Geliat Pelajaran Muatan Lokal Keagamaan SD di Kabupaten Jombang

Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang
Penampilan seni musik Islami Banjari oleh TPQ Al-Mujahiddin Guwo Mojowarno Jombang

Mulai tahun ajaran 2016-2017 ini Kabupaten Jombang mulai menerapkan mata pelajaran muatan lokal (mulok) keagamaan sebagai salah satu mulok wajib untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Hal ini didasari oleh kebutuhan sekolah untuk mampu mencetak lulusan yang mampu membaca dan menulis Al-Quran dengan baik dan benar. Bahkan saat ini telah diberlakukan salah satu syarat lolos seleksi masuk sekolah SMP dan SMA Negeri adalah nilai dari kemampuan membaca Al-Quran calon peserta didik. Bagi SD dan SMP berbasis agama Islam yang telah lama menerapkan pendidikan Baca Tulis Al-Quran (BTQ) tentu tidak jadi persoalan yang berarti, namun tidak bagi sekolah lainnya.

Mau tidak mau, kondisi tersebut memaksa setiap sekolah untuk kejar target membekali lulusannya bisa baca tulis Al-Quran. Siswa kelas 6 SD pun diwajibkan menguasai BTQ sebelum lulus sekolah. Maka tidak mengherankan jika pada Juli 2016 lalu banyak sekolah dasar (SD) di Jombang membuka rekrutmen Guru Mulok Keagamaan. Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang menanggapi hal itu dengan menerbitkan kurikulum mata pelajaran muatan lokal keagamaan dan melakukan pelatihan Guru Mulok Keagamaan secara bertahap pada 7, 14, dan 21 Agustus 2016. Saya mengikuti pelatihan tersebut pada 14 Agustus 2016 di SMP Negeri 1 Jombang yang dikhususkan untuk Guru Mulok Keagamaan untuk jenjang SD.

Pelatihan Guru Mulok Keagamaan

Peserta pelatihan Guru Mulok Keagamaan di Kabupaten Jombang tahun 2016 ini didominasi angkatan lama. Sebagian besar dari mereka adalah guru-guru Pendidikan Agama Islam yang berusia tua dan merangkap sebagai Guru Mulok Keagamaan. Peran ganda itu mungkin disebabkan karena sekolah yang bersangkutan belum menemukan calon guru muatan lokal keagamaan yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Kurangnya sosialisasi mulok keagamaan juga mempengaruhi kesiapan masing-masing sekolah dalam menyeleksi calon pengajar, terutama setelah libur panjang Lebaran Idul Fitri tahun 2016. Seolah berkejaran dengan waktu, masing-masing sekolah mencanangkan target yang tidak mudah untuk para guru mulok keagamaan.

Pelatihan Guru Muatan Lokal Keagamaan pada 14 Agustus 2016 menghadirkan pemateri dari kelompok Qurany yang dimotori oleh STIT UW Bulurejo. Materi pelatihan sepenuhnya membahas metode pengajaran membaca Al-Quran dengan cara Qurany. Jadwal semula yang menyatakan akan memberikan materi penulisan Quran batal dilaksanakan karena keterbatasan waktu pelatihan. Beragam respons peserta pelatihan saya dapatkan saat mengikuti kegiatan yang dimulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00 WIB tersebut. Secara umum, kawan-kawan guru peserta pelatihan banyak yang mengalami kebingungan dengan metode pengajaran dari pemateri.

Dan saya sendiri kurang setuju dengan cara pengajaran dari pemateri yang terkesan kaku dan memerintah serta minim kreatifitas. Cara itu mungkin masih bisa diterapkan di Kabupaten Jombang pada era dua puluh tahun lalu. Namun perkembangan sosial-budaya masyarakat Jombang saat ini menghendaki cara-cara mengajar yang lebih persuasif dan tidak terkesan otoriter seperti yang sudah diperagakan oleh pemateri. Ditambahkan dengan penuturan beberapa peserta pelatihan yang tidak mampu menyerap muatan informasi, akhirnya saya berkesimpulan pelatihan Guru Mulok Keagamaan kali ini berjalan kurang efektif dan tidak tepat sasaran. Kesalahan mungkin bukan pada pemateri, namun metode pengajaran yang tidak sesuai dengan gaya belajar peserta pelatihan tentu sangat berpengaruh pada hasil akhir pelatihan guru mulok keagamaan.

Beberapa hari setelah kegiatan pelatihan guru mulok keagamaan berakhir saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa guru mulok keagamaan yang sama-sama pernah mengikuti salah satu pelatihan guru mulok keagamaan pada tanggal 7, 14 dan 21 Agustus 2016 lalu. Semuanya sepakat bahwa mereka lebih nyaman menggunakan metode pengajaran Al-Quran sesuai kebiasaan yang sudah mereka praktekkan selama ini. Metode At-Tartil, Tilawati, Qiroati dan Iqra’ masih menjadi buku primadona para pengajar Quran di Kabupaten Jombang. Terlepas dari merek buku yang digunakan, sesungguhnya kualitas sang guru lebih menentukan keberhasilan proses transfer ilmu.

Harapan di Tengah Kecemasan

Setelah mengikuti pelatihan guru mulok keagamaan, selama beberapa minggu terakhir ini saya sudah aktif mengajar mata pelajaran Muatan Lokal Keagamaan di SD Negeri Latsari Kecataman Mojowarno Kabupaten Jombang. Saya bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk mengajar di desa tempat tinggal. Saya membutuhkan waktu lima menit untuk naik sepeda motor dan berangkat ke sekolah untuk mengajar. Lebih beruntungnya lagi, saya sudah mengenal sebagian besar murid-murid kelas 1 sampai kelas 6 yang saya ajar. Saya tidak membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan SDN Latsari, baik dengan murid-murid maupun dengan dewan guru.

SDN Latsari adalah tempat yang bersejarah bagi kehidupan saya. Pada tahun 1991 dulu saya mulai bersekolah disana dan lulus tahun 1997. Setelah melalui banyak kisah kehidupan, saya tidak menyangka bahwa Allah mengirim saya kembali ke SDN Latsari untuk menjadi salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut. Ingatan masa lalu saya pun muncul kembali saat kaki ini melangkah kesana untuk pertama kali, termasuk memori ketika dulu saya belajar mengaji di kelas 5 dengan menggunakan buku Iqro’ disana. Pak Sufyan dan Pak Sulhan adalah dua orang guru agama yang mengajar saya pada waktu itu. Kini mereka berdua menjadi tokoh panutan masyarakat Guwo sekaligus partner saya dalam perhelatan peringatan hari-hari besar keagamaan di Dusun Guwo.

Sebagian besar murid-murid SDN Latsari yang saya ajar dalam mata pelajaran Mulok Keagamaan adalah santri yang saya ajar juga di TPQ Al-Mujahiddin. Saya bisa mengetahui kemampuan masing-masing anak dalam membaca dan menulis Al-Quran sekaligus karakter mereka secara personal. Itulah keuntungan tidak langsung yang saya dapatkan dari kegiatan belajar mengajar yang selama ini sudah berlangsung di TPQ Al-Mujahiddin antara tahun 2012 sampai 2016 ini. Saya bangga karena standar proses pengajaran di TPQ sudah mampu melampaui KKM Mulok Keagamaan yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang. Saya tidak memiliki banyak kesulitan untuk mengajar BTQ di SDN Latsari.

Meski saya optimis dengan kemampuan baca tulis Al-Quran murid-murid SDN Latsari, namun saya merasakan sedikit kekhawatiran terhadap murid-murid SDN Latsari yang selama ini tidak pernah mengaji di TPQ, baik TPQ di masjid maupun musholla. Rendahnya kemampuan baca mereka mengharuskan saya untuk mengulang lagi beberapa bagian bab membaca Al-Quran dari metode At-Tartil. Bagi murid yang sudah mahir membaca, tentu hal ini menjadi sumber kebosanan tersendiri yang harus bisa saya atasi dengan beragam kreatifitas BCM. Namun bagi murid SDN Latsari yang tidak pernah mengenyam pendidikan TPQ, mulok keagamaan ini menjadi pengalaman baru yang harus mereka hadapi di sekolah.

Saya masih menunggu tindak-lanjut Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang dalam mengembangkan sistem pengajaran mata pelajaran Muatan Lokal Keagamaan di Kabupaten Jombang, terutama pelatihan-pelatihan guru mulok keagamaan yang berorientasi pada fashohah dan bukan pada metode pengajaran. Saat ini belum ada Kelompok Kerja Guru (KKG) Mulok Keagamaan di Kabupaten Jombang layaknya KKG Pendidikan Agama Islam. Itulah yang saya tungggu. Selebihnya, saya masih terus berusaha memberikan penyegaran terhadap pendidikan agama Islam di SDN Latsari melalui beragam kegiatan yang melibatkan para murid untuk mempraktekkan ilmu agama yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah mempermudah langkah ini. Aamiin.

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Geliat Pelajaran Muatan Lokal Keagamaan SD di Kabupaten Jombang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *