Inikah Perasaan Paling Bahagia Mendidik Siswa?

Inspirasi Buka Puasa Bersama Anak Yatim Sengon Jombang Tahun 2017
Inspirasi Buka Puasa Bersama Anak Yatim Sengon Jombang Tahun 2017

Mendidik siswa merupakan tugas suci yang menyenangkan. Meski seringkali membuat kesal dan uring-uringan, mendidik para murid menghadirkan kebahagiaan yang tak bisa terbayar dengan uang. Masih ingat kejadian minggu kemarin saat penulis mengajarkan doa di bulan Rajab kepada para siswa Kelas III SDN Latsari. Penulis mengajarkan doa tersebut pada siang hari lalu mereka sudah mampu mempraktekkan di masjid dan musholla pada sore harinya.

Doa bulan Rajab tersebut disertai lagu yang easy-listening dan terjemahan kalimat yang mudah dihafal. Sejak saat itu, mereka melantunkan doa bulan Rajab di berbagai kesempatan, misalnya pujian sholat dhuhur, sholat ashar, sholat maghrib, dan sholat isya’. Hati ini senang bukan kepalang mendengarnya.

Setelah mengajarkan doa di bulan Rajab, penulis melanjutkan mengajarkan lagu pujian di bulan Rajab pada Kamis pekan lalu. Lagu pujian ini dibuat dalam Bahasa Jawa oleh para sesepuh ulama di Tanah Jawa. Penulis mencetak lirik lagu pujian Rajab di potongan kertas dan membagikannya kepada siswa. Usai mendapat pengajaran cara menyanyikan lagu itu, mereka tak sabar mempraktekkannya melalui pengeras suara di masjid dan langgar.

Mereka terdengar antusias dan bersemangat melantunkannya. Meski suara mereka terdengar sumbang, penulis tetap merasa senang. Bangun tidur siang jam tiga sore terasa sangat bahagia ketika disambut suara pujian anak-anak bersahut-sahutan dibalik mikrofon masjid dan musholla. Meriahnya Rajab menjelang Ramadhan sungguh mengharukan.

Apakah ini yang dinamakan perasaan paling bahagia dalam mendidik anak? Entahlah, penulis tidak dapat menjelaskan secara detail bagaimana hebatnya seorang guru memotivasi muridnya untuk mempraktekkan ilmu dan pengetahuan di sekolah agar berguna bagi masyarakat di sekitarnya. Lupakan sejenak nilai-nilai rapor siswa yang sering membuat deg-degan para wali murid dan murid itu sendiri.

Kini saatnya kita semua menolehkan kepala kepada para insan mungil yang termotivasi mendulang prestasi di kehidupan nyata. Anak hebat bukanlah murid yang selalu mendapat nilai seratus. Anak hebat adalah murid yang mampu menciptakan kehadiran dirinya seratus persen di masyarakat. Semoga anak-anak kita bisa tumbuh berkembang dengan baik serta memberikan kemanfaatan bagi orang-orang di sekitarnya.

Bagikan artikel ini melalui:

9 Replies to “Inikah Perasaan Paling Bahagia Mendidik Siswa?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *