Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah salah satu penyakit menular yang sedang mewabah dan telah menginfeksi lebih dari 38.6 juta orang di seluruh dunia. AIDS disebarkan melalui virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Menurut Wikipedia, AIDS berupa sekumpulan gejala atau infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat virus HIV tersebut. Penyakit yang belum ditemukan obatnya ini diduga pertama kali muncul di daerah Afrika Utara, tepatnya di sekitar gurun Sahara. Orang yang hidup dengan AIDS (ODHA) saat ini juga kebanyakan bertempat tinggal di Afrika Utara dan berpengaruh besar terhadap kemajuan negara-negara di kawasan tersebut.

Masih menurut Wikipedia, AIDS ditularkan melalui penyebaran virus HIV dan virus-virus sejenisnya melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam atau pun melalui aliran darah dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Jenis cairan tubuh yang berpotensi mengandung virus HIV antara lain darah, cairan sperma, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan HIV/AIDS dapat terjadi melalui hubungan intim (baik vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta berbagai bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Remaja pun rentan tertular virus HIV karena pergaulan bebas dan konsumsi narkoba.

Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay
Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay

Warisan Tradisi Budaya Gay di Nusantara

Menyebarnya virus HIV di kalangan remaja saat ini tidak bisa dilepaskan dari perilaku seks tidak aman yang diwariskan oleh budaya Nusantara sejak dulu. Apakah benar budaya di Indonesia mewarisi tradisi perilaku gay? Sebelum Anda mendukung atau menyangkal pertanyaan tersebut, mari kita lihat fakta di lapangan terhadap berkembangnya budaya homoseksualitas. Dalam tradisi budaya Jawa, khususnya warga Ponorogo, kita mengenal tari reog dengan ciri khas adannya gemblak. Penari reog yang notabene laki-laki dilarang menikah dengan perempuan untuk alasan mendapatkan kesaktian. Sebaliknya, mereka menjaga ‘kesucian’ diri dengan memelihara gemblak, yaitu bocah laki-laki yang berfungsi sebagai pengganti isteri.

Selain itu, kita mengenal seni pertunjukan Ludruk di Jawa Timur dengan sinden waria. Pementasan drama tradisional ini pada awalnya hanya dimainkan oleh kaum lelaki. Untuk mendapatkan karakter perempuan, beberapa anggota rombongan ludruk berperan sebagai wanita di atas panggung. Sebagian pemeran ludruk yang berkarakter feminis ini terbawa sampai ke kehidupan nyata dan diterima oleh masyarakat sebagai hal yang wajar. Pertunjukan ludruk pun selalu ramai dikunjungi warga tiap kali mereka mementaskan satu lakon. Selain berfungsi sebagai nasehat kehidupan, tingkah laku pemeran ludruk yang lucu sangat menghibur penonton yang hadir.

Dalam cerita sejarah budaya Jawa, sudah menjadi hal yang biasa bila para prajurit muda mandi bersama dan saling menontonkan aurat mereka. Bahkan kegiatan ini akan menjadi satu kebanggaan bila yang mengajak mandi adalah para bangsawan yang dihormati para pemuda. Perilaku seks yang dianggap masyarakat sebagai menyimpang ini terdokumentasikan dalam salah halaman Serat Centhini. Disitu terdapat satu kisah yang membahas perilaku homoseksualitas di kalangan para bangsawan, adipati dan petinggi kerajaan ketika mengundang sejumlah penari laki-laki muda yang bertingkah laku luwes dan lemah lembut. Beberapa tradisi yang tertulis di atas kemudian berkembang menjadi ajang pesta seks dan masih berlangsung sampai sekarang di puri-puri kerajaan tertentu, bahkan terhadap kerajaan yang masih eksis sampai sekarang.

Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay
Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay

Menangkal Perilaku Seksual Tidak Aman di Kalangan Remaja Gay

Warisan budaya gay dan penyebaran penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja menjadi isu yang penting dibahas, terutama di tengah era globalisasi yang ditandai dengan semakin mudahnya akses warga asing memasuki negara lain melalui potensi pariwisata. Salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia adalah pulau Bali. Budaya yang berkembang di Pulau Dewata ini kental dengan warna homoseksualitas. Entah karena warisan budaya kerajaan pada masa dulu maupun sebagai bentuk akulturasi terhadap budaya asing. Tak pelak lagi, peluang terjadi penyebaran virus HIV dalam pergaulan remaja makin besar dengan keluar masuknya warga asing yang terbiasa dengan perilaku seks bebas. Kombinasi dari warisan budaya homoseksualitas dan asimilasi budaya asing menjadikan provinsi Bali sebagai salah satu wilayah penting dalam penanganan ODHA agar tidak menyebar ke wilayah lain.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menangkal penyebaran HIV/AIDS di tengah mobilitas warga dunia yang makin tinggi? Kita memang tidak bisa mencegah warga asing berkunjung ke Indonesia, namun kita bisa memperkecil peluang terjadinya penyebaran penyakit AIDS di kalangan gay, lesbian, biseksual maupun heteroseksual. Kampanye seks aman harus terus digalakkan untuk mendorong kesadaran generasi muda untuk melindungi diri sendiri, keluarga dan teman-teman dari potensi tertular virus HIV. Saya pribadi tidak setuju dengan penyediaan ATM kondom yang baru-baru ini diujicobakan berlaku di sejumlah kota. Dalam hal ini kondom tidak akan berperan banyak karena alat kontrol perilaku manusia adalah pikirannya sendiri.

Selain itu, semakin permisifnya masyarakat terhadap penetrasi budaya asing juga patut diwaspadai agar tidak mengaburkan norma-norma yang berlaku. Perilaku budaya lokal yang memberi luang lingkup homoseksual di satu sisi akhirnya banyak mendatangkan seniman mancanegara untuk tinggal di Indonesia. Misalnya di Bali kita kenal terdapat seniman asing seperti Antonio Blanco, Lee Majeur, Ari Smit, Walter Spies dan lain-lain. Dari mereka lahir apa yang kita kenal seperti Tari Kecak dan Tari Baris Gede, serta gaya melukis kelas dunia. Tidak menutup kemungkinan salah satu dari seniman tersebut ada yang gay atau biseksual dan memiliki perilaku seks tidak aman sejak tinggal di negara asalnya. Keberadaan aktifitas seksual mereka kenyataannya sangat ditolerir oleh masyarakat pada saat itu. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pendamping ODHA dalam memberikan pemahaman mencegah penularan virus HIV di kalangan remaja.

Setiap remaja saat ini memiliki kebebasan mengekspresikan dirinya dalam mengenali kecenderungan orientasi seks mereka. Apakah mereka heteroseksual, homoseksual, maupun heteroseksual, mengenali diri sendiri penting dilakukan untuk mendapatkan langkah terbaik dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Dengan bersikap jujur dan terbuka terhadap kondisi diri, terutama untuk remaja ODHA, mereka bisa mendapatkan layanan kesehatan sejak dini dan bertemu orang-orang yang memiliki kondisi yang serupa. Melalui komunikasi intensif kita bisa berbagi semangat dengan ODHA dan mencari jalan terbaik dalam menghargai arti hidup mereka.

Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay
Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay

Menumbuhkan Motivasi Hidup Remaja ODHA

Kita semua paham bahwa penyebaran penyakit HIV/AIDS tidak terbatas kepada remaja dan orang dewasa yang beraktifitas heteroseksual (antara lelaki dan perempuan), tetapi juga terhadap homoseksual, baik gay maupun lesbian. Bahkan pada awal mula penyebarannya, penyakit AIDS disebut juga sebagai virus homo adalah hukuman Tuhan terhadap perilaku seksual menyimpang yang mereka lakukan. Terlepas dari bagaimana asal mula penyakit ini muncul dan perilaku buruk mereka di masa lalu, saat mendapatkan teman atau orang yang kita kenal mengidap virus HIV, kita tidak boleh meninggalkan mereka begitu saja. Efek penyakit ini sangat mematikan karena menggerogoti tubuh dari dalam. Ibaratnya, ODHA memiliki musuh dalam selimut. Sehingga pengidap penyakit AIDS akan sangat terpukul begitu mendapatkan fakta divonis terjangkit HIV/AIDS.

Masalah yang paling utama dalam mendampingi remaja ODHA adalah sifat malu ketika menyatakan isi hati, tertutup terhadap orang lain dan menganggap diri sudah tidak berguna lagi. Apalagi hukuman sosial yang ditimpakan oleh masyarakat kepada remaja ODHA kerap kali terasa lebih kejam daripada vonis mati yang diberikan oleh dokter. Sama halnya dengan penyandang disabilitas, ODHA dan aktivis pendamping ODHA sering dikucilkan dari pergaulan karena masyarakat takut tertular virus yang gejala awalnya berupa demam ringan dan menurunnya berat badan secara drastis ini. Padahal menurut penuturan beberapa aktivis pendamping ODHA, penyakit AIDS tidak dapat ditularkan melalui pertukaran alal-alat makan. Penularan paling banyak terjadi akibat hubungan seksual tidak aman, pemakaian bersama jarum suntik pecandu narkoba dan transfusi darah yang terinfeksi virus HIV.

Jika kita ingin membantu remaja ODHA agar lebih termotivasi dalam hidupnya, maka langkah awalnya adalah dengan melakukan pendekatan diri secara personal. Jangan memaksa mereka untuk curhat kalau mereka belum siap menerima opini aktivis pendamping ODHA. Hal ini penting dilakukan karena semua proses berasal dari kesadaran diri ODHA untuk mengisi sisa hidup mereka sebaik mungkin. Motivasi diri dan daya juang melawan keganasan virus HIV harus ditimbulkan dari dalam pikiran bawah sadar mereka. Terlepas dari perilaku buruk mereka di masa lalu, ODHA tetaplah manusia ciptaan Tuhan yang memiliki kesempatan untuk menebus dosa dan kesalahan dengan berbuat kebaikan. Mendekatkan diri kepada Tuhan menjadi cara terbaik dalam memberikan ketenangan dalam hidup dan menjalani hidup dengan amal saleh.

ODHA bukan type manusia yang tercipta untuk dijauhi. Mereka adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki potensi dan kompetensi diri di bidang yang mereka tekuni. Keganasan virus HIV/AIDS memang mematikan dan akan merenggut nyawa mereka secara perlahan-lahan. Namun ODHA masih memiliki sisa waktu untuk mengisi hari-hari dengan mewarnai dunia lebih baik dan berguna bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar. Selain itu, berperilaku seksual aman akan mampu menjauhkan diri remaja yang sehat dan keluarga mereka dari serangan penyakit AIDS. Mari lebih bijak bersikap terhadap HIV/AIDS dan ODHA!

Penulis: Agus Siswoyo. Fulltime blogger tinggal di Jombang, Jawa Timur.

Twitter - @NoSeleblogger - Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay
Twitter - @NoSeleblogger - Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

23 thoughts on “Menyelamatkan ODHA di Tengah Berkembangnya Tradisi Budaya Gay”

  1. Hampir setiap agama melarang perbuatan-perbuatan yang rentan terkena imbas penyebaran HIV AIDS. Saya rasa peran agama disini sangat diperlukan untuk mengasah kualitas ketaqwaan setiap pemeluknya.

  2. Wah.. wah…
    Dan saya pernah mas, melakukan survey di facebook. Ternyata di indonesia pun ada banyak sekali kaum gay bertebaran. Saya memperkirakan ada ribuan bahkan puluhan ribu akun facebook khusus gay yang mereka buat secara tersembunyi. Mereka selektif memilih teman dan memakai nama samaran untuk menghindari kecurigaan orang2 terdekatnya.
    Sangat ironis, tapi memang begitu adanya…
    Ckckckck… 😀

    1. gay adalah pilihan gaya hidup. keberadaan mereka memang tersembunyi karena masyarakat kita memang belum sepenuhnya menerima kondisi yang ada pada diri mereka. padahal ada dari mereka yang tidak ingin menjadi gay dan terpaksa berperilaku begitu karena dorongan emosional.

  3. siapapun kalangannya tetap saja jangan menganggap sesuatu itu dari hal negatif saja, memang benar sejarah gay ada di indonesia. sejarah itu menjadi pelajaran buat kita, maksudnya dari sejarah itu harusnya kita mengambil yang positif aj. satu lagi yang saya tekankan, bukan hanya kaum gay saja yang mengidap HIV/AIDS, bahkan kaum heteroseksual pun juga beresiko. budaya gay dulu dan sekarang tidak ada bedanya. semua itu tergantung dari diri masing-masing dan peran serta masyarakat. baik buruknya sejarah biarlah jadi sejarah, yang penting kita lihat kondisi sekarang. bagaimana cara kita untuk menanggulangiya itulah yang perlu dipertanyakan.

    1. sejarah masa lalu tidak bisa dihapuskan begitu saja dari masyarakat dan sedikit banyak akan tersisa sampai sekarang. hal-hal tersebut akan mempengaruhi preferensi seksual pemuda jaman sekarang. cara mencegah terulangnya budaya yang tidak sesuai dengan masyarakat adalah melalui sekolah dan keluarga.

      institusi pendidikan memberikan panduan secara akademis hal-hal apa saja yang termasuk perilaku menyimpang berdasarkan ilmu sosiologi dan lain-lain. sedangkan keluarga harus menemani masa tumbuh remaja hingga memiliki identitas yang tepat dan sesuai dengan kodratnya.

  4. hmm, panjang banget artikelnya,

    masalah aids memang pelik… di satu sisi kita ingin memberantas tp di sisi lain ada banyak orang berperilaku yang berpotensi menjadi penyebab menyebarnya penyakit ini…

    *semoga menang kontesnya mas… jadi pengen ikut juga…

  5. duh, ngeri banget ya, bacanya, bener banget ternyata kalau budaya gay itu sudah merupakan warisan turun temurun. Hanya kita saja yang perlu memilih, maka pilihlah dengan kodrat sesuai sejak lahir. semoga kita terhindar dari apa yang disebut prilaku gay.

  6. Fenomena homoseksual memang bukan hal yg baru, bahkan sudah lama terjadi, misalnya pada zaman Nabi Luth. Mungkin penyakit AIDS ada sebagai pengendali agar manusia tidak terjebak pada seks bebas….

    1. Tuhan mengendalikan tingkah laku manusia dengan beragam cara. mungkin AIDS ini diciptakan-Nya supaya manusia lebih terkendali dalam menjalin hubungan dengan pasangan, bisa berlaku setia dan sehat.

  7. ali mengatakan:lama2 jd semikan yakin klo aids denialist dijalur yg bnr setelah bnyk mmbca dan membandingkan. Trskan perjuanganmu mas awan, kasian mereka yg jd korban suatu kebohongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *