Bincang Pendidikan Keagamaan Islam dalam Siaran Radio Suara Pendidikan Jombang

Siaran Radio Sonora FM Surabaya bersama IBMT University
Kenangan penulis saat melakukan Siaran Radio Sonora FM Surabaya bersama IBMT University

Akhirnya jadwal siaran radio yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini Rabu, 12 September 2018 saya kembali berkesempatan untuk melakukan siaran radio di studio Suara Pendidikan FM (SPFM). Momen menyenangkan ini sudah saya siapkan sejak dua bulan lalu. Meski sudah ada persiapan topik dan dulu sering keluar-masuk ruang siaran, saya tetap merasa demam panggung saat berlatih di rumah. Tadi siang pun saya masih mencari referensi bahan pembicaraan. Saya merasa tidak cukup jika siaran radio berbekal pengalaman pribadi saja. Saya harus membekali diri dengan referensi ilmiah, minimal dari jurnal ilmiah di bidang pendidikan yang membahas topik serupa. Mengulas isi jurnal ilmiah bukanlah pekerjaan baru bagi saya. Saya cukup terbantu oleh pengalaman akademis semasa kuliah di UNHASY Tebuireng.

Saya tiba di studio siaran pukul lima kurang sepuluh menit. Pak Nurul menyambut saya dengan senyum khasnya. Tidak ada yang berubah terhadap ruang siaran. Meski usia tak lagi muda, semangat beliau tidak pernah padam. Kondisi ruang siaran SPFM masih sama seperti empat tahun lalu saat saya masih aktif sebagai Staf Program. Tanpa menunggu waktu lama, saya pun melanjutkan perbincangan dengan topik peran Taman Pendidikan Al-Quran dalam pengajaran Keagamaan di sekolah dasar. Intinya saya menekankan pentingnya kerjsama antara pihak sekolah dengan guru TPQ dan orang tua murid dalam mendidik anak. Keteladanan tiga pilar pendidikan mutlak dibutuhkan bagi proses tumbuh kembang anak. Jika ada satu saja pihak yang tidak sungguh-sungguh dalam mendidik anak, maka efektifitas pendidikan keagamaan akan berkurang.

Kemudian saya membahas hambatan pendidikan keagamaan di TPQ jaman now. Keberadaan perangkat komunikasi berbasis teknologi internet telah menyita sebagian besar perhatian anak-anak. Mereka jadi enggan berangkat mengaji di TPQ karena terlalu asyik dengan permainan dunia maya. Orang tua harus tegas dalam mendidik anak. Penggunaan gadget harus diminimalkan saat jam belajar. Anak butuh sentuhan manusiawi antar sesama manusia. Begitu juga guru TPQ harus melakukan inovasi dalam praktek pengajaran. Guru tidak boleh terpaku pada metode pengajaran ceramah saja. Penggunaan media pembelajaran yang menyenangkan harus diterapkan untuk membentuk kelas yang menyenangkan. Semoga siaran radio kali ini bisa memberi inspirasi bagi pendidikan anak-anak Anda di rumah.

Bagikan artikel ini melalui:

19 Replies to “Bincang Pendidikan Keagamaan Islam dalam Siaran Radio Suara Pendidikan Jombang”

  1. Pendidikan adalah tanggungjawab kita bersama. Ortu nggak boleh pasrah pada guru. Semangat yg ditunjukkan ustadz Agus mewakili optimisme pendidik untuk menumbuhkan generasi Islami yg cerdas dan berkarakter soliha.

  2. Kembalinya sang penyiar…
    Jreng…. jreng…. jreeeeeng….
    Mas Agus memang guru di atas rata-rata. Banyak talenta dan selalu PD.

  3. Pengalaman anda sudah banyak sekali di bidang siaran radio. jika berkenan tolong ditulis tips tips menjadi penyiar radio yang handal dan bisa tampil percaya diri. tentu saja itu tidak mudah karena kita perlu berlatih dalam praktek.

  4. Selamat Pak sudah naik kelas sekarang sudah menjadi pembicara di tingkat kota.
    Kapan-kapan bisa naik kelas lagi menjadi pembicara di tingkat provinsi bahkan nasional.
    Semoga para guru agama di Indonesia selalu diberikan kesempatan untuk berdakwah melalui berbagai sarana komunikasi yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *