Pelatihan Jurnalistik Sekolah Untuk Peserta Didik Madrasah Aliyah Al-Washoya Kertorejo Ngoro Jombang

Airy Room - Aplikasi Booking Hotel Murah Terpercaya
Airy Room – Aplikasi Booking Hotel Murah Terpercaya

Masa pengenalan lingkungan sekolah merupakan waktu awal bagi para peserta didik baru untuk lebih mengenali lingkungan sekolah mereka sekaligus melakukan berbagai aktivitas pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang baru tersebut. Oleh karena itu setiap peserta didik baru perlu diberikan motivasi belajar yang bagus di awal tahun pelajaran ini. Salah satu bentuk pemberian motivasi adalah pemahaman minat dan bakat diri mereka untuk menekuni bidang bidang tertentu secara konsisten. 

Penulis berkesempatan menyampaikan materi pelatihan jurnalistik untuk lingkungan sekolah di Madrasah Aliyah (MA) Al-Washoya pada Sabtu, 11 Juli 2020 lalu. Madrasah Aliyah Al-Washoya berada di lingkungan pondok pesantren Al-Washoya yang terletak di Dusun Ganjul Desa Kertorejo Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang. Lembaga pendidikan ini berada tidak jauh dari lokasi tempat tinggal penulis sehingga penulis bisa lebih leluasa berangkat ke lokasi kegiatan sebelum pukul sembilan pagi. 

Penulis menyampaikan materi jurnalistik untuk sekolah di hadapan 28 orang siswa Madrasah Aliyah Al Washoya. Mereka mengikuti kegiatan dengan antusias. Beberapa di antara mereka tampak tak ragu untuk bertanya terkait dengan tips mengelola majalah dinding di sekolah. Namun sebagian lagi di antara mereka tertarik untuk menekuni dunia blogging sebagai bagian dari jurnalistik yang berjalan di internet dan berbasis online. Menekuni blogging dapat menjadi solusi alternatif dari mengurangi ketergantungan remaja terhadap konten yang dilarang oleh Pemerintah.

Penulis menjelaskan kepada para peserta kegiatan pelatihan jurnalistik sekolah bahwa konsep dasar jurnalis adalah menganut rumus 5W dan 1H 5W. Hal ini memuat apa, dimana, siapa, kapan, dan kenapa. Satu lagi tambahan untuk syarat pelaksanaan jurnalistik di sekolah adalah unsur 1S yaitu save. Semua pemberitaan yang ditayangkan melalui berbagai media jurnalistik di sekolah harus memberikan keamanan setiap pekerja. Jangan sampai setelah Anda mempublikasikan sebuah artikel jurnalistik online lalu keesokan harinya Anda berurusan dengan pihak yang berwajib.

Dawam, salah satu peserta kegiatan pelatihan jurnalistik sekolah mengaku senang mengikuti kegiatan ini. Dia memiliki banyak inspirasi untuk membangun majalah dinding di lingkungan tempat Ia belajar sekaligus mondok di pesantren ini. Lingkungan pondok pesantren memang dikenal lebih ketat dalam mengatur pemakaian gadget dan media informasi. Kendati demikian, para pelajar madrasah dapat menggunakan fasilitas komputer yang ada di laboratorium komputer untuk kegiatan blogging.

Sementara itu Riska Putri, peserta pelatihan jurnalistik sekolah, berharap dapat menuangkan berbagai macam ekspresi cerita maupun puisinya jika kelak majalah dinding disekolah diaktifkan kembali. Disinilah perlunya madrasah membangun komunitas blogger yang berbasis santri pesantren. Santri jaman sekarang relatif lebih adaptif dan melek teknologi. Mereka dapat mengikuti perkembangan berita terkini dari berbagai media yang disediakan oleh pengelola pesantren.

Lain halnya dengan respons Muhammad Ali Yafi.  Usai kegiatan ini dilaksanakan, pelajar laki-laki ini menemui penulis di ruang tamu. Dia mengatakan ingin belajar serius dalam dunia blogging. Dia berharap bisa menuangkan berbagai pengalaman belajar sekaligus mondok di Al Washoya melalui media blog pribadi. Dia berharap orangtuanya di rumah dapat mengikuti perkembangan kegiatan belajarnya dengan membaca artikel blog pribadi tulisannya. 

Minat dan bakat seseorang tidak akan memberikan banyak manfaat sampai ia digunakan dan mampu memberikan manfaat bagi pemiliknya. Semoga pelatihan jurnalistik untuk murid madrasah ini dapat memantik rasa penasaran mereka untuk menulis dan berbagi pikiran melalui beragam media yang tersedia.

Bagikan tulisan ini:

2 Replies to “Pelatihan Jurnalistik Sekolah Untuk Peserta Didik Madrasah Aliyah Al-Washoya Kertorejo Ngoro Jombang”

  1. Lingkungan Pesantren semestinya menjadi tempat yang suci dari kontaminasi pemikiran buruk sosial media. Keberadaan sosmed justru lebih banyak memberikan kerusakan moral daripada manfaat. Jangan ajarkan para santri untuk terlalu berfikir liberal sehingga akhirnya mereka merusak nilai-nilai Islam yang ada di bumi Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *