Menunggu Kobaran Api di Punggung Gunung

Api Unggun Pembawa Semangat
Api Unggun Pembawa Semangat

Pada malam yang dingin dan berselimut angin pegunungan, semua terdiam dengan jalan pemikiran masing-masing. Tanpa suara, tanpa banyak tanya. Hanya memainkan ruang kosong di balik bukit sana. Bukit yang akan kita daki besok pagi manakala mentari baru terbangun dari peraduannya. Itulah ruang kosong dalam fikirmu. Engkau yang muda dan memiliki banyak harapan makna, tak pernah mengenal kata berhenti dalam melangkah.

Ku mainkan suara parauku. Tidak ada yang istimewa. Tak lebih dari bunyi tong sampah yang kemrontang dan menghadirkan kebisingan di ruang dengar. Tak apalah, pikirku. Aku tidak pernah mencoba menjadi orang yang sempurna di hadapan kalian, karena aku tahu aku tak pernah bisa. Aku adalah seutas tali yang akan menyambung percik api yang tercipta dari tumbukan dua buah batu kecil di hadapan kalian.

Dan sebagai sebuah pemicu, tugasku hanya sekejap. Sekelip mata saat langkah pertama telah terjadi. Begitu kalian telah mampu menciptakan bara api dalam unggun yang besar, aku akan menyingkir secara perlahan. Biarkan api itu menyala berkat penataan tangan-tangan mungil kalian. Ambillah resiko untuk tersengat api dan ternoda arang hitam. Semua bentuk pengorbanan kalian akan terbayar lunas dengan terdakinya bukit di esok pagi.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *