Wajahmu Mengalirkan Ide Bagiku

Artikel tentang tips menggali ide ternyata masih banyak yang mencari. Iseng-iseng saya buka Google untuk memantau jumlah pesaing web yang menulis kiat menggali ide menulis. Lumayan banyak, dan pencarinya juga banyak. Keadaan ini tidak mengherankan. Karena saat ini kemampuan antar blogger hampir sama. Antara pemula dan yang sudah tahunan nggak jauh beda. Pakai panduan yang sama, hosting yang sama, mentor yang sama dan tahap-tahap yang sama pula tentunya.

Disinilah artikel-artikel menggali ide laris manis diburu. Padahal yang cari paling-paling orang yang sama. Kalau nggak tukang spinner ya blogger yang lagi kejar setoran menulis artikel. Hehehe. Ini masalah klasik dan dihadapi sejuta umat. Sebagai pemanasan bagaimana mencari ide menulis, berikut ini saya cuplik petikan wawancara Perspektif Baru.Com dengan Helvy Tiana Rosa, salah satu sastrawan produktif novel di tanah air.

Ketika anda mendapatkan ilham atau tema yang ingin ditulis, apa yang anda lakukan sebelum anda menulis ?

Kadang-kadang saya mendapatkan ide, dengan melihat wajah suami, lihat wajah anak, atau dalam bis, tiba-tiba dapat ide. Apa yang akan saya lakukan setelah mendapat ide, biasanya tergantung dari apa yang ingin saya tulis. Misalnya pada tahun 1990-an, saya sangat tertarik dengan kejadian-kejadian di Palestina, Bosnia, maka saya menulis cerpen dengan settingnegara-negara tersebut. Kemudian di buku saya yang terbaru, ada antologi bersama, judulnya ‘Lelaki Semesta’, idenya karena saya tertarik dengan kasus Ba’asyir. Buat saya Ba’asyir adalah korban konspirasi dan saya tidak bisa melakukan apa-apa selain berdo’a semoga keadilan ditegakkan misalnya.

Mungkin sama dengan Seno (Red : Gumira Adjidarma), ketika Seno merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Indonesia terhadap Timor-Timur, maka dia membuat cerpen begitu banyak tentang Timor-Timur. Itu juga yang saya lakukan, karena saya tidak bisa melakukan apa-apa, maka saya membuat cerpen. Mungkin saat ini saya sedang membuat cerpen yang ada kaitannya dengan Munir. Begitu prosesnya, walaupun tidak semua cerpen saya kontekstual artinya sesuai dengan situasi terkini sebagaimana cerpen-cerpen koran pada umumnya. Tapi ketika sesuatu menyentuh nurani, saya merasa harus melakukan sesuatu, tapi tidak punya akses yang banyak. Maka yang bisa saya lakukan barangkali melawan dengan cerpen.

Sumber: PerspektifBaru.Com

 

Hah…! Ternyata gampang banget ya gali ide dari lihat muka suami, isteri, anak dan anggota keluarga lainnya. Kalau tiap hari kita ketemu mereka, harusnya sih kita bisa lancar menulis tiap hari. Ini mirip jurus lirak-lirik dari Creathinx yang pernah saya bahas dalam artikel terdahulu. Ide itu ada di hadapan kita. Tinggal peka apa tidak kita melihatnya.

Tapi mengapa aku masih seret ide? Tenang, beib. Banyak hal yang mempengaruhi kelancaran menulis. Misalnya kondisi kesehatan tubuh, lingkungan tempat tinggal, motivasi diri, waktu menulis dan tentu saja kebiasaan menulis alias sering praktek. Ada banyak teman blogger yang curhat ke saya pengen bisa rajin nulis artikel tapi… mereka sendiri nggak mau latihan menulis sejak dini. (Kata Ican sih: ngomong tuh sama kaki… )

Berikut ini saya sajikan beberapa wajah blogger keren dari Indonesia. Latihan menulis yuk! Apa yang terlintas dalam pikiran Anda waktu lihat foto-foto mereka? Ayo ikuti tantangan kali ini.

[book id=’2′ /]

49 Replies to “Wajahmu Mengalirkan Ide Bagiku”

  1. Saya bukan prodigy dalam menulis, jadi saya enggan untuk membuat ide mengalir 🙂 – biarkan saja begitu, kalau waktunya tiba, toh akan datang juga.

  2. kalau dari satu wajah belum bisa mas agus, hehe, biasanya banyak wajah, suatu peristiwa, jadi deh ide menulis.

  3. Saya sering setiap ingin menulis tidak konsentrasi mungkin ini yang dinamakan kurangnya greget dan motivasi diri, jadi akhirnya mengurungkan niat untuk menuangkan ide dan inspirasi yang sudah didapatkan.
    Walaupun demikian agar tetap semangat saya tidak jauh-jauh dari dunia blogsphere, suka blogwalking sana-sini ibaratnya pedagang keliling via OL.

  4. “Apa yang terlintas dalam pikiran Anda waktu lihat foto-foto mereka?” Cuma bisa senyum aja ane, nggak keluar ide blas buat menulis. Menurut saya ide itu spontan & fleksibel, jadi tiap orang dari mana ide itu diperoleh melalui jalan dan cara yang berbeda.
    😀

    Nice post. Thank infonya gan.

      1. Setuju mas Agus. Kalau orang senyum menandakan jiwa senang, kalau jiwa senang pikiran terbuka, kalau pikiran terbuka nulis kan jadi enak. Hehe…

        Benar nggak mas Agus.
        😀

  5. Waduh . .
    jadi malu . .
    senyum saya terlalu lebar heheeheh .. . 😀
    Kalau saya menggali ide dari apa yang saya lihat dan renungkan .. sesuai kepribadian saya yang suka mengamati daerah sekitar hehe
    Jika sudah mendapat ide,langsung buat diskripsi atau minimal membuat judul.Karena judul akan membuka jalan untuk mendapatkan ide berikutnya..

  6. Menulis di blog kalau diimbangi dengan menulis di catatan di buku atau kertas pasti akan semakin kaya ide yang muncul. Misalkan saat mas Agus mengikuti seminar dan menuliskan notulennya, kalau dituangkan dalam blog pasti sudah jadi beberapa posting tuh… Namun memang terkadang kebiasaan kita yang tidak cepat2 menuliskan ide itu jadi hambar lewat begitu saja. Itu yang sering saya alami, lupa mau menulis apa kemarin

    1. Bikin coretan itu sering saya alami kalau lagi dalam forum diskusi. Kalau nggak di notulen ya di HP. Sewaktu-waktu kalau lagi kering ide bisa dieksekusi. Makasih tambahannya.

  7. di tengah sibuknya pekerjaan, saya selalu menyempatkan beberapa paragraf untuk menulis artikel untuk blog, saya sangat setuju dengan Mas Agus, memang kita harus mengandalkan beberapa intuisi untuk menulis, salah satunya adalah faktor lingkungan, maksud saya adalah lingkungan pekerjaan yang memaksa saya untuk terus menulis dan menulis…sampai akhirnya saya bisa mencapai tujuan akhir yaitu mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari yang sekarang saya dapatkan dari kegiatan blogging….

    salam sukses

  8. I recently arrived throughout your posting and are currently analyzing along. We need to communicate my personal appreciation of your crafting skill and ability to make audience study through the use of the commencing towards the end. I would like to study newer articles and to write about my ideas along with you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *