Ketika Murid SD Praktek Adzan Lewat Pengeras Suara Musholla

Menjadi guru keagamaan membutuhkan kemampuan yang kompleks. Tidak hanya kapabilitas mengajarkan setiap kompetensi dasar kepada siswa, tetapi juga dituntut memiliki pengalaman luas dalam praktek kehidupan agama di masyarakat. Kali ini penulis membagikan pengalaman mengajarkan adzan kepada murid kelas tiga SD. Sesuai dengan kelas yang dicapai, sebagisn besar murid kelas tiga SD belum mampu melaksanakan adzan. Hanya ada seorang murid yang melakukan adzan dengan benar. Selebihnya, hanya mampu iqomah saja. Meski demikian, penulis selalu mendorong siswa untuk berani tampil dan menunjukkan prestasi terbaiknya. Sedikit kemampuan tidak mengapa asal mau mengasah dan menambah pengalaman, kelak akan sukses dengan sendirinya.

Seperti halnya anak-anak siang itu saya tugaskan menjadi muadzin di sholat dhuhur. Mereka percaya masuk musholla dan salah satu murid putra menekan tombol mic nyala. Dia tampak bersemangat menjadi muadzin pertama di kelasnya. Okelah, saya suka antusiasnya. Kalimat takbir sukses dilantunkan dua kali. Giliran bacaan syahadah agak lupa. Dengan ucapan terbata-bata dia mengusap syahadah rasul. Tanpa dikomando, teman-temannya tertawa menyaksikan hal ini.

Rasa malu yang paling besar sebenarnya ada pada diri penulis. Duh! Ini anak habis makan apa kok bisa lupa semua hafalannya. Apapun yang terjadi, sholat jamaah dhuhur harus berjalan. Akhirnya, dengan menahan malu semua kegiatan ibadah sholat dhuhur berlanjut sampai selesai. Belajar dari pengalaman buruk ini, maka setiap kali siswa akan adzan, maka penulis melatihnya terlebih dulu selama beberapa menit. Tujuannya adalah menyiapkan hafalan dan mental siswa untuk melaksanakan adzan. Masalah nada suara dan pernafasan siswa yang pendek tidak terlalu soal. Yang lebih utama adalah fashohah dan urutan lafadz adzan yang benar.

Mengajarkan siswa belajar adzan dengan baik dan benar sebenarnya bukanlah perkara sulit. Setiap hari mereka mendengarkan secara langsung maupun melalui tayangan televisi. Masalah utama untuk mendorong siswa putra bersedia menjadi muadzin adalah masalah kepercayaan diri. Lingkungan yang terbentuk di sekitar mereka tidak mengijinkan seorang anak kecil memegang mikrofon dan melantunkan adzan sebelum sholat lima waktu. Kaum tua memandang anak-anak tidak berkompeten dalam hal ini sehingga setiap anak tidak merasa perlu belajar adzan dengan baik dan benar.

Mendidik masyarakat bukan hanya dilakukan kepada anak-anak, bahkan para orang tua pun perlu mendapat pembelajaran dalam mendidik anak. Para orang tua seolah menyerahkan pendidikan sepenuhnya pada guru di sekolah. Kondisi ini tentu saja tidak baik bagi masa depan anak. Orang tua perlu mendapat pemahaman bahwa pendidikan terhadap anak perlu dilakukan 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu, bukan hanya jam 7 pagi sampai jam 1 siang saja. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi bahan renungan bersama bagi kita dalam mendidik anak-anak.

Bagikan artikel ini melalui:

6 Replies to “Ketika Murid SD Praktek Adzan Lewat Pengeras Suara Musholla”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *