Apakah Perbedaan Ekonomi Mikro Islam dan Makro Islam?

Hofuf Saudi Arabia - Image taken from Pinterest dot com
Hofuf Saudi Arabia – Image taken from Pinterest dot com

Sebagian kawan-kawan sering menggoda saya, dapat apa sih kamu mempelajari ekonomi Islam siang malam? Apakah perbedaan ekonomi makro dan ekonomi mikro dalam pandangan Islam? Mengapa kita harus menerapkan ekonomi berbasis syariah Islam toh selama ini kita sudah terbiasa dengan sistem ekonomi konvensional? Well, ini bukan masalah apa dan kenapa. Menurut saya ini terkait bagaimana kita memegang sebuah prinsip dengan sebenarnya.

Saya mulai dari ekonomi makro dan mikro. Menurut Adiwarman Karim, pembahasan ekonomi dalam kajian keilmuan dapat dikelompokkan ke dalam ekonomi mikro dan ekonomi makro. Apakah perbedaan ilmu ekonomi makro dan ekonomi mikro? Ekonomi mikro mempelajari bagaimana perilaku tiap-tiap individu dalam setiap unit ekonomi, yang dapat berperan sebagai konsumen, karyawan, investor, pemilik tanah maupun sumberdaya yang lain. Ekonomi mikro juga mempelajari perilaku dari sebuah industri. Ekonomi mikro menjelaskan how (bagaimana) dan why (mengapa) sebuah pengambilan keputusan dalam setiap unit ekonomi.

Contoh penerapan ilmu ekonomi mikro adalah menjelaskan bagaimana seorang konsumen membuat keputusan dan pemilihan terhadap suatu produk ketika ada perubahan pada harga barang atau jasa yang dibutuhkan maupun perubahan jumlah pendapatan yang diterima daam kurun waktu tertentu. Ekonomi mikro juga dapat menjelaskan perilaku industri dalam menentukan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam sebuah proses produksi, kuantitas barang yang dihasilkan dan harga barang terbaik yang dapat ditawarkan ke pasar.

Pembahasan ekonomi mikro konvensional didasarkan pada perilaku individu-individu yang secara nyata terjadi di setiap unit ekonomi. Karena tidak adanya batasan syariah yang digunakan dalam ekonomi konvensional, maka perilaku dari setiap individu dalam unit ekonomi tersebut akan bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma dan aturan menurut persepsinya masing-masing.

Oleh karena itu, ekonomi mikro konvensional memandang bahwa memasukkan tatanan norma tertentu dalam pembahasan perilaku dalam memenuhi kebutuhan ekonominya menjadi tidak relevan. Bahasa sederhananya, ekonomi mikro konvensional tidak membutuhkan aturan norma dalam transaksi ekonomi. Dalam ekonomi konvensional, kita tidak akan pernah menemukan bagaimana perilaku seorang konsumen apabila ia memasukkan unsur pelarangan bunga dan kewajiban untuk mengeluarkan zakat.

Ekonomi konvensional berjalan dengan didasarkan atas logika. Ekonomi konvensional tidak berjalan di atas pertimbangan tidak logis. Mau bukti? Contoh nyata adalah momen berbelanja saat bulan puasa Ramadhan. Ekonomi konvensional tidak bisa menjelaskan mengapa begitu banyak umat muslim mengeluarkan uang untuk membayar zakat lebih banyak dan bersedekah lebih banyak. Saya sendiri pun tidak paham dari mana datangnya uang ketika tiba-tiba masyarakat mampu membeli lebih. Itulah sunatullah.

Contoh kasus lain adalah pada jasa perjalanan haji dan umrah. Apa yang bisa didapatkan oleh orang yang sudah berhaji dan berumroh. Orang pulang haji tidak dapat harta melimpah, tak lebih dari gelar haji. Bahkan kalau ada orang pulang umroh dia tidak bawa gelar apapun. Tapi mengapa bisnis travel haji dan umroh tetap dapat berjalan. Disini ekonomi konvensional tidak dapat menjelaskan karena ekonomi syariah kadang dilandasi oleh pertimbangan tidak rasional.

Semoga artikel sederhana ini bisa menambah wawasan Anda. Enjoy blogging, enjoy writing!

2 Replies to “Apakah Perbedaan Ekonomi Mikro Islam dan Makro Islam?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *