Indikator yang Tidak Adil dalam Menilai Keberhasilan Pendidikan Anak

Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang
Hari Pertama Masuk Sekolah dengan Penghargaan Siswa Teladan Program Ramadhan Muatan Lokal Keagamaan di SDN Latsari Kec Mojowarno Kab Jombang

Sangat disayangkan, keberhasilan pendidikan Indonesia masih diliputi ketidakadilan. Disaat masih banyak anak-anak berprestasi asal Indonesia yang mengharumkan nama bangsa, ternyata indikator menilai prestasi pendidikan yang ditempuh oleh anak tidak selalu terlihat adil. Selama ini Pemerintah, guru, bahkan orangtua menilai keberhasilan pendidikan seorang anak dari nilai beberapa mata pelajaran utama. Tiga atau empat buah mata pelajaran itu yang dipilih sekolah untuk menjadi standar kelulusan dan indikator keberhasilan pendidikan seorang anak atau siswa.

Sudah waktunya kita mengubah cara berpikir dalam mendidik anak. Indikator keberhasilan pendidikan tidak hanya dinilai dari angka, tetapi juga perubahan perilaku anak dalam kehidupan nyata. Apakah anda bisa menjamin bahwa seorang siswa juara kelas yang selalu meraih nilai sempurna di dalam jam mata pelajaran utama memiliki tingkah laku yang sopan dan berbudi luhur? Apakah anda bisa yakin seorang murid peraih ranking 1 di kelasnya memiliki empati sosial terhadap orang-orang di sekitarnya?

Kini saatnya anda kembali merenungkan betapa kejamnya penilaian kita terhadap anak-anak dan murid sekolah selama ini. Sadarkah Anda bahw selama ini kita menganggap nilai buruk yang didapat oleh para siswa sebagai bukti kegagalan proses pendidikan yang mereka tempuh di sekolah. Anda mungkin lupa bahwa setiap anak memiliki latar belakang keluarga, kehidupan ekonomi, dan sosial budaya yang beragam. Setiap anak memiliki tantangan dan masalah kehidupan yang unik dan hal ini ini secara tidak langsung akan mempengaruhi kemudahan mengakses beragam layanan dan fasilitas pendidikan di Indonesia.

Jika indikator kesuksesan pendidikan siswa di sekolah dan perguruan tinggi dilihat dari nilai yang tertera di ijazah yang mereka dapat maka sekolah dan perguruan tinggi akan menghasilkan lulusan yang cerdas secara pikir namun bebal dalam beramal baik. Apakah kondisi ini yang anda harapkan untuk Indonesia dalam kurun waktu puluhan tahun mendatang? Tentu saja tidak.

Kita semua mengharapkan yang terbaik bagi pendidikan anak-anak di Indonesia. Idealnya, para orang tua selalu mengharapkan anak-anak mereka memiliki kecerdasan pikir, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual yang sama bagusnya. Sayangnya, dua jenis kecerdasan terakhir dianggap tidak menjadi aspek penilaian penting dalam keberhasilan pendidikan anak.

Fun games kerjasama murid sekolah dasar
Fun games kerjasama murid sekolah dasar bermanfaat untuk menumbuhkan semangat gotong-royong dan tanggungjawab terhadap tugas yang didapatnya.

Kurikulum pendidikan di Indonesia telah berganti berulang kali namun indikator keberhasilan pendidikan masih tidak bergeser dari paradigma nilai yang tertulis di selembar ijazah. Jika itu yang terjadi lalu apa gunanya pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk para guru dan pendidik di berbagai lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta di Indonesia? Ada baiknya kita renungkan sejenak mengapa tingkat kenakalan remaja saat ini semakin meningkat. Mungkin kenakalan mereka itu muncul sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan penilaian keberhasilan pendidikan yang telah mereka jalani.

Bagi guru dan orang tua di Indonesia, mulai sekarang hendaknya kita tidak mendiskreditkan anak-anak yang memiliki nilai jelek di sekolahnya. Barangkali memang anak itu belajar pada lingkungan yang tidak sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Anda tetap bisa memacu prestasi anak-anak di luar kegiatan sekolah. Kehidupan sosial bermasyarakat memungkinkan setiap individu untuk berprestasi di berbagai bidang kehidupan. Mungkin anak Anda tidak jago dalam hal menyelesaikan soal matematika tapi bisa saja ia kelak menjadi peternak kambing yang sukses di masa depan. Seringkali anak-anak yang dianggap gagal saat belajar di sekolah justru mencapai kesuksesan ketika melakukan wirausaha di kehidupan nyata.

Satu hal lagi yang perlu anda perhatikan bahwa roda Kehidupan terus berputar. Mungkin saat ini anda sebagai orang dewasa mampu menjadi penilai dari sikap anak-anak dan remaja, entah adil atau tidak, penilaian Anda dianggap sebagai suatu kebenaran. Tidak menutup kemungkinan 20 tahun kedepan justru Anda yang akan dinilai oleh anak-anak yang saat ini sedang giat belajar dan berwirausaha. Pada saat itulah anda akan menyadari betapa tidak adilnya kita menilai anak-anak jika keberhasilan pendidikan itu dilihat dari jumlah nilai pada selembar kertas ijazah.

Mari bersama-sama mendukung dan memotivasi setiap anak di Indonesia agar meraih prestasi terbaik sesuai bidangnya. Mungkin ia tidak pandai dalam pelajaran di sekolah namun bisa saja ia memberikan sumbangsih yang berharga bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Berikanlah sebanyak mungkin pengalaman hidup yang berharga bagi anak. Kita tidak tahu minat dan bakat anak yang mana yang kelak akan memberikan kesuksesan bagi masa depan mereka. Hal penting yang dapat kita lakukan hanyalah menyediakan wadah yang tepat bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan dan keterampilan terbaik mereka. Selamat mendidik.

Bagikan tulisan ini:

One Reply to “Indikator yang Tidak Adil dalam Menilai Keberhasilan Pendidikan Anak”

  1. Seharusnya ada keseimbangan antara penilaian yang terlihat oleh mata maupun penilaian yang kasat mata. Anak-anak adalah makhluk yang unik. guru harus jeli menilai dari berbagai aspek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *