Analisis Biaya Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami

Productive Muslim - From Pinterest
Productive Muslim – From Pinterest

Dalam pembahasan analisis biaya ini, faktor penggunaan modal sangat menjadi perhatian karena dalam kenyataan ada beberapa sumber modal yang digunakan oleh produsen, sedangkan karakter dari biaya modal sangat tergantung dari sumber penggunaan modal tersebut. Seperti penggunaan sumber modal yang berbasis bunga tentu berbeda dengan sumber modal yang berbasis syirkah atau qardun hasan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah pengenaan bunga terhadap modal akan membawa dampak yang luas bagi tingkat efisiensi produksi?

Untuk menggambarkan keadaan ini, kita akan menggunakan alat bantu grafis yang pada sumbu X menunjukkan jumlah produksi atau jumlah output yang disimbolkan dengan Q (quantity), dan pada sumbu Y menunjukkan biaya dan penerimaan dalam satuan rupiah. Komponen biaya dapat dibagi menjadi tiga yaitu biaya tetap (fixed cost, FC), biaya variabel (variable cost, VC) dan biaya keseluruhan (total cost, TC).

Sedangkan komponen penerimaan merupakan penerimaan keseluruhan (total revenue, TR). Analisis yang paling fundamental untuk menerangkan analisis biaya adalah fungsi hubungan antara biaya produksi dan tingkat output yang akan dicapai dalam satu periode. Dengan kata lain, fungsi biaya akan dipengaruhi oleh berapa besar output yang diproduksi, cost = f (output) Sedangkan bila kita bandingkan formula di atas dengan fungsi output, output = f (input) maka dapat dikatakan bahwa fungsi biaya tidak lain adalah turunan dari fungsi output produksi.

Fixed cost besarnya tidak dipengaruhi oleh berapa banyak output atau produk yang dihasilkan. Oleh karena itu, kurva FC digambarkan sebagai garis horizontal: berapapun output yang dihasilkan, biayanya tetap. Salah satu contoh dari biaya tetap ini adalah biaya bunga yang harus dibayar produsen. Besarnya beban bunga yang harus dibayar tergantung pada berapa banyak kredit yang diterima produsen, bukan tergantung pada berapa banyak output yang dihasilkannya.

Sedangkan nilai variabel cost akan semakin meningkat setiap kali ada penambahan input, dengan demikian, kurva AC berlereng positif ke kanan. Sedangkan total cost adalah penambahan antara AC dan FC. Variable cost besarnya ditentukan langsung oleh berapa banyak output yang dihasilkan. Misal untuk setiap satu kg beras yang dihasilkan diperlukan biaya Rp1.000,00. Berarti untuk memproduksi dua kg beras, biayanya Rp2.000,00, dan seterusnya.

Gambar 6.6 Fungsi Produksi Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami

Dampak Sistem Bunga Vs Bagi Hasil dalam Analisis Biaya

Karakteristik dari sistem bunga dalam analisis biaya produksi adalah adanya biaya bunga yang harus dibayarkan oleh produsen bersifat tetap. Sehingga biaya bunga akan menjadi bagian dari fixed cost, dengan kata lain, berapapun jumlah output yang diproduksi bunga tetap harus dibayar. Konsekuensi lebih lanjut, keberadaan biaya bunga akan meningkatkan total biaya (TC à TCi).

Dengan menggunakan sistem bagi basil hal ini tidak terjadi. Naiknya total cost akan mendorong Break Even Point dari titik Q ke Qi. Untuk mengilustrasikan perbedaan dampak dari penggunaan bunga dan sistem bagi hasil dapat digambarkan berikut. Seorang petani yang menanam padi menghadapi kendala pasar beras sebagai berikut; harga jual beras yang diminta pasar adalah Rp2.000,00 per satu kg, bila dua kg, maka penerimaannya dari penjualan beras adalah Rp4.000,00 dan seterusnya.

Gambar 6.7 Fungsi Produksi Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami

Adanya beban bunga yang harus dibayar produsen sama sekali tidak akan memengaruhi kurva penerimaan. Oleh karena itu, kurva total penerimaan (TR) dalam sistem bunga adalah TRi = TR. Berbeda dengan sistem bunga, pada sistem bagi hasil, kurva fixed cost tidak terpengaruh, tetapi pemberlakuan sistem ini akan berpengaruh terhadap kurva TR (total revenue). Misalkan pada saat masa tanam, si petani membutuhkan sejumlah dana dari seorang shahibul maal. Diasumsikan antara petani dan shahibul maal membuat kesepakatan bahwa nisbah basil adalah 70:30 dari penerimaan (70% untuk petani, 30% untuk pemodal/shahibul maal).

Contoh, bila terjual satu kg, maka bagi basil yang diterima petani adalah Rp1.400,00, sedangkan porsi bagi basil untuk shahibul maal adalah Rp600,-, bila dua kg maka Rp2.800,00 untuk petani dan seterusnya.

Jadi bila dalam sistem bunga yang berubah adalah kurva TC yaitu kurva TC akan bergeser paralel ke kiri atas, sedangkan dalam sistem bagi hasil yang berubah adalah kurva TR akan berputar ke arah jarum jam dengan titik 0 sebagai sumbu putarannya (Lihat gambar 6.8). Semakin besar nisbah bagi basil yang diberikan kepada pemodal (ekstrimnya limit dari nisbah 0:100) maka kurva TR itu semakin mendekati horizontal sumbu X.

Titik BEP adalah titik impas, yaitu ketika kurva TR berpotongan dengan kurva TC, atau secara matematis titik BEP terjadi ketika TR = TC. Dengan berputarnya kurva total penerimaan dari TR menjadi TRrs, titik BEP yang tadinya terjadi pada jumlah output Q sekarang menjadi pada jumlah output Qrs.

Gambar 6.8 Fungsi Produksi Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami

Dari sisi BEP, kita tidak dapat menjawab pertanyaan apakah penggunaan sistem bunga akan membawa perilaku produsen untuk berproduksi pada tingkat output yang lebih kecil, lebih besar atau sama dengan tingkat output sistem bagi hasil? Di kedua sistem ini, kita mendapatkan bahwa Qi > Q dan Qrs > Q

Apakah Qi > Qrs atau Qi < Qrs atau Qi = Qrs ditentukan dari berapa besar bunga dibandingkan dengan berapa besar nisbah bagi basil. Perbedaannya adalah pada penyebabnya, bila Qi disebabkan naiknya TC, maka Qrs disebabkan berputarnya TR. Yang pasti adalah bahwa kedua sistem, baik sistem bunga maupun revenue sharing akan menggeser Q menjadi lebih besar. Kenapa bisa demikian? Logika sederhananya begini, bila si petani dalam memproduksi padi tanpa menggunakan sumber modal dari pihak lain maka si petani akan berproduksi dan menjual berasnya pada jumlah yang menyebabkan atau paling sedikit memberikan keuntungan.

Contoh keuntungan baru akan didapat apabila jumlah beras yang diproduksi minimal 100 kg. Namun, apabila si petani tersebut menggunakan sumber dana (baik dengan sistem bunga maupun bagi hasil) maka tuntutan untuk memenuhi keuntungan minimal adalah lebih besar dari 100 kg. Tuntutan ini sebagai konsekuensi atas pembayaran bunga dan bagi hasil yang harus dibagi ke pihak lain.

Misalkan, dengan adanya konsekuensi pembayaran bunga atau bagi basil, keuntungan minimal baru akan didapat apabila jumlah beras yang diproduksi miniml 120 kg. Dengan demikian, karena adanya konsekuensi pembayaran kepada pihak ketiga, maka produsen akan terdorong untuk memproduksi barang pada jumlah yang lebih besar.

Revenue Sharing Vs Profit Sharing

Dalam akad muamalat Islam, dikenal akad mudharabah, yaitu akad antara si pemodal dengan si pelaksana. Antara si pemodal dan si pelaksana harus disepakati nisbah bagi hasil yang akan menjadi pedoman pembagian bila usaha tersebut menghasilkan untung. Namun, bila usaha tersebut malah menimbulkan kerugian, maka si pemodal yang akan menanggung sesuai penyertaan modalnya, dalam hal ini 100%. Akan tetapi, bila kerugian tersebut disebabkan karena kelalaian atau is melanggar syarat yang telah disepakati bersama, maka kerugian menjadi tanggung jawab si pelaksana.

Gambar 6.9 Fungsi Produksi Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami

Selain menyepakati nisbah bagi hasil, mereka juga harus menyepakati siapa yang akan menanggung biaya. Dapat saja disepakati bahwa biaya ditanggung oleh si pelaksana atau ditanggung oleh si pemodal[1]. Bila yang disepakati adalah biaya ditanggung oleh si pelaksana, ini berarti yang dilakukan adalah bagi penerimaan (revenue sharing). Sedangkan bila yang disepakati adalah biaya ditanggung oleh si pemodal, ini berarti yang dilakukan adalah bagi untung (profit sharing).

Berputarnya TR ke arah jarum jam dengan titik 0 sebagai sumbu putarannya, adalah keadaan yang menggambarkan akad revenue sharing. Bila yang disepakati adalah mudarabah yang biaya-biaya ditanggung oleh si pemodal, atau dengan kata lain, dengan sistem bagi untung (profit sharing), maka kurva total penerimaan berputar ke arah jarum jam dengan titik BEP sebagai sumbu putarannya. Tingkat produksi sebelum titik BEP tercapai (Q < Qps) adalah keadaan dimana total biaya lebih besar daripada total penerimaan (TC > TR).

Dalam keadaan ini, belum ada keuntungan yang dapat dibagihasilkan. Sesuai kesepakatan bahwa biaya ditanggung oleh si pemodal, maka kerugian itu menjadi beban si pemodal. Itu sebabnya kurva total penerimaan TR berputar ke arah jarum jam dengan titik BEP sebagai sumbu putarnya.

Gambar 6.10 Fungsi Produksi Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami

Perbedaan kedua antara sistem revenue sharing dengan sistem profit sharing dalam akad mudharabah adalah pada berapa jauh kurva TR berputar. Dalam sistem revenue sharing, kurva TR akan berputar sampai mendekati garis horizontal sumbu X. Sedangkan dalam sistem profit sharing, kurva TR hanya akan berputar di dalam “mulut buaya” TR dan TC, yaitu area yang menggambarkan besarnya keuntungan. Dalam sistem profit sharing, TR tidak dapat berputar melewati TC, karena pada area itu sudah tidak ada lagi keuntungan yang akan dibagihasilkan.

Tabel 6.3 Fungsi Produksi Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami

Dalam muamalat Islam, sebenarnya akad mudharabah merupakan salah satu bentuk dari akad musyarakah. Bila dalam akad mudharabah ditentukan bahwa penyertaan si pelaksana harus nihil, sehingga penyertaan si pemodal harus 100%, maka dalam akad musyarakah tidak ditentukan seperti itu sehingga yang terjadi adalah penyertaan dari dua orang pemodal.

Antara dua orang pemodal ini harus disepakati nisbah bagi basil yang akan menjadi pedoman pembagian bila usaha tersebut menghasilkan untung. Namun, bila usaha tersebut malah menimbulkan kerugian, maka pemodal yang akan menanggung sesuai penyertaan modalnya. Misalnya si A modal penyertaannya 100 juta, sedangkan si B 200 juta. Mereka sepakat nisbah bagi hasilnya 50:50. Bila usaha mereka untung 10 juta, maka masing-masing pemodal akan mendapat 5 juta. Bila usaha mereka rugi 9 juta, maka si A menanggung 3 juta dan si B menanggung 6 juta.

Secara grafis keadaan merugi digambarkan dengan “mulut buaya bawah” yaitu area sebelum tercapainya BEP (Q < Qps); sedangkan keadaan telah mengalami keuntungan digambarkan dengan “mulut buaya atas,” yaitu area setelah tercapainya BEP. Bagi untung yang terjadi pada “mulut buaya atas” tidak perlu simetris dengan bagi rugi yang terjadi pada “mulut buaya bawah” karena bagi untung berdasarkan nisbah, sedangkan bagi rugi berdasarkan penyertaan modal masing-masing.

[1] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid. Lihat pula Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah.

Referensi: Karim, Adiwarman A. Ekonomi Mikro Islam Edisi Ketiga, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.

2 Replies to “Analisis Biaya Dalam Pandangan Ekonomi Mikro Islami”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *