Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Pekan lalu menjadi minggu yang menyenangkan sekaligus melelahkan bagi saya. Terlalu banyak kebahagiaan dan tenaga yang tercurah disana. Di tahun 2016 ini Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng merayakan hari lahir (harlah) ke-49 tahun. Sebuah usia yang tidak lagi muda untuk sebuah perguruan tinggi berbasis agama Islam. Selama 49 tahun UNHASY konsisten mendidik bangsa melalui 7 fakultas dan 3 program pasca sarjana serta terbagi dalam 25 program studi (prodi) keilmuan.

Puncak perayaan harlah UNHASY Tebuireng dilaksanakan pada 25 Mei 2016 di Kampus A UNHASY. Sebenarnya hari lahir UNHASY bukan 25 Mei, melainkan 22 Juni 1967. Namun berhubung kalender pendidikan UNHASY pada 22 Juni 2016 mendatang sudah libur panjang, maka acara harlah dimajukan. Tanggal 25 Mei 2016 itu pun sudah mepet sekali dengan pelaksanakan ujian akhir semester genap yang dimulai pada 28 Mei 2016. UNHASY Tebuireng adalah kampus berbasis pondok pesantren sehingga jadwal liburnya tidak sama dengan perguruan tinggi lain di Indonesia.

Dalam perayaan hari lahir UNHASY Tebuireng tahun ini sebenarnya saya tidak memiliki jadwal apapun untuk turut ambil bagian. Saya memang sudah dikontak panitia sejak dua bulan sebelumnya untuk aktif di Divisi Acara. Tawaran itu saya tolak dengan halus dengan alasan saya ingin memberikan peluang kepada yang masih muda untuk tampil di depan. Saya sudah terlalu sering tampil di depan publik UNHASY. Saya pikir regenerasi harus dimulai sejak sekarang.

Itu rencana saya. Namun Allah berkehendak lain. Sehari sebelum acara dimulai saya diminta datang ke kantor panitia harlah UNHASY. Ternyata panitia sedang mengalami krisis personil pembaca acara atau MC. Pelaksanaan acara harlah UNHASY yang berdekatan dengan waktu ujian akhir semester genap menyebabkan banyak mahasiswa berfokus pada ujian dan menarik diri untuk terlibat di dalam kepanitiaan. Singkat cerita, saya pun didapuk menjadi MC di dua sesi sekaligus, yaitu pentas seni dan pengajian umum. Jleb! Saya awalnya kaget dengan permintaan yang luar biasa ini. Tapi bagaimana lagi. Di tengah kepanikan yang melanda panitia saya setidaknya harus ikut membantu mereka.

Dengan bulat tekad saya terima tawaran ngemsi di dua acara sekaligus. Pentas seni dalam rangka peringatan hari ulang tahun kampus UNHASY Tebuireng ke-49 dijadwalkan dilaksanakan pada Rabu, 25 Mei 2016 pukul 13.30 WIB sampai selesai. Kemudian dilanjutkan acara pengajian umum dengan menghadirkan Jamaah Sholawat Seri Rebana Kabupaten Jombang dimulai pukul 19.00 WIB. Saya berpikiran positif pasti ada jeda waktu satu jam bagi saya untuk mengistirahatkan pita suara sekaligus menyiapkan narasi teks pembawa acara.

Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49
Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Meriahnya Musik Patrol Daerah Jombangan

Saat mendengar kabar grup Drum Bank batal hadir di harlah UNHASY, saya tidak terlalu terpengaruh. Namun saat diberi informasi bahwa yang akan hadir diganti dengan Kelompok Seniman Musik Patrol, saya menyambutnya dengan antusias sekaligus ketar-ketir. Saya senang karena ini akan menjadi momen pertama bagi saya untuk ngemsi di hadapan pengisi acara musik patrol. Dulu saya sempat ngemsi untuk Festival Dolanan Anak Jombang, tapi saat itu fungsi saya bukan host utama, tetapi sebagai co-host.

Selain senang, saya juga khawatir ngemsi untuk musik patrol karena kampus UNHASY Tebuireng berada di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng. Tahu sendiri kan bagaimana ketatnya tata tertib pesantren terhadap aktifitas yang melibatkan pria dan wanita bersamaan dalam jumlah massal. Saya sudah pasrah seandainya setelah acara harlah UNHASY ini selesai panitia akan mendapat teguran dari Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari. Ternyata kekhawatiran saya tidak terjadi karena sampai detik ini tidak ada komplain dari pihak manapun terkait penyelenggaraan event harlah UNHASY Tebuireng ke-49.

Saya sadar saya tidak akan mampu ngemsi sendirian di acara pentas seni dengan banyak penampil. Oleh karena itu, tiga jam sebelum acara pentas seni dimulai saya kontak teman-teman mahasiswa dari fakultas sebelah untuk membantu saya. Mereka pun tidak lain sama-sama mantan Gubernur BEM yang sudah lengser keprabon. Ada saya, Laila dan Irfan yang trio ngemsi di atas panggung. Semacam reuni kecil-kecilan antara saya dan Laila yang sempat bekerjasama dalam beberapa event sebelumnya. Namun untuk dapat chemistry dengan Irfan, saya harus belajar selama beberapa menit di awal pertemuan.

Untuk dress code ngemsi kali ini saya pilih formal, santai sekaligus mengandung unsur etnik. Pilihan formal karena ini acara kampus. Kesan santai saya hadirkan dengan pilihan warna ngejreng yang tidak terlalu kaku. Sedangkan nuansa etnik saya ambilkan dari udeng-udeng Jombangan dan Madura yang sempat saya pinjam di salon dekat kampus satu jam sebelum naik pangung. Alhamdulillah, Allah mempermudah semuanya. Sudah ada teman ngemsi, dress code sudah siap pakai, dan penampil pun tidak kalah seru.

Penampil berasal dari UKM Teater Mbureng, UKM Wushu, UKM Persaudaraan Setia Hati Terate, UKM NH Perkasya, Jamaah Mahasiswa Pecinta Sholawat, dan tentu saja kelompok seniman musik patrol Jombangan. Grup patrol yang hadir kali ini berasal dari Desa Catakgayam Selatan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Secara visual, penampilan mereka memang masih terkesan ndeso dan apa adanya. Namun saya bersyukur para penari mau memakai kostum yang menutup aurat mereka, meski agak press body. Setidaknya mereka sudah menyesuaikan diri dengan peraturan lingkungan pondok pesantren.

Acara pentas seni lumayan berjalan lancar dan ramai. Masyarakat sekitar kampus UNHASY tertarik untuk hadir dan menyaksikan penampilan seni dalam rangka harlah UNHASY Tebuireng ke-49. Pentas seni ini berakhir pada pukul 17.05 tepat beberapa menit sebelum qori’ memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran melalui pengeras Masjid Ulul Albab Tebuireng. Saya pun bergegas membersihkan diri untuk menyiapkan teks narasi pembawa acara pengajian umum yang akan menghadirkan Mbah Bolong dan Jamaah Sholawat Seribu Rebana se-Kabupaten Jombang.

Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49
Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Jamaah Sholawat Seribu Rebana Jombang

Tepat pukul setengah tujuh malam saya sudah membersihkan diri dan makan malam. Saya pun mengasingkan diri dari hiruk-pikuk panitia peringatan harlah UNHASY Tebuireng ke-49. Tujuan saya cuma satu, membuat teks narasi pembawa acara. Maklum, penunjukan saya sebagai MC dilakukan tepat sehari sebelum naik pentas. Saya bersyukur sudah mengantongi modal buku-buku ngemsi dan pengalaman sebelumnya sehingga setengah jam kemudian saya sudah menyelesaikan penulisan manual teks pembawa acara. Teks itu juga mengatur siapa saja tokoh pondok pesantren yang akan memberikan sambutan.

Belum lelah usai menjadi host pentas seni, pada pukul tujuh malam saya naik ke pentas dan memulai ngemsi. Auranya kali ini berbeda sekali dengan aktifitas ngemsi sebelumnya. Dengan ditonton ribuan hadirin yang memenuhi lapangan Kampus A UNHASY dan bersanding dengan para kyai Tebuireng, saya jadi merinding. Lelah di badan tidak terasa karena sudah tergantikan oleh kebahagiaan bisa berada di atas panggung dengan orang-orang yang saya kagumi. Terlebih lagi saat para vokalis Sholawat Seribu Rebana mulai mengalunkan nada-nada indahnya, kepala yang lagi pusing karena kurang tidur terabaikan.

Kebahagiaan saat bersenandung sholawat tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Hanya manusia yang menjalaninya yang bisa merasakan. Inilah nilai plus perayaan harlah UNHASY Tebuireng tahun 2016 ini. Mungkin ada banyak cara merayakan ulang tahun atau dies natalis kampus, namun UNHASY Tebuireng memilih sholawat Seribu Rebana sebagai media dakwah sekaligus mendekatkan diri dengan masyarakat di usia yang menjelang setengah abad ini. Sebagian besar anggota jamaah sholawat Seribu Rebana Kabupaten Jombang hadir di malam hari itu, kecuali grup banjari asal desa saya yang absen hadir karena sehari sebelumnya mereka sudah mengisi acara sejenis di Kecamatan Mojowarno.

Nur Hadi atau bisa dikenal sebagai Mbah Bolong dijadwalkan mengisi tausiyah di penghujung acara pengajian. Namun sampai dengan sepuluh menit acara sholawat akan usai beliau belum datang. Penceramah pengganti yang hadir di malam perayaan hari lahir UNHASY Tebuireng adalah KH. Zainal Arifin, M.Pd.I. dari Malang. Tausiyah beliau mengingatkan kepada seluruh jamaah pengajian yang hadir untuk bersuka-cita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Acara pengajian umum selesai pada pukul 23.30 WIB sekaligus menutup peringatan harlah UNHASY Tebuireng ke-49 tahun 2016.

Malam hari itu sungguh menjadi malam yang tak terlupakan. Meski badan sudah capek ngemsi seharian, saya sempatkan diri membantu mengemasi perlengkapan pengajian bersama para panitia lainnya. Kebersamaan dengan panitia seperti inilah yang menjadi pengalaman menarik dan sangat berharga bagi pendidikan organisasi saya selanjutnya. Semoga di ulang tahun yang ke-49 tahun ini Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng makin diterima keberadaannya oleh masyarakat, baik sebagai institusi pendidikan maupun sebagai lembaga dakwah Islam, serta mampu memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi kemaslahatan umat. Aamiin.

Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49
Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

One Reply to “Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *