Inilah 3 Tingkatan Self-interest Homo Islamicus Dalam Ekonomi Islam

Self-interest Homo Islamicus
Self-interest Homo Islamicus

Apa saja tingkat kehidupan dan motivasi hidup umat Islam dalam bertransaksi ekonomi? Bagaimana peranan akhlaq bagi umat Islam dalam menjalankan kegiatan ekonomi?

Sebagian besar ekonom Muslim berpendapat, misalnya Ibrahim Warde, bahwa dasar pijakan yang membedakan pengertian self-interest antara ekonomi modern dan ekonomi Islam adalah hanya asumsi sifat altruistik manusia. Demikian Arif Hoetoro menulis buku Ekonomi Islam: Pengantar Analisis Kesejarahan dan Metodologi.

Menurut Ibrahim Warde, Islam sangat memperhatikan kesejahteraan individual maupun masyarakat seraya menegaskan bahwa setiap orang haruslah berperilaku taat dan menyesuaikan semua tindakan ekonominya berdasarkan kepada norma-norma agama. Dengan demikian, teori ekonomi Islam mengacu pada doktrin ini dan menganggap bahwa kemuliaan manusia adalah esensial sehingga self-interest dalam motif-motif ekonomi homo Islamicus bersifat sangat unik.

Istilah nafs dalam Al-Quran dapat digunakan untuk memaknai self-interest menurut perspektif ekonomi Islam. Sebagaimana tertulis dalam buku karya Arif Hoetoro, terdapat tiga tingkatan nafs dalam diri seseorang, yakni al-nafs al-amarah, al-lawamah, dan al-nafs al-muthmainnah. Dua tingkatan nafs yang pertama tampak mirip dengan konsep self-interest ekonomi konvensional, sedangkan tingkat yang ketiga memberi pengertian yang lebih luas.

Pada dasarnya selfinterest manusia bertransformasi dari tingkatan paling rendah ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu dari nafs alammarah ke nafs al-lawamah kemudian ke nafs al-muthmainnah. Proses transformasi ini terjadi ketika seseorang mengiringi kegiatan ekonominya dengan nilai-nilai ihsan, yakni selalu merasa dalam pengawasan Allah SWT sehingga dapat menyesuaikan diri dengan etika dan ketentuan syari’at Islam.

Semakin tinggi kesadaran seseorang untuk menyesuaikan orientasi ekonominya dengan nilai-nilai normat agama maka derajat self-interestnya akan semakin tinggi pula hingga ke tingkat al-nafs al-muthmainnah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa derajat positivisasi nilai-nilai normatif Islam dalam ranah ekonomi akan menentukan tingkatan nafs dalam kepentingan-diri homo Islamicus.

Karakter Ekonomi Islam
Karakter Ekonomi Islam

Oleh karena itu, motif-motif ekonomi seseorang tidak dapat dibatasi hanya kepada pertimbangan pragmatis akal sehat tetapi perlu melihatnya lebih jauh bagaimana ketiga tingkatan nafs ini diartikulasikan. Sejumlah ayat dalam Kitab Suci Al-Quran mengapresiasikan proses transformasi self-interest dengan menggunakan istilah perdagangan (tijarah) sebagai bahasa kiasannya, menunjukkan bahwa Al-Quran pun memahami masalah ini sebagai sifat manusia yang fitriah.

Apresiasi yang pertama adalah menyejajarkan self-interest kepada pertimbangan logis dan kesadaran primordial manusia, yakn bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan kejahatan jugs akan dibalas dengan kejahatan. Surat Al-Jatsiyah [45]:15 menyatakan:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih maka itu adalah untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan”.

Sedangkan apresiasi kedua, Al-Quran memotivasi manusia untuk bergerak lebih jauh melampaui batas-batas logika dengan menyebutnya sebagai sebuah perdagangan yang lebih menguntung­kan jika seff-interestnya mau mengikuti tawaran Allah ini. Surat Al. Shaaf [61]:10-11 menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. ltulah yang lebih balk bagi kalian jika kalian mengetahuinya”.

Dari ayat-ayat tersebut, tampak jelas bahwa Al-Quran menghargai self-interest sebagai aspek dasar perilaku manusia. Namun tentu berbeda dengan pemahaman homo economicus, kepentingan-diri di sini mengakomodasi motif ekonomi manusia agar memeroleh kepuasan yang sempurna, yaitu kebahagiaan memperoleh falah.

Oleh karena itu, sepertinya ayat-ayat ini tidak perlu lagi dipahami dengan logika trade-off (meskipun di Surat Al­Shaaf [60]: 10-11 Allah menggunakan gaya bahasa penawaran pertukaran). Ayat-ayat itu perlu dipahami dalam konteks bahwa self-interest itu harus ditransformasikan kepada tingkatan nafs yang paling tinggi.

Saya menyimpulkan, semakin dekat seorang pelaku ekonomi dengan Tuhannya, maka semakin tinggi tingkatan self-interestnya. Hal tersebut sesuai dengan peranan akhlaq sebagai atap bagi rancang bangun sistem ekonomi Islam yang berorientasi kepada pencapaian falah (kesejahteraan) di dunia dan di akhirat.

Semoga terinspirasi!

One Reply to “Inilah 3 Tingkatan Self-interest Homo Islamicus Dalam Ekonomi Islam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *