Orang Tua Ekstra Waspada Jelang UNAS, Terlambat!

Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang menggunakan Buku At-Tartil
Kegiatan Belajar Santri TPQ Al-Mujahiddin Guwo Jombang menggunakan Buku At-Tartil

Maret dan April 2018 adalah waktu-waktu kritis untuk semua siswa yang akan mengikuti Ujian Nasional atau UNAS. Mulai dari siswa kelas VI SD, kelas IX SMP dan kelas XII SMA atau yang sederajat, semua sibuk menyiapkan diri mengikuti UNAS. Beragam cara ditempuh untuk bisa menyongsong Unas dengan kepala tegak. Pihak yang paling heboh dalam hal ini adalah orang tua. Banyak orang tua murid kelas akhir mengirim anak-anak mereka ke lembaga bimbingan belajar atau bimbel. Seolah berkejaran dengan waktu, semangat para orang tua tidak mau kalah dengan anaknya. Justru anak-anak yang tampak santai menyikapi datangnya masa ujian akhir sekolah. Inilah potret pendidikan akhir jaman di Indonesia.

Penulis pun saat ini menangani sejumlah siswa kelas akhir yang akan mengikuti UNAS. Orang tua mereka meminta penulis untuk memberikan bimbel khusus untuk menghadapi UNAS. Awalnya penulis tidak berminat mengajar mereka. Alasan keterbatasan waktu menjadi penyebab utama mengapa penulis membatasi kegiatan bimbel di luar jam sekolah. Namun berhubung para orang tua sangat bersemangat dan bolak-balik datang ke rumah, akhirnya penulis luluh juga. Penulis paling tidak tega melihat orang tua yang sudah susah payah bekerja tapi anaknya tidak semangat belajar. Lagi pula durasi bimbel tidak akan lama.  Paling-paling juga akhir April 2018 nanti semua kegiatan bimbel UNAS akan selesai, demikian pikir penulis.

Seberapa efektifkah belajar kebut semalam ala pelajar Indonesia. Menurut sejumlah penelitian di luar negeri, kegiatan bimbel berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan nilai belajar siswa. Tapi untuk kasus di Indonesia, sepertinya berbeda. Murid yang mengikuti bimbel belum tentu sukses dalam belajar menghadapi UNAS. Mengapa hal ini terjadi? Sejujurnya, bimbel jelang UNAS sangat melelahkan, baik untuk guru maupun untuk murid. Bagaimana tidak? Contoh sederhana adalah seorang siswa SMP kelas 9 diharuskan menghabiskan modul 4 mata pelajaran yang masing-masing terdiri dari 9 paket soal dengan rincian masing-masing paket soal terdapat 50 soal pilihan ganda. Ayo hitung! 4x9x50 = 1.800 soal harus habis dalam waktu 3 bulan. Sungguh suatu pemaksaan belajar yang menyiksa anak!

Lalu, bagaimana solusinya? Belajar tidak boleh dilakukan secara dadakan. Rencanakan program belajar anak secara detail sejak jauh-jauh hari. Pemahaman pikir tidak bisa dilakukan dalam situasi tergesa-gesa. Anak perlu suasana rileks agar pembahasan soal UNAS bisa mereka pahami dengan benar dalam waktu yang ideal. Setidaknya butuh persiapan waktu enam bulan sebelum hari pelaksanaan ujian sehingga anak siap mental dan pikiran. Semoga tulisan sederhana ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam mendidik putra-putri di rumah.

Bagikan artikel ini melalui:

7 Replies to “Orang Tua Ekstra Waspada Jelang UNAS, Terlambat!”

  1. Nggak apa-apa pak. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bimbel itu kan hanya penambah amunisi ujian. Belajar sebenarnya ya di sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *