Kritik Post Autistic Economics dan Perkembangan Ekonomi Islam Kontemporer

Kritik Post Autistic Economics dan Perkembangan Ekonomi Islam Kontemporer - Logo Halal
Kritik Post Autistic Economics dan Perkembangan Ekonomi Islam Kontemporer – Logo Halal

Dalam sejarah ilmu ekonomi, kelompok Post Autistic Economics pernah menyampaikan kritik yang menggugat tendensi monopolisasi metodologis oleh pendekatan neoklasik. Menurut kelompok ini, ekonomi seharusnya didekati melalui berbagai metode yang memungkinkan untuk dijelaskan secara lebih komprehensif, termasuk pula memberikan kesempatan kepada agama untuk ikut serta dalam proses pengembangan teori-teori ekonomi yang lebih pluralistik. Adakah hubungan kelahiran Ekonomi Islam dengan kelompok tersebut?

Tidak ada. Meski demikian kehadiran ekonomi Islam kontemporer tidak dipicu oleh keberadaan para ahli ekonomi yang tergabung dalam kelompok Post Autistic Economics yang menentang kemapanan tersebut. Ekonomi Islam tidak lahir karena adanya kritik tersebut. Ekonomi Islam merupakan ilmu ekonomi yang sudah berkembang sejak jaman Nabi Muhammad walaupun pada saat itu penyusunan literatur ilmu Ekonomi Islam tidak dilakukan penataan serapi ilmu ekonomi modern saat ini. Ekonomi Islam pada masa tersebut sudah menunjukkan kemampuannya dalam menjawab kebutuhan masyarakat, bahkan hingga masa kini.

Kondisi masyarakat yang terus berubah itu pula yang menjadi alasan mengapa masalah metodologi harus terus didiskusikan dalam rekonstruksi Ekonomi Islam, demikian Arif Hoetoro menulis dalam buku Ekonomi Islam yang diterbitkan oleh BPFE Universitas Brawijaya. Secara alamiah, ilmu pengetahuan Islam selalu berkembang dan secara kesejarahan Ekonomi Islam memiliki ragam metodologi yang sangat kaya. Beberapa metodologi dalam ilmu-ilmu Islam yang kita kenal antara lain Ushul Fiqh, Mustholat Al-Hadist, Ulumul Quran, Ushul Al-Din, dan lain-lain.

Ekonomi Islam yang saat ini makin menarik minat banyak orang untuk mempelajarinya ternyata masih sering dipahami secara salah. Sebagian orang ada yang menganggap bahwa Ekonomi Islam bersifat melompat-lompat. Ekonomi Islam yang dibangun pada masa Nabi Muhammad dikatakan bukan sebuah disiplin ilmu yang mapan. Mengapa? Karena mereka berpendapat bahwa tidak ditemukan adanya bangunan pemikiran ekonomi yang utuh seperti halnya ekonomi modern. Mereka berpikiran Ekonomi Islam tak lebih dari perintah agama untuk menjalankan bisnis secara halal dan thoyib.

Sementara itu, sebagian masyarakat yang lain berpendapat bahwa perkembangan studi Ekonomi Islam yang saat ini menunjukkan peningkatan antusiasme tak lebih dari reaksi sesaat dalam merespons perkembangan ilmu modern yang beragam. Kita semua tahu bahwa saat ini negara-negara Barat berlomba-lomba membuka jasa keuangan syariah berdampingan dengan bank konvensional mereka. Hal tersebut didukung oleh fakta bahwa penumpukan modal bisnis dan keuangan dunia saat ini berpusat di Timur Tengah, tepatnya di Kota Dubai. Dunia Barat seolah latah ingin mempelajari semua hal yang berhubungan dengan bangsa Arab, termasuk Ekonomi Islam.

Kenyataannya adalah ilmu Ekonomi Islam sudah menjadi bagian dari pilihan studi mahasiswa jurusan ekonomi di universitas-universitas terkemuka di dunia. Muhammad Syafii Antonio adalah salah satu tokoh Ekonomi Islam asal Indonesia yang sudah dipercaya oleh Oxford University di Inggris untuk mengajarkan ilmu ekonomi berbasis syariah kepada mahasiswa mereka. Dunia telah mengakui Ekonomi Islam sebagai salah satu disiplin ilmu. Meski demikian, kita masih perlu menyimak perkembangan Ekonomi Islam apakah mampu menjawab tantangan realita permasalahan di masyarakat.

Semoga artikel ini bisa memberi inspirasi untuk kemajuan hidup Anda. Sampai berjumpa pada pembahasan Ekonomi Islam selanjutnya. Enjoy blogging, enjoy writing!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

2 thoughts on “Kritik Post Autistic Economics dan Perkembangan Ekonomi Islam Kontemporer”

  1. Orang Barat diam-diam mengakui Islam. Itu sudah jadi rahasia umum. Maka berbahagialah kita yang beragama Islam dan berpengetahuan Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *