Jelajah Kecamatan Kesamben untuk Menemukan Desa Kedung Betik

Gambar Mobil Toyota All New Fortuner

Hari Selasa seharusnya menjadi hari efektif bagi penulis untuk mengajar murid-murid di sekolah. Tetapi tidak untuk hari Selasa kali ini, tanggal 18 Februari 2020. Penulis ijin tidak masuk kerja untuk menghadiri Launching Kampung Dongeng Jombang. Kegiatan berlangsung di Balai Desa Kedung Betik Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang.

Mendengar nama Kecamatan Kesamben saja sudah membuat penulis antusias. Maklum, penulis belum pernah berkunjung kesana sebelumnya. Rasa penasaran menggelitik hati. Terlebih lagi, keluarga penulis memiliki sejarah erat dengan wilayah perekonomian Kecamatan Kesamben di masa lalu.

Penulis berangkat dari arah Mojowarno sekitar pukul tujuh pagi kurang lima belas menit. Penulis sudah mempelajari Google Maps semalam sebelumnya. Ada sedikit gambaran terkait rute perjalanan ke Kesamben untuk pertama kalinya. Penulis memilih rute Mojowarno ke Mayangan via Bulurejo.

Kondisi jalan aspal dari Mayangan hingga Ngumpul Jogoroto kurang baik di musim penghujan. Lubang-lubang besar menganga di tepi dan di tengah jalan. Kondisi ini memaksa penulis untuk meningkatkan kewaspadaan selama berkendara. Kendaraan pelajar dan orang tua murid di sepanjang jalan mampu memperlambat laju lalu lintas pagi ini.

Setelah melalui fly-over Peterongan, penulis melajukan kendaraan ke arah Sumobito. Penulis tahu, tepat di ujung jalan tersebut akan berakhir di Bundaran Sumobito. Namun penulis tidak memilih jalur tersebut. Jalan-jalan sempit di kampung lebih menantang untuk ditaklukkan. Udara pagi dan cuaca mendung memberikan kesejukan selama berkendara.

Perjalanan melewati Balai Desa Plosokerep Kecamatan Sumobito. Jalan aspal di kampung semakin sempit. Sungai dan parit meluap pada sebagian ruas jalan. Penulis tersesat di Menturo. Desa tempat tinggal budayawan Cak Nun ini terlihat lengang di pagi hari. Para warga telah berbalut peluh di tempat kerja masing-masing. Beberapa kelompok pekerja bangunan tampak berkelakar dengan santai.

Penulis kebingungan. Arah mata angin menjadi kabur. Seorang ibu muda terlihat menggendong anaknya. Penulis mendekati mereka untuk bertanya arah ke Kesamben. Si anak berteriak histeris seraya mempererat pelukan di dada ibunya. “Ambil jalan lurus di pinggir tangkis sungai, mas,” ujar si ibu muda.

Usai mengucap terima kasih, penulis bergegas mengejar waktu. Fly over Watudakon telah tampak di depan mata. Kemudian terlihat papan penunjuk arah ke Pagarruyung. Rupanya perjalanan ini sudah terlalu dekat ke arah Kabupaten Mojokerto.

Penulis baru ingat tidak membawa cukup uang tunai saat berangkat tadi. Penulis mampir di ATM Bank BRI Unit Gempolkerep untuk menarik uang tunai. Tepat di depan Indomaret Carangrejo terdapat POM Mini. Penulis mengisi BBM hingga penuh. Duit sudah di tangan dan tangki BBM sudah penuh. Aman deh.

Waktu terus beranjak siang. Acara Kampung Dongeng sudah dimulai. Penulis masih berjibaku dengan rute perjalanan menuju Kedung Betik. Kendaraan lewat di bawah gapura Desa Jombatan. Ternyata nama Jombatan tidak satu. Di Kecamatan Ngoro ada nama Dusun Jombatan. Di Kecamatan Jombang ada Kelurahan Jombatan.

Desa Jombatan Kecamatan Kesamben adalah tempat tinggal orang tua penulis di tahun 70-an. Saat itu penulis belum lahir. Emak sering bercerita pengalamannya selama tinggal di Jombatan. Pekerjaan beliau pasa masa itu adalah produsen tepung aren. Pada musim penghujan beliau bekerja menangkap ikan di anak sungai Kali Brantas. Tak terbayangkan seandainya orang tua penulis masih menetap di Jombatan. Pasti jalan hidup penulis akan berbeda dibanding sekarang.

Sejenak jalanan Desa Jombatan menyeret imajinasi penulis saat berkendara. Berbagai pengandaian buru-buru penulis hapus. Kendaraan melaju terus. Hati ini terasa tenang saat terbaca papan nama masjid Desa Kedung Betik. Ah, perjalanan yang panjang akan segera terhenti.

Lima menit kemudian terlihat Kantor Desa Kedung Betik. Pantat terasa panas akibat perjalanan selama 90 menit. Untungnya tadi penulis sempat bertanya sebanyak lima kali kepada warga setempat. Turun dari sepeda motor sejenak bisa melemaskan persendian yang kaku selama berkendara.

Bagikan tulisan ini:

3 Replies to “Jelajah Kecamatan Kesamben untuk Menemukan Desa Kedung Betik”

  1. Memang seperti itulah idealnya hidup ini. kita jangan sampai terkungkung oleh rutinitas pekerjaan yang bikin stress. sekali-sekali bolehlah kita jalan-jalan memecahkan kebosanan bekerja dengan mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah kita datangi sebelumnya.

  2. Emang benar sekali mas. Sesekali kita harus keluar dari rutinitas dan memecah kebuntuan pikiran dengan jalan-jalan ke daerah yang baru pertama kali di kunjungi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *