melewati jembatan Ploso membutuhkan waktu sekitar dua jam. Lalu lintas Mojokerto-Kertosono cukup padat di Ploso disertai proses perbaikan pada beberapa ruas jalan menyebabkan perjalanan lumayan menguras energi. Begitu memasuki kawasan Pasar Tapen, lalu lintas agak lancar. Jalan raya Tapen-Made saat ini baru saja dicor. Kemudahan akses ini berhenti sampai saat masuk kawasan Perhutani menuju Desa Cupak. Kondisi jalan beraspal Made-Cupak masih cukup memprihatinkan sama seperti tahun lalu. Jalan berlubang disertai bebatuan besar menjadi tantangan yang seru untuk kegiatan traveling tipis-tipis kali ini.

Perjalanan penulis bersama Agus Ali Mashuri menjadi lancar begitu memasuki perbatasan Cupak-Asemgede. Jalan aspal mulus memudahkan penulis sampai di tujuan dengan selamat. Sayangnya, tanah longsor yang terjadi di Asemgede tahun lalu belum ditanggapi oleh Pemerintah. Anda harus ekstra hati-hati saat melintasi sisa jalan selebar satu meter yang membentang di sisi timur Gunung Made. Seperti mimpi di alam nyata. Semua tayangan pengalaman pengabdian masyarakat setahun lalu seolah diputar kembali dalam benak penulis. Keramahan penduduk setempat, tanah yang berdebu, minimnya sinyal komunikasi ponsel, dan keramat sejumlah punden desa merupakan kombinasi yang unik di Asemgede.

Bercakap-cakap dengan sejumlah tokoh Desa Asemgede merupakan aktifitas komunikasi yang menginspirasi saya untuk melakukan banyak hal. Tak terkecuali saat diskusi dengan Cak Sutris, marbot Masjid Nurul Jadid Desa Asemgede, yang siang itu datang terlambat ke masjid. Kebersamaan kami siang itu di teras Masjid Nurul Jadid berlangsung akrab dan santai. Kami banyak membahas perkembangan kehidupan sosial, budaya dan keagamaan yang terjadi di Desa Asemgede setelah pelaksanaan KKNT UNHASY Tebuireng Jombang pada 25 Juli-24 Agustus 2016 lalu.

Berikut ini 10 fakta kehidupan masyarakat Desa Asemgede Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang yang penulis himpun dari pengamatan di lapangan dan wawancara dengan sejumlah tokoh agama dan perangkat desa setempat.

Jalanan desa Bayeman yang ku lewati setiap hari...
Jalanan desa Bayeman yang ku lewati setiap hari…

1. Perangkat Desa Asemgede bertambah tiga orang

Seleksi masal perangkat desa yang terjadi di Kabupaten Jombang turut mewarnai Desa Asemgede. Dari hasil tes tulis dan tes wawancara tersebut didapatkan tiga orang perangkat desa baru untuk mengisi jabatan Sekretaris Desa, Kepala Urusan Keuangan, dan Kepala Urusan Pelayanan. Bertambahnya jumlah perangkat desa ini menghidupkan kembali aktifitas pelayanan masyarakat di Kantor Desa Asemgede. Terdapat perangkat desa yang aktif bekerja di Kantor Desa pada hari kerja dan jam kerja yang ditentukan. Masyarakat lebih mudah mendapatkan pelayanan administrasi karena Kantor Desa selalu terbuka untuk umum.

2. Anggota Karang Taruna naik kelas menjadi Sekretaris Desa

Devi Sudarto, rekan duet penulis ketika membawakan acara di pentas seni peringatan kemerdekaan Indonesia tahun 2016 lalu, saat ini terpilih sebagai Sekretaris Desa Asemgede. Pencapaian ini sungguh membanggakan. Devi mengawali keterlibatan dalam aktifitas warga dengan mengikuti organisasi Karang Tarunan. Usai lulus kuliah Devi langsung menunjukkan kepiawaiannya sebagai birokrat dan pelayan masyarakat Desa Asemgede. Hal ini mengindikasikan bahwa organisasi pemuda memiliki peran besar dalam setiap lini kehidupan masyarakat Desa Asemgede.

3. Pembangunan fisik Kantor Desa Asemgede

Kantor Desa Asemgede saat ini tampak lebih tertata rapi, bersih dan memiliki fasilitas lengkap. Pusat pelayanan masyarakat itu saat ini mempunyai tempat parkir beratap, kamar mandi shower di dalam, toilet duduk, dapur penyiapan hidangan, perpustakaan mini, dan home theater. Salah satu pembangunan fisik yang mencolok adalah pagar kantor yang saat ini bercat hijau-kuning khas Jombang. Penambahan beberapa fasilitas kantor tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktifitas kerja perangka desa setempat.

Program Kesehatan Mahasiswa KKNT UNHASY untuk Warga Desa Asemgede Bekerjasama Dengan Yatim Mandiri
Program Kesehatan Mahasiswa KKNT UNHASY untuk Warga Desa Asemgede Bekerjasama Dengan Yatim Mandiri

4. Peningkatan angka kematian penduduk desa

Berdasarkan penuturan beberapa penduduk yang penulis wawancari, telah terjadi tujuh kejadian warga meninggal dunia dalam bulan puasa tahun ini. Warga meninggal karena penyakit yang diderita dan rata-rata berusia 60 tahun ke atas. Selain itu, penduduk usia tua yang masih hidup dan tinggal di desa tersebut saat ini banyak yang mengalami penyakit kulit. Hal ini mengindikasikan penurunan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat desa setempat.

5. Terdapat 3 kegiatan KKN dalam 1 tahun

Desa Asemgede menjadi tujuan favorit bagi mahasiswa yang akan melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tercatat telah dilaksanakan 3 program KKN di Desa Asemgede dari 3 universitas yang berbeda selama tahun akademik 2016-2017. Setelah KKN Terpadu Universitas Hasyim Asyari (UNHASY) Tebuireng pada 25 Juli-25Agustus 2016, dilanjutkan Program Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada Januari 2017. Sesaat lagi, pada 19 Juli 2017 mendatang akan terdapat kegiatan KKN dari Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Surabaya.

Jalan Sehat Mahasiswa KKNT UNHASY Bersama Warga Desa Asemgede Jombang
Jalan Sehat Mahasiswa KKNT UNHASY Bersama Warga Desa Asemgede Jombang

6. Asemgede populer sebagai tujuan pengabdian masyarakat

Bukan hanya mahasiswa yang merasa perlu belajar mengabdi kepada masyarakat dalam bidang pendidikan, bahkan murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pun banyak yang mengunjungi Desa Asemgede untuk belajar dari pengalaman warga. Sejumlah PAUD dan sekolah dasar full day school telah berkunjung ke Desa Asemgede untuk mengadakan bakti sosial, lomba kreatifitas anak, dan aneka bentuk kegiatan pembelajaran luar ruangan lainnya.

7. TPQ Lansia terkendala ketersediaan pengajar

Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Lansia adalah salah satu program yang digagas oleh mahasiswa peserta KKN Terpadu UNHASY Tebuireng. TPQ Lansia adalah kegiatan belajar membaca dan menghafal Al-Quran dengan sasaran jamaah masjid dan musholla yang berusia 30 tahun ke atas. TPQ Lansia dilaksanakan setelah jamaah sholat maghrib sampai dengan sholat isya’. Kegiatan tersebut berhenti saat mahasiswa menyelesaikan kegiatan KKN. Gagalnya kaderisasi pengajar (ustadz dan ustadzah) TPQ Lansia merupakan penyebab berhentinya aktifitas belajar tersebut.

Mendidik Anak Gunung Melalui Rumah Baca Asemgede
Mendidik Anak Gunung Melalui Rumah Baca Asemgede

8. Rumah Baca Asemgede berjalan tidak efektif

Desa Asemgede memiliki ribuan koleksi buku yang tidak dimanfaatkan secara optimal. Rumah Baca Asemgede adalah program literasi yang digagas oleh KKN UNHASY Tebuireng. Sayangnya, aktifitas membaca buku tidak dilanjutkan oleh pengelola perpustakaan desa setempat. Saat ini koleksi buku di Kantor Desa Asemgede telah dipindah dari serambi depan ke ruang tamu kantor. Berdasarkan penuturan beberapa anak Desa Asemgede, kini mereka tidak lagi memiliki kegiatan membaca bersama di kantor desa.

9. Peningkatan partisipasi remaja dalam aktifitas warga

Kentalnya sistem kekerabatan di Desa Asemgede mampu memberikan peluang bagi generasi muda untuk ikut andil dalam berbagai aktifitas masal warga. Tercatat beberapa kegiatan warga melibatkan anak-anak dan remaja sebagai salah satu pilar penting, yaitu jamaah yasin dan tahlil secara rutin, jamaah khotmil quran, arisan warga setiap malam minggu, petugas adzan masjid dan musholla, hingga pada rekrutmen anggota Karang Taruna dalam seleksi perangkat desa.

Pelatihan Kerajinan Tangan Membuat Mahar Pernikahan oleh Mahasiswa KKNT UNHASY di Desa Asemgede
Pelatihan Kerajinan Tangan Membuat Mahar Pernikahan oleh Mahasiswa KKNT UNHASY di Desa Asemgede

10. Masjid dan musholla mengadakan takbir terpisah

Jamaah Masjid Nurul Jadid dan Musholla Al-Ikhlas mengadakan takbir keliling dalam perayaan Idul Fitri secara terpisah. Kedua kelompok jamaah tersebut tidak dapat berjalan beriringan dalam kegiatan takbir keliling karena kurangnya koordinasi. Masjid Nurul Jadid membagikan kupon berhadian untuk peserta takbir keliling sementara jamaah Musholla Al-Ikhlas memainkan alat musik tradisional saat perayaan takbir keliling.

11. Perbedaan sholat Idul Fitri dan perayaan hari raya

Masyarakat Desa Asemgede banyak yang beragama Islam dan menganut kepercayaan Aboge (Aliran Rabo Wage). Hal ini berpengaruh pula terhadap cara mereka merayakan hari raya Idul Fitri tahun 2017 ini. Masyarakat muslim Asemgede mengakhiri puasa Ramadhan mereka pada Sabtu, 24 Juni 2017. Selanjutnya, mereka tidak menjalankan puasa pada 25 Juni 2017 dan seterusnya. Masyarakat Desa Asemgede merayakan Idul Fitri dengan cara Sholat Id pada 25 Juni 2017 dan mengadakan halal bihalal dengan sesam warga pada 27 Juni 2017. Mereka beranggapan bahwa sholat Id tidak sama dengan hari raya. Hari Raya Idul Fitri yang sebenarnya bagi mereka adalah Selasa, 27 Juni 2017.

Teruslah berdakwah sampai Allah berkata saatnya pulang.
Teruslah berdakwah sampai Allah berkata saatnya pulang.

12. Penebangan hutan liar masih berlangsung

Desa Asemgede dikelilingi oleh kawan hutan lindung Perhutani. Sampai saat ini masih terjadi penebangan hutan secara liar oleh penduduk setempat. Bagian timur kawasan hutan lindung yang terbelah jalan raya hampir habis ditebang warga. Meski demikian, sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari berbagai pihak terkait penebangan hutan di sekitar Desa Asemgede.

13. Empat pertunjukan orkes musik dalam 1 bulan

Tiga orang perangkat Desa Asemgede yang baru terpilih mengungkapkan rasa syukur mereka dengan pertunjukan seni musik dangdut. Orkes dangdut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup warga setempat. Ketiga perangkat desa yang baru terpilih mengundang grup orkes dangdut secara bergantian. Bukan hanya itu, acara perpisahan murid-murid kelas 6 SDN Asemgede pun disemarakkan dengan pertunjukkan grup seniman dangdut.

Program Pendidikan Mahasiswa KKNT UNHASY Untuk PAUD Asemgede Jombang
Program Pendidikan Mahasiswa KKNT UNHASY Untuk PAUD Asemgede Jombang

14. Seni ludruk warnai tradisi Sedekah Desa

Masyarakat Desa Asemgede sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi yang dilakukan oleh leluhur mereka. Salah satu bentuk pelestarian kebudayaan lama adalah kearifan lokal tradisi Sedekah Desa dengan cara mengundang grup seniman tradisional ludruk. Ludruk adalah salah satu jenis kesenian drama tradisional dari Jombang yang dimainkan secara massal oleh puluhan pemain drama dan satu kelompok seniman penabuh musik gamelan Jawa. Kesenian Ludruk memuat pesan moral yang berharga untuk direnungkan.

15. Posdaya tidak berkembang sesuai harapan

Fakta terakhir terkait Desa Asemgede adalah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang dibentuk oleh mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Terpadu UNHASY Tebuireng tidak berlanjut pada tahap pemberdayaan. Posdaya tidak berkembang karena kurangnya pemahaman masyarakat terkiat peran vital masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Masjid seharusnya mampu memainkan posisi penting dalam pembangunan mental-spiritual dan pembangunan fisik masyarakat. Diperlukan usaha yang lebih intens dan berkelanjutan agar Posdaya dapat berfungsi meningkatkan kesejahteraan jamaah masjid dan musholla.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah wawasan Anda dalam mengembangkan Posdaya berbasis masjid. Selamat mengabdi kepada masyarakat!

5 Replies to “15 Fakta Desa Asemgede Pasca Pelaksanaan KKNT UNHASY Tebuireng Jombang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *