Rasa Cemas Menjelang Hari Pertunangan, Wajarkah?

Pelatihan Kerajinan Tangan Membuat Mahar Pernikahan oleh Mahasiswa KKNT UNHASY di Desa Asemgede
Pelatihan Kerajinan Tangan Membuat Mahar Pernikahan oleh Mahasiswa KKNT UNHASY di Desa Asemgede.

Malam ini merupakan malam yang terasa berputar sangat panjang bagi penulis. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hati mengingat esok hari akan dilaksanakan pertunangan atau khitbah. Seharusnya pertunangan esok hari akan menjadi waktu yang paling membahagiakan dalam hidup penulis, tanpa tersisa sedikitpun rasa cemas, sedih, maupun gelisah. Tapi kenyataan tidak selalu sejalan dengan harapan.

Menjelang pelaksanaan pertunangan seperti saat ini, pada umumnya rasa cemas itu selalu hadir. Kecemasan timbul bukan karena kita tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan dan belanja secara finansial, namun hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana kelanjutan keluarga dan orang tua yang kita tinggalkan setelah hari-hari bertunangan berlanjut. Apalagi jika sampai pada menginjak masa pernikahan, tentu tidak akan mudah bagi seorang anak yang terbiasa hidup dengan orang tua lantas meninggalkannya begitu saja. 

Langkah menuju hari pertunangan semakin berat jika dialami oleh anak terakhir dalam sebuah keluarga. Sewajarnya anak bungsu merupakan anggota keluarga paling muda yang paling akhir menjalani masa pertunangan hingga menuju ke pernikahan. Anak bungsu seharusnya mampu menjadi sosok utama dalam merawat orang tua di masa senja. Namun bagaimana jadinya bila sepasang kekasih keduanya merupakan anak bungsu dalam sebuah keluarga. Artinya salah satu dari mereka akan keluar dari rumah dan menuju ke rumah mertuanya. 

Ada banyak cara bisa dilakukan oleh pasangan muda dalam menguatkan langkah mereka menuju hari pertunangan. Alasan paling utama tentu saja karena menjalankan ibadah semata-mata karena Allah. Allah pasti memiliki skenario besar dalam menyatukan dua hati dalam ikatan suci. Terasa berat bagi manusia, namun bisa jadi ringan saja bagi Allah untuk mewujudkannya. Manusia hanya pandai berandai-andai saja. Sementara Allah Maha Perkasa dan Maha Menciptakan sesuai kehendak-Nya.

Kita harus pandai-pandai menjaga hati supaya selalu bersemangat dan tidak tergoda sedikitpun terhadap rayuan setan yang seringkali tampak membuat kita terlena. Pertunangan bukanlah akhir dari sebuah petualangan cinta. Kerapkali kehidupan cinta terasa lebih bersemangat dan berkobar setelah memasuki gerbang pernikahan. Menemukan cinta sejati layaknya muda-mudi pacaran paling asyik dilakukan setelah pernikahan. Setiap gerak langkah kebersamaan adalah ibadah menuju keberkahan. Ya, itulah nasehat diri untuk penulis sendiri.

Bagaimana dengan pengalaman Anda menjalani malam hari menjelang pelaksanaan pertunangan? Apakah Anda juga mengalami rasa cemas dan khawatir jika suatu saat akan meninggalkan keluarga di rumah? Silakan berbagai pengalaman pada kolom komentar dibawah ini

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Rasa Cemas Menjelang Hari Pertunangan, Wajarkah?”

  1. Selamat berbahagia Mas. semoga segala hajatnya dikabulkan oleh Allah dan diberikan kemudahan hingga kegiatan pernikahan.

  2. itu wajar saja kalau terjadi pada diri Anda. sebenarnya itu bukan rasa cemas tp cuma kekhawatiran yang berlebihan karena di masa mendatang pasti Anda akan memiliki sedikit lebih sedikit waktu untuk orang tua. Waktu anda mungkin akan terpusat pada kegiatan rumah tangga dengan istri dan anak-anak di rumah…. jadi Nikmati saja selama masih ada waktu untuk membagikan membahagiakan orang tua di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *