Dimanakah Letak Rasionalitas Kegiatan Ekonomi Islam?

Rasionalitas Ekonomi Islam
Rasionalitas Ekonomi Islam

Masyarakat awam pada umumnya berpandangan bahwa ajaran Islam dipenuhi dengan klenik, magic dan hal-hal yang tidak rasional. Misalnya, mengapa ibadah sholat orang Islam menghadap kiblat, mengapa muslim melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan berbagai pikiran sejenis. Benarkah Islam tidak bisa dijelaskan secara rasional? Kalau bisa, dimanakah sisi rasionalitas muslim dalam kegiatan ekonomi?

Adiwarman Karim mengatakan Ekonom Muslim memberi konsep rasionalitas dalam ekonomi Islam yang lebih luas dimensinya ketimbang ekonomi konven­sional. Rasionalitas ekonomi Islam lebih luas karena tujuan mencapai falah meliputi kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Rasionalitas ekonomi dalam Islam diarahkan sebagai dasar perilaku kaum Muslimin yang mempertimbangkan kepentingan diri, sosial dan pengabdian kepada Allah.

Menurut para ekonom Muslim kontemporer, rasionalitas Islam dalam perilaku ekonomi tidak hanya didasarkan kepada pemuasan nilai guna atau ukuran­ukuran material lainnya, tetapi mempertimbangkan pula aspek­ respek terhadap pilihan-pilihan logis ekonomi dan faktor-faktor eksternal dan harmoni sosial. Hal tersebut tampak dalam pertimbangan tidak logis yang seringkali tampak dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Menurut pendapat saya pribadi, Ekonomi Islam menganut keduanya, baik sisi rasional maupun tidak rasional. Sisi rasional Ekonomi Islam sudah terbukti dengan keteladanan Nabi Muhammad berdagang untuk mencari untung sampai ke negeri Syam. Bahkan karena kemampuan berdagangnya yang hebat dan sifat jujurnya maka Siti Khadijah tertarik dan meminang Nabi sebagai suami melalui perantara paman beliau.

Sisi rasionalitas ekonomi Islam juga tampak dalam pembangunan Kota Madinah setelah Nabi berhijrah kesana dari Kota Mekah. Pembangunan Kota Madinah melibatkan penerapan Piagam Madinah yang mengatur hak dan kewajiban penduduk Madinah secara umum. Tidak mungkin ekonomi Madinah dapat mencapai kejayaan jika tidak dilandasi oleh semangat perdagangan dengan berpikiran rasional.

Selain itu, ada juga sisi tidak rasional dalam praktek ekonomi Islam. Misalnya, kita tidak dapat menjelaskan alasan secara pasti mengapa bisnis perjalanan umroh dapat terus berjalan hingga sekarang. Umat muslim memiliki animo yang tidak pernah surut untuk berkunjung ke Tanah Suci. Padahal apa sih yang bisa didapatkan dari kegiatan umroh selain kepuasan batin. Sepulang umroh, seorang muslim tidak akan berubah jadi kaya mendadak dan jadi jutawan.

Oleh karena itu, baik sisi rasional maupun tidak rasional, keduanya ada di dalam praktek ekonomi Islam. Kedua sifat tersebut terlihat bertolak belakang, namun pada hakikatnya tidak. Untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat nilai-nilai Ketuhanan, Kenabian, Keadilan, Manfaat, dan Keadilan sosial terwujud dalam perilaku kegiatan ekonomi Islam yang berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadist.

Semoga terinspirasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *