Peresmian Posdaya Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng Jombang

Pelatihan Relawan POSDAYA Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng Jombang

Sehari setelah lelah ngemsi di perayaan harlah UNHASY Tebuireng tahun 2016, saya berkemas ke acara berikutnya, yaitu Pelatihan Relawan POSDAYA Berbasis Masjid di Kampus UNHASY Tebuireng Jombang. POSDAYA adalah singkatan dari pos pemberdayaan keluarga. Rasa kantuk di mata belum sirna ketika saya mendapat informasi undangan pelatihan POSDAYA melalui pesan WhatsApp. Untungnya jadwal pelaksanaan pelatihan POSDAYA Berbasis Masjid dilaksanakan dua hari dan hari pertama dilaksanakan siang hari setelah dhuhur. Pada pagi hari saya sempat mengambil sampel penelitian di salah satu unit jasa keuangan syariah di Kota Jombang. Setelah itu saya langsung meluncur ke lokasi pelatihan POSDAYA Berbasis Masjid.

Pelatihan Relawan POSDAYA Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng Jombang dilaksanakan selama dua hari, yaitu dari hari Kamis sampai Jumat, tanggal 26 sampai 27 Mei 2016. Pelatihan ini diikuti oleh kurang lebih 40 orang peserta yang berasal dari dosen dan mahasiswa UNHASY Tebuireng. Narasumber Pelatihan Relawan POSDAYA Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng Jombang adalah Dr. Mufidah Cholil, M.Ag., ketua LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan pelatihan POSDAYA ini sangat menarik minat saya karena berhubungan dengan cara mahasiswa menceburkan diri dalam pergaulan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya berkutat di atas kerja dan mengetik di atas keyboard laptop saja.

Peresmian POSDAYA Berbasis Masjid

Pagi hari sebelum Pelatihan Relawan POSDAYA Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng Jombang dilaksanakan, telah diresmikan POSDAYA Berbasis Masjid di Masjid Ulul Albab Tebuireng oleh Rektor Universitas Hasyim Asyari (UNHASY), Dr. HC. Ir. KH. Salahuddin Wahid. Peresmian Masjid Ulul Albab sebagai pusat POSDAYA Berbasis Masjid ini memiliki makna ganda, yaitu mulai dilaksanakannya POSDAYA di Jombang dan sebagai proses perluasan fungsi Masjid Ulul Albab bukan hanya untuk kegiatan Pondok Pesantren saja namun juga untuk civitas akademika UNHASY Tebuireng.

Peran dan fungsi Masjid Ulul Albab Tebuireng selama ini didominasi oleh acara-acara yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Tebuireng, baik pondok putra maupun pondok putri. Walaupun ada event organisasi lainnya dilaksanakan disana, itu pun masih bisa dihitung dengan jari. Melalui momen peresmian POSDAYA Berbasis Masjid inilah Masjid Ulul Albab Tebuireng dapat memberikan manfaat lebih luas bagi organisasi mahasiswa yang ingin mengadakan kegiatan disana.

Menurut informasi dari Bu Mufidah, saat ini POSDAYA telah hadir di lebih dari 50 kota se-Indonesia. POSDAYA berbasis masjid di UNHASY Tebuireng menjadi POSDAYA pertama yang dilaksanakan di Jombang dan akan menjadi master plan bagi POSDAYA di Kabupaten Jombang. Kota Jombang sangat berpeluang bagus dalam mengembangkan POSDAYA Berbasis Masjid karena masyarakat Jombang dominan beragama Islam dengan tingkat religiusitas tinggi. Oleh karena itu, Gus Sholah optimis dapat mengembalikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat dan memiliki pengaruh positif dalam beragam aspek kehidupan masyarakat.

Peresmian Masjid Ulul Albab sebagai masjid milik mahasiswa UNHASY sekaligus menjawab kebutuhan organiasi kemahasiswaan di UNHASY yang selama ini belum memiliki satu tempat representatif untuk menyatukan berbagai elemen yang ada. Organisasi mahasiswa UNHASY selama ini masih terpecah-pecah dan belum memiliki satu ikatan kultur yang sama. Dengan diresmikannya Masjid Ulul Albab sebagai pusat kegiatan organisasi mahasiswa maka diharapkan masjid dapat melakukan revitalisasi fungsinya, baik sebagai tempat diskusi ilmiah mahasiswa maupun tempat mahasiswa berbaur dengan masyarakat dan mengimplementasikan ilmu yang dimiliki.

Pelatihan Posdaya Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng
Pelatihan Posdaya Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng

Inspirasi Dari Masjid Untuk Bangsa

Hari pertama Pelatihan Relawan POSDAYA Berbasis Masjid di UNHASY Tebuireng Jombang dilaksanakan pada Kamis siang tanggal 26 Mei 2016. Sesi pertama pelatihan ini menjelaskan alasan mengapa dosen dan mahasiswa harus mempelajari community development. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa usaha mikro kecil menengah (UMKM) memberikan kontribusi 90 persen terhadap pendapatan masyarakat kecil. Meski demikian, terdapat ironi bahwa keberadaan mereka sangat sulit terjangkau layanan Pemerintah secara optimal.

Kendati Pemerintah memiliki fungsi budgeter dan mampu mengucurkan dana dalam jumlah besar, namun pengelolaan dana di level mikro belum mampu menghadirkan kemanfaatan jangka panjang. Disinilah civitas akademika UNHASY Tebuireng mampu mengambil peran dalam hal menawarkan CARA kepada masyarakat untuk mengelola segenap sumber daya-sumber daya yang dimiliki. Bu Mufidah Cholil menyampaikan bahwa orang miskin adalah orang yang tidak punya cara. Kepandaian manusia akan muncul saat mereka dibenturkan kepada sebuah masalah dan berusaha untuk mengatasinya. Nah, posisi strategis perguruan tinggi dalam POSDAYA adalah bertugas mencari cara penyelesaian masalah.

Standar hasil pengadian perguruan tinggi kepada masyarakat dapat dilihat antar lain melalui penyelesaian masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan keahlian civitas akademika yang relevan dan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat guna. Aktifitas pengabdian masyarakat melalui POSDAYA diharapkan menjadi bahan ajar atau modul pelatihan untuk pengayaan sumber belajar. Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan sumber ilmu pengetahuan dari pendidikan formal maupun praktek profesionalisme di tengah masyarakat. Dikatakan oleh beliau bahwa sekolah adalah sebuah kewajiban agar seseorang tidak dibohongi orang lain sedangkan bekerja adalah usaha menciptakan takdir untuk mengejar karunia Allah.

Pelatihan Relawan POSDAYA hari kedua dilaksanakan pada Jumat, 27 Mei 2016 di Kampus UNHASY. Bagian paling menarik dari pelatihan hari kedua adalah latihan membuat pemetaan POSDAYA di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Saya mengira kegiatan ini bisa dilakukan dengan mudah, tapi ternyata tidak. Pemetaan POSDAYA mengidentifikasi tingkat kesejahteraan keluarga dan masalah penyebabnya. Penggalian data dilakukan dengan metode wawancara. Wawancara pemetaan keluarga POSDAYA pun tidak bisa dilakukan terlalu formal dan harus fleksibel menyesuaikan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat desa tersebut.

Begitu banyak inspirasi kehidupan yang saya dapatkan dari pelatihan relawan POSDAYA Berbasis Masjid. Salah satu kalimat keren yang membekas dalam ingatan saya adalah:

Datanglah ke tengah masyarakat. Hiduplah bersama mereka. Cintailah mereka. Bicaralah dengan bahasa mereka. Mulailah sesuatu dengan apa yang mereka butuhkan. Lakukan sesuatu dengan apa yang mereka tahu. Bangunlah sesuatu dengan apa yang mereka punya.

Kalimat bijak POSDAYA tersebut menghendaki perubahan berawal dari diri masyarakat, bukan dari fasilitator. Masih menurut Bu Mufidah Cholil, fasilitator berperan memudahkan penggalian potensi sumber daya untuk memecahkan masalah. Satu poin penting dalam pelaksanaan POSDAYA adalah masyarakat bukan laboratorium bagi perguruan tinggi. Fasilitator adalah pemberi daya ungkit bagi proses mengatasi masalah yang ada di masyarakat. Dan dalam proses pemberdayaan keluarga POSDAYA tentu mengalami hambatan yang tidak sedikit. Apapun kondisinya, fasilitator harus mengapresiasi. Apapun bentuk prestasinya, berikan penghargaan untuk masyarakat.

Satu kunci utama dalam program POSDAYA adalah tidak ada superman, yang ada adalah superteam. Semoga artikel ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam membangun masyarakat.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *