Setiap Penulis Lepas Adalah Bunglon Online

gambar burung dan bayangannya
gambar burung dan bayangannya

Beragam latar belakang dan karakter klien menempatkan seorang penulis lepas sebagai seekor bunglon online. Hal ini memunculkan beragam gaya penulisan dari satu sumber pemikiran.

Apa jadinya kalau seorang ghost writer mendapatkan klien dengan berbeda-beda karakter dan latar belakang pendidikan, budaya, dan strata ekonomi? It doesn’t matter. Resiko yang dihadapi memang demikian adanya. Kadang mereka harus jadi tegas, tak kenal kompromi dan menciptakan kesan wibawa. Namun di lain pihak harus bisa mengadopsi karakter lain yang terkesan melow, puitis, mengharu biru dan menyentuh kalbu. Oww, so sweet!

Perilaku ini menghasilkan julukan baru bagi para ghost writer yang bekerja di internet. Salah satu teman saya ada yang nyeletuk, “Kamu tuh emang bunglon online. Menclok sana menclok sini berganti-ganti warna kulit…” Saya cuma tersenyum menanggapi ucapannya. Inilah hukum ekonomi, ada permintaan dan penawaran. Klien punya ide lalu ghost writer membantu menuangkan ide tersebut. Impas kan?

Referensi Pendalaman Karakter

Masalahnya adalah bagaimana memiliki beraneka karakter dan menjiwai sifat tersebut sementara pada dasarnya manusia memiliki satu kecenderungan karakter yang tetap? Abda nggak perlu menjadi seorang psikopat yang berkepribadian ganda untuk bisa menyelami karakter orang lain. Tidak juga harus minum formula ajaib Profesor Ling-ling supaya bisa berubah menjadi sosok baru dalam tempo tertentu.

Ada banyak sumber yang bisa Anda dapatkan di internet maupun buku cetak mengenai jenis-jenis karakter manusia dan kecenderungan sikapnya. Kuncinya adalah jangan malas membaca. Kalau saya sendiri kadang kala meluangkan waktu membaca novel-novel tebal terjemahan dari luar. Alasannya adalah karakter mereka lebih bermacam-macam dan bisa jadi hal tersebut adalah sesuatu yang baru yang berbeda dari novel produksi dalam negeri.

Saking mendalami karakter (kayak main filem aja ya) kadang saya membayangkan diri saya menjadi si klien tersebut. Saya berdiri, bergerak, berbicara, berpikir dan bertindak menurut karakternya. Ini juga yang saya ajarkan kepada beberapa teman sesama ghost writer yang gabung saya. Meski awalnya mereka menolak dengan alasan terlalu mendramatisir profesi, tapi lama-lama mereka bersedia menerima karena tips ini terbukti bisa mengalirkan ide lebih lancar.

Satu hal yang perlu dihindari adalah jangan membayangkan diri berperilaku seperti karakter dalam sinetron. Apalagi kalau ngefans sama salah satu artis, biasanya kita akan terjebak kepada model perwatakannya. Memperhatikan gaya Teuku Wisnu merayu Shereen Sungkar bukanlah referensi terbaik dalam hal ghost writing. Selamat menulis.

Enjoy Blogging, Enjoy Writing!

16 Replies to “Setiap Penulis Lepas Adalah Bunglon Online”

  1. ampe2 tengku wisnu segala dimasukin..??coba masukin mas lutvi, dan bayangin..kapan ya kita sukses seperti mas lutvi..???
    betul juga ya, tampa menjiwai suatu karya maka seolah2 karya tersebut mati alias tanpa bekas atu juga ga ngefek ampe hati..uis bahasa na ampe dalam gini ya… šŸ™‚

    nama na juga usaha mau ga mau kita harus mewujudkan apa yang diinginkan oleh boz au klien, klo ga ya mereka ga mau membayar kita..ya ga??

  2. kudu membayangkan menjadi diri klien mungkin salah satu hal yang terbaik yo mas šŸ™‚
    walah masa sampe pemeran sinetron di gowo” :p

  3. memang bener mas,, ketika kita sudah menjadi penulis lepas akhirnya kita menuuruti klien apa yang dia minta kita berusaha untuk mengikuti nya (kalo ingin dibayar) namun kita juga berhak memilah mana yang akan kita tulis dan mana yang tidak sesuai dengan keinginan kita. salam hidup sukses mas !!! šŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *