Perayaan HUT PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2018 di Sumenep Jawa Timur

Khidmat Upacara Bendera Guru Memakai Seragam PGRI dan Korpri di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang
Khidmat Upacara Bendera Guru Memakai Seragam PGRI dan Korpri di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Perayaan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional tahun 2018 dipusatkan di Kota Sumenep Provinsi Jawa Timur pada Sabtu 17 November 2018 kemarin. Sebanyak 50.000 orang guru menghadiri upacara peringatan HUT PGRI dan Hari Guru Nasional di Stadion A. Yani Sumenep. Para peserta berasal dari 35 kota dan kabupaten yang ada di provinsi Jawa Timur.

Mereka sudah tampak berbondong-bondong memenuhi berbagai sudut Kota Sumenep sejak Jumat pagi tanggal 16 November 2018. Mereka menginap di sejumlah hotel, homestay, losmen, maupun gedung-gedung sekolah yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Meski demikian, masih banyak rombongan guru yang tidak kebagian tempat menginap, termasuk saya. Saya dan kawan-kawan guru terpaksa berteduh di Asta Tinggi untuk sekedar cari tempat mandi, sholat subuh dan makan.

Kota Sumenep telah berusaha sebaik mungkin memberikan pelayanan akomodasi dan keamanan kepada para guru yang tergabung dalam organisasi PGRI Jawa Timur. Meski demikian masih tampak banyak kekurangan di berbagai sisi. Kekurangan yang paling utama adalah tata kelola parkir kendaraan yang masih tampak semrawut. Terbatasnya luas lahan parkir tidak sepadan dengan banyaknya kendaraan yang memenuhi kota.

Berbagai kendaraan besar mulai dari bus, minibus, mobil elf, mobil sedan hingga berbagai kendaraan pribadi lainnya terparkir secara liar di berbagai jalan-jalan di sekitar Stadion A. Yani Sumenep. Sopir-sopir bus pun tampak kesulitan menepikan kendaraan. Sejumlah anggota Pramuka yang diterjunkan di jalan raya pun tidak banyak membantu menguraikan kemacetan.

Demikian juga tempat penginapan yang jumlahnya tidak seberapa banyak memaksa sebagian besar peserta untuk tidak tidur semalam suntuk. Mereka memilih mengunjungi berbagai tempat wisata yang menyediakan tempat parkir luas dan sekedar tersedia warung makan atau tempat ngopi yang nyaman.

Kendala paling besar selama saya mengikuti kegiatan perayaan hari ulang tahun PGRI di Sumenep adalah ketersediaan air bersih. Air bersih sangat jarang tersedia dan sulit ditemukan di Pulau Madura, terlebih lagi di Kabupaten Sumenep yang memiliki tanah cenderung berkapur dan gersang.

Ketika saya dan kawan-kawan satu rombongan menginap di Asta tinggi kami berharap bahwa tempat wisata tersebut menyediakan air bersih yang cukup untuk kami gunakan. Ternyata harapan kami meleset. Pada jam 03.00 WIB di sana tidak ada air bersih yang cukup untuk dipakai 60 orang peserta. Kami terpaksa hanya mencuci muka dan tidak mandi selama seharian di Pulau Madura.

Peringatan hari ulang tahun PGRI dan hari guru nasional di Sumenep dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur, Ketua PGRI Pusat dan Bupati Sumenep. Mereka bertiga saling bergantian memberikan sambutan dan pengarahan kepada para peserta yang memadati Stadion A. Yani Sumenep. Para pejabat itu berterima kasih atas pengabdian para guru dalam mendidik generasi muda.

Pakde Karwo, Gubernur Jawa Timur mengaku akan menyuarakan aspirasi kaum guru jika beliau bertemu dengan Presiden RI. Sementara itu Bupati Sumenep meminta maaf atas segala kekurangan dan ketidaknyamanan yang dialami oleh peserta kegiatan. Beliau juga mengundang para peserta untuk berlibur ke berbagai tempat wisata di Pulau Madura, misalnya Pantai Camplong dan Gili Labak.

Acara tersebut dimeriahkan oleh penampilan seniman daerah Sumenep. Mereia menyajikan tarian daerah, seni musik daerah, dan lagu-lagu daerah berbahasa Madura. Tak ketinggalan, para pedagang kaki lima berjubel menjajakan barang dagangan berlogo PGRI dan aneka kerajinan tangan khas Madura. Misalnya pin PGRI, topi PGRI, jas PGRI, kaos PGRI, kain batik Madura, dan lain-lain.

Secara umum kegiatan HUT PGRI kali ini tidak banyak memberikan tambahan wawasan kepada peserta upacara. Sebaliknya para peserta hanya sekedar jalan-jalan dan membeli oleh-oleh cenderamata khas dari Kabupaten Sumenep. Pelaksanaan upacara terbilang kacau karena banyak peserta tidak muat untuk duduk di kursi tamu undangan. Akhirnya para peserta itu membubarkan diri sebelum acara dimulai. Sebagai timbal baliknya, para peserta membeli cendera mata atau oleh-oleh dengan logo dan tulisan PGRI.

Pelaksanaan hari ulang tahun pgri di sumenep tahun ini banyak menuai protes karena banyak kekurangan dirasakan peserta. Kendala yang pertama adalah tidak tersedianya akomodasi yang memadai untuk semua peserta yang hadir dari seluruh Provinsi Jawa Timur ke Sumenep.

Lalu lintas jalan raya pun kacau karena banyak kendaraan yang masuk ke dalam jalur lalu lintas kota tetapi sangat sedikit pengatur lalu lintas sehingga kemacetan panjang terjadi. Cuaca panas juga sangat mengganggu panitia sehingga para peserta usia tua banyak yang mengalami dehidrasi. Untung mereka tidak sampai pingsan. Secara umum, pelaksanaan upacara HUT PGRI di Sumenep meriah dan berhasil menarik kunjungan ribuan guru seluruh Jawa Timur. Meski demikian, penataan lokasi acara perlu diperhatikan lebih  rapi lagi, terutama akses transportasi peserta kegiatan. Semoga pelaksanaan HUT PGRI tahun depan dapat berjalan lebih meriah, lebih lancar dan lebih bermanfaat bagi pengembangan profesi guru di Indonesia.

Bagikan artikel ini melalui:

16 Replies to “Perayaan HUT PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2018 di Sumenep Jawa Timur”

  1. Bikin acara jauh bgt ya….
    Capek di jalan nih pak.
    Lain kali kalau akan membuat acara yang bertaraf provinsi lebih baik di carikan lokasi yang tengah-tengah.
    Selain itu ketersediaan fasilitas pendukung seperti akomodasi, kebersihan, penginapan, dan makanan juga harus diperhatikan. Jangan sampai peserta teraniaya oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung.

  2. Bikin acara kok jauh sekali….
    Apa tidak lebih baik jika kegiatan HUT PGRI secara regional Jawa Timur dilaksanakan di kota besar di Pulau Jawa supaya akomodasinya lebih lancar…

  3. Selamat ulang tahun untuk PGRI Indonesia semoga para guru semakin amanah dan profesional dalam mengajar siswa.

  4. Salut untuk para guru yang tergabung dalam organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia. Mereka tidak pernah berhenti untuk berjuang dalam mengajar murid meskipun kesejahteraan mereka kurang diperhatikan oleh pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *