Terdampak Pencegahan Covid-19, Bagaimana Rasanya Belajar di Rumah?

Cerita Hikayat Raja Arief Imam - Gambar Doodle karya Hidayat Said
Ilustrasi kegiatan anak membantu orang tua bekerja di rumah. (Gambar Doodle karya Hidayat Said)

Hari ini (19/3/2020) adalah pelaksanaan hari ketiga kegiatan pembelajaran di rumah (home learning) bagi para pelajar di Kabupaten Jombang. Murid-murid sekolah di Jombang mendapatkan tugas belajar di rumah dari guru kelas dan guru mata pelajaran sejak 17 Maret 2020 kemarin. Para siswa mengerjakan tugas-tugas dengan bimbingan dari orang tua atau wali murid di rumah. Sementara itu para guru mengawasi kegiatan belajar siswa melalui komunikasi online berpusat di sekolah masing-masing.

Keputusan Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang untuk melaksanakan pembelajaran di rumah untuk para pelajar adalah agar mencegah penularan Covid-19 atau virus Corona. Kegiatan pembelajaran di rumah direncanakan berlangsung sampai dengan 28 Maret 2020. Murid-murid di Kabupaten Jombang akan kembali aktif belajar di sekolah mulai 30 Maret 202. Sampai dengan tulisan ini diterbitkan, alhamdulillah Kabupaten Jombang belum memiliki penduduk yang positif terinfeksi Virus Corona. Kita semua berharap tidak ada lagi penduduk Indonesia yang terkena virus Corona. Oleh karena itu kita harus tetap menjaga kesehatan tubuh, memelihara kebersihan badan, dan tetap rajin berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selama tiga hari ini murid-murid sekolah dan mahasiswa di Kabupaten Jombang melaksanakan kegiatan pembelajaran di rumah. Mereka mendapatkan tugas belajar melalui grup WhatsApp yang dikelola oleh dosen, guru kelas maupun guru mata pelajaran masing-masing. Beragam respon masyarakat muncul terkait kegiatan pembelajaran murid-murid di sekolah. Diantara beberapa komentar yang muncul dari kalangan pelajar, pendidik maupun orang tua terkait home learning adalah sebagai berikut:

Gak kayak belajar di sekolah. Meski dibantu ayah ibu, tetap kangen belajar sama guru,” (Cinta – murid SD)

Tidak enak belajar di rumah,” (Tsania – murid SD)

Enak belajar di rumah. Tapi sayangnya tidak dapat uang saku,” (Satria – Murid SD)

“Tidak sekolah malah banjir tugas rumah. Jadi gak ada waktu bermain. Kalau begini mending masuk sekolah saja,” (David – murid SMP)

“Belajar di rumah itu sangat menyita waktu karena tugas yang diberikan lebih banyak daripada KBM biasanya. Waktu istirahat jadi berkurang, yang tadinya tidur malam pukul sembilan sekarang jadi pukul setengah sebelas,” (Vian – murid SMA)

Guru tetap harus di sekolah sampai jam dua siang. Tidak ada KBM di kelas. Tidak ada penjual makanan. Tidak diperbolehkan jalan-jalan keluar. Menyiksa.” (Nurul – guru SD)

Lebih enak belajar di sekolah. Belajar di sekolah lebih efektif,” (Ratna – orang tua siswa)

Musik anak-anak
Musik bisa mengurangi rasa kebosanan akibat social distancing. Namun ikatan emosi antara guru dan murid tidak dapat terleraikan.

Dampak Wabah Virus Corona

Beberapa komentar diatas mewakili sedikit dari sebagian besar masyarakat yang terdampak oleh upaya pencegahan virus Corona di Kabupaten Jombang. Meski beberapa komentar di atas tidak dapat menjadi sampel untuk seluruh populasi masyarakat Jombang, namun setidaknya kita mendapatkan sedikit gambaran bahwa keputusan mewajiban murid-murid belajar di rumah telah menyebabkan terjadinya pola belajar siswa. Pembelajaran tatap muka di dalam kelas masih menjadi cara belajar yang efektif dan menyenangkan bagi anak-anak. Sebaliknya, pembelajaran berbasis online kurang menyentuh sisi humanisme seorang anak.

Kegiatan home learning untuk menangkal penyebaran Covid-19 baru berlangsung selama tiga hari. Sebagian siswa sudah merasakan dampak psychologis rasa bosan dari social distancing ini. Beberapa murid tadi pagi hadir di sekolah untuk menyapa guru-guru mereka. Kendati sudah ada larangan untuk melakukan aktivitas kontak fisik tidak penting di luar rumah, anak-anak itu tetap saja bersikeras untuk bersalaman dengan guru-guru mereka di sekolah. Ikatan sosial antara guru dan murid tidak dapat dicegah. Anak-anak sudah memiliki ketergantungan emosi dengan guru-guru mereka sehingga social distancing yang tengah dilaksanakan tidak berlangsung efektif. 

Terlepas dari segala kekurangan dari pelaksanaan kegiatan pembelajaran di rumah, sebenarnya para orang tua harus bersyukur karena saat ini mereka memiliki lebih banyak waktu untuk menemani masa tumbuh kembang dan proses belajar anak-anak mereka. Jika selama ini para orang tua sibuk bekerja di luar dan hanya punya sedikit waktu untuk memberi perhatian kepada anak-anaknya, maka selama dua pekan ini para orang tua akan dipaksa untuk berdiam diri dirumah dan terlibat komunikasi intensif dengan anak-anak mereka.

Bagaimana dengan pengalaman putra-putri Anda menjalankan kegiatan pembelajaran di rumah selama sepekan ini? Apakah anak-anak Anda juga merasakan kebosanan dan ingin segera belajar di sekolah bersama teman-teman mereka? Semoga penyebaran virus Corona di Indonesia bisa segera berhenti dan tidak ada lagi penduduk Indonesia yang tertular Covid-19. Tetaplah jaga kesehatan anda. Semoga kita semua bisa mendidik anak-anak dengan baik di rumah.

Bagikan tulisan ini:

4 Replies to “Terdampak Pencegahan Covid-19, Bagaimana Rasanya Belajar di Rumah?”

  1. Nikmati saja nak. Enak dan gak enak belajar itu cuma berada di pikiran. Kenyataannya sama aja, harus tetep belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *