Kumpulan Kata-kata Bijak Dan Petuah Dari DT Suzuki

Pertunjukan Barongsai Pada Peringatan Wafatnya Gus Dur di Tebuireng
Pertunjukan Barongsai Pada Peringatan Wafatnya Gus Dur di Tebuireng

DT Suzuki adalah salah satu tokoh spiritual agama Buddha terkenal yang berasal dari Jepang. Kata-kata bijak dari DT Suzuki memberi inspirasi bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan Asia Timur. Kata-kata mutiara DT Suzuki berangkat dari pemikiran dunia mistisisme Timur yang seringkali memiliki keterkaitan erat dengan penemuan ilmu pengetahuan modern dari dunia Barat. Berikut ini saya bagikan kumpulan kata-kata bijak dari DT Suzuki.

Bukankah mengejutkan mengetahui bahwa seantero langit termasuk benda-benda bercahaya, yang cahayanya diukur mencapai bumi ini setelah berjuta-juta tahun, dikatakan hanyalah gelembung-gelembung di dalam samudera kekosongan abadi?

Pengalaman pribadi adalah fondasi filsafat Buddhis. Dalam pengertian ini Buddhisme adalah empirisisme radikal atau eksperimentalisme.

Kekosongan adalah hasil dari suatu intuisi dan bukan hasil penalaran. Prajalah yang melihat ke dalam semua implikasi kekosongan, bukan intelek.

Dunia orang yang telah mencapai satori (pencerahan spiritual) bukan lagi dunia lama sebagaimana biasanya. Dinyatakan secara logis, semua pertentangan dan kontradiksinya disatukan dan diharmoniskan ke dalam suatu keseluruhan organis yang konsisten.

Logika biasa adalah alat yang paling bermanfaat di dalam kehidupan praktis kita, tetapi roh atau hal yang menempati bagian terdalam keberadaan kita memerlukan sesuatu yang sangat tak konseptual, yaitu sesuatu yang langsung dan jauh lebih tajam daripada pemikiran belaka.

Kata-kata Mutiara Agama Buddha Dari DT Suzuki

Pada umumnya kita membedakan antara sebelah dalam dan sebelah luar, tetapi pembedaan itu tidak lebih daripada suatu bentuk konstruksi pikiran. Ubahlah posisi itu, dan apa yang di sebelah dalam adalah yang di sebelah luar, dan apa yang ada di sebelah luar adalah yang di sebelah dalam.

Ketika kita melihat sebatang pohon dan menyebutnya pohon, kita menganggap pengalaman indera ini sudah paripurna, tetapi sebenarnya pengalaman indera ini mungkin ada hanya bila ia dikonseptualisasikan. Sebatang pohon bukanlah pohon sampai ia dimasukkan ke dalam konsep ‘pohon’. Tathata ialah apa yang mendahului konseptualisasi ini, ia berada bahkan sebelum kita mengatakan ia adalah atau ia bukan.

Kesulitan utama dengan pikiran manusia adalah sementara ia mampu menciptakan konsep untuk menafsirkan kenyataan, ia menganggap dan memperlakukan seakan-akan hal-hal itu nyata. Bukan hanya itu, pikiran menganggap konsep yang dibentuknya sendiri sebagai hukum-hukum yang dipaksakan dari luar kepada kenyataan, yang harus dipatuhinya agar dapat menyingkapkan diri. Sikap atau asumsi ini di pihak sang intelek membantu pikiran memperlakukan (secara dangkal) alam untuk maksud-maksudnya sendiri, tetapi pikiran tidak menangkap sama sekali cara kerja kehidupan batin (yang mendalam) dan akibatnya benar-benar tidak mampu memahaminya.

Apa yang disini kita lihat, ditampilkan, atau dipertunjukkan adalah bayangan-bayangan sesuatu yang tengah lewat di belakang, dan bila yang terakhir pada akhirnya tidak dipahami oleh pengalaman kita, maka makna bayangan-bayangan yang tengah lewat tidak akan pernah dikenali atau dinilai dengan tepat.

Semoga artikel ini bisa menjadi bahan renungan untuk menambah motivasi hidup Anda. Enjoy blogging, enjoy writing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *