Bagaimana Asal Mula Proses Pembentukan Tanah dari Batuan yang Keras?

Wisata Banyu Mili di Carang Wulung Wonosalam Jadi Obyek Wisata Terbaru dan Kekinian di Jombang
Wisata Banyu Mili di Carang Wulung Wonosalam Jadi Obyek Wisata Terbaru dan Kekinian di Jombang

Hai kawan blogger Jombang! Bagaimana kabar Anda hari ini? Pada artikel The Jombang Taste sebelumnya sudah kita bahas sejarah manusia purba dalam usaha memenuhi kebutuhan makan. Selain itu, kita juga sudah membahas jenis-jenis lapisan tanah pertanian. Nah, pada artikel pertanian kali ini akan penulis bahas proses terjadinya tanah. Bagaimana asal mula batu-batu keras bisa berubah menjadi tanah yang subur? Mari kita bahas bersama.

Pada siang hari panas matahari menyebabkan batuan yang keras mengembang. Pada malam hari, atau pada waktu hujan, batuan itu menyusut kembali. Perubahan suhu yang tiba-tiba, membuat batu itu terpecah-pecah. Karena telah terpecah-pecah, maka permukaannya menjadi bertambah luas. Oleh karena itu, makin bertambah banyak air dan udara yang dapat mengenainya.

Dengan pengaruh sinar matahari, terjadilah senyawa antara batuan itu dengan air dan udara. Air memang memegang peranan penting dalam peristiwa pemecahan batu-batuan. Tetesan-tetesan yang berlangsung terus-menerus, dapat menimbulkan lubang-lubang pada batuan. Sedangkan butiran-butiran yang sangat halus dari batuan tersebut larut dalam air. Terutama sekali, garam-garam mineral yang terkandung di dalam batuan itu, lebih mudah terlarutnya.

Karena garam-garam yang terkandung di dalam batu tersebut hancur dan larut, maka batu itu tentu akan pecah pula. Air hujan yang cukup lebat, tentu akan mengalir dengan deras. Alirannya menghanyutkan batu-batu atau pecahan batu, dan membawanya ikut dalam alirannya. Batu-batu yang hanyut itu berbenturan satu sama lain. Benturan-benturan ini menyebabkan pula ausnya batu-batu tersebut.

Dalam peristiwa yang berulang-ulang ini, akhirnya batu-batu tersebut menjadi makin kecil. Akhirnya batu-batu yang kecil tersebut berubah menjadi butiran-butiran pasir dan tanah. Selain itu, ada satu fakta yang tidak boleh kita lupa bahwa di dalam udara, terdapat gas-gas oksigen dan gas asam arang. Ilmuan menyebutnya oksigen (O2) dan zat asam arang (CO2). Kedua gas tersebut ternyata berperan besar dalam proses pembentukan tanah dari bebatuan. Kok bisa ya?

Penjelasan ilmiahnya adalah sebagai berikut. Dengan proses kimia, oksigen dapat memecahkan batuan. Terutama sekali batuan yang mengandung zat besi. Sebaliknya, zat asam arang dapat menghancurkan batuan yang mengandung zat kapur. Lagi pula, batuan yang mengandung banyak zat kapur juga mudah hancur oleh air. Air yang mengandung zat asam arang akan lebih mudah lagi menghancurkan batuan yang mengandung kapur.

Peran Jasad Pengurai

Pada batuan yang padat dan keras tidak mungkin tanaman dapat tumbuh. Tetapi lumut dan alga masih dapat tumbuh di situ. Apabila di celah-celah batuan itu telah terkumpul butiran tanah, dapat pula ditumbuhi semak-semak liar. Tumbuhan ini menghisap garam-garam mineral dan bila tumbuhan itu mati maka akan membusuk di dalam celah-celah tersebut

Pembusukan tumbuhan akan membentuk bunga tanah, kemudian di atasnya dapat tumbuh lagi tumbuhan lain. Akar-akar tumbuhan itu akan memperbesar celah-celah di dalam batuan induk. Sementara itu, tumbuhan itu mengeluarkan zat asam arang, sehingga membantu proses penghancuran batuan tersebut.

Di dalam tanah hidup pula binatang cacing tanah dan juga sering terdapat rayap atau serangga lain. Mereka ini semuanya merupakan tenaga bantuan yang baik bagi proses pemecahan tanah, sebagai lanjutan dari proses pemecahan batuan. Mereka menggali lubang-lubang yang dalam. Mereka pun membuat sarang-sarangnya di dalam lubang-lubang yang mereka gali.

Tanah-tanah bekas galian mereka yang halus, mereka angkut ke permukaan. Dengan demikian, mereka adalah peserta-peserta yang baik dalam proses pemecahan tanah. Celah-celah dan lubang-lubang di dalam tanah itu, menyebabkan udara, air dan sinar matahari dapat mencapai batuan. Dengan demikian, terjadi lagi proses pemecahan secara kimiawi. Proses pemecahan yang dilakukan oleh makhluk-makhluk hidup di sebut proses organis.

Perlu ditambahkan lagi proses pemecahan yang dilakukan oleh bakteri-bakteri. Di dalam tanah, terdapat banyak sekali bakteri-bakteri. Bakteri-bakteri ini merubah sisa-sisa tumbuhan ataupun sisa hewan yang mati menjadi bunga tanah. Demikian juga halnya dengan beberapa jenis jamur. Oleh karena itu, bakteri serta jamur-jamur ini sering pula disebut jasad pengurai.

Bunga tanah yang bercampur dengan tanah akan membentuk tanah pertanian yang baik. Selain dikenal sebagai jasad pengurai, bakteri juga merupakan penghasil zat lemas (N) kepada tumbuhan. Akhirnya, kita telah mendapat tanah yang cocok untuk bercocok-tanam dan bertani. Lalu, bagaimanakah susunan tanah pertanian yang baik?

Tanah tidak hanya tersusun dari satu unsur saja. Selain itu, tanah juga bukan benda yang pejal, melainkan butir-butir yang berongga-rongga halus. Rongga-rongga halus ini disebut pori-pori. Pada umumnya, di dalam pori-pori ini terkumpul air dan udara. Akar-akar halus pun dapat pula memasukinya.

Unsur-unsur yang ikut menyusun tanah ada bermacam-macam. Menurut bentuknya, kita dapat membedakan tiga jenis unsur, yaitu unsur padat, cair dan gas. Unsur yang padat terdiri dari benda-benda organis dan anorganis.

Benda-benda organis berupa sisa-sisa tanaman atau hewan serta bakteri yang telah mati. Unsur ini merupakan zat makanan utama bagi tumbuhan. Benda-benda anorganis terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran. Benda-benda anorganis berupa pecahan-pecahan batuan yang mengandung zat-zat mineral. Inilah bahan utama dari butiran-butiran tanah yang kelak dapat berubah menjadi tanah yang subur.

Demikianlah penjelasan singkat proses pembentukan tanah dari batu. Ternyata tanah yang kita gunakan bertanam sayur dan bunga telah melalui proses yang panjang ya kawan. Proses tersebut telah berlangsung sejak sebelum kita lahir ke dunia. Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah menganugerahkan alam Indonesia yang subur kepada kita semua. Semoga artikel The Jombang Taste ini bisa menambah wawasan Anda. Sampai jumpa dalam artikel The Jombang Taste berikutnya.

Daftar Pustaka:

Pratignyo, S.J. 1984. Tumbuh Pada Tanah Dan Tumbuh Tanpa Tanah. Jakarta: CV. Karya Indah.

Bagikan artikel ini melalui:

4 Replies to “Bagaimana Asal Mula Proses Pembentukan Tanah dari Batuan yang Keras?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *