Selembar Asa di Bawah Tumpukan Hambatan Guru Muatan Lokal Keagamaan Islam Kabupaten Jombang

Khidmat Upacara Bendera Guru Memakai Seragam PGRI dan Korpri di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang
Khidmat Upacara Bendera Guru Memakai Seragam PGRI dan Korpri di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang

Bagaimana kabar kawan-kawan komunitas blogger Jombang hari ini? Semoga Anda selalu sehat dan sukses menjalani aktifitas hari ini. The Jombang Taste hadir menyapa Anda melalui ulasan singkat perkembangan dunia pendidikan di Kabupaten Jombang. Jika Anda memiliki putra-putri yang bersekolah di SD atau SMP, tentu Anda tahu bahwa sejak tahun kemarin mereka menerima rapor belajar dua buah.

Satu buku penilaian hasil belajar siswa merupakan rapor berformat lama yang bersampul merah untuk SD dan bersampul biru untuk SMP. Rapor satunya lagi bersampul kuning-hijau khas Jombang untuk mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Keagamaan. Mulok Keagamaan terdiri dari beragam agama yang diakui oleh Pemerintah Indonesia, yaitu agama Islam, Kristen, Katholik, Hinda, Buddha, dan Konghucu.

Menjadi Guru Mulok Keagamaan bukanlah cita-cita semua guru yang ada di Kabupaten Jombang. Tidak pernah ada guru khusus yang mengajarkan program Mulok Keagamaan di Kabupaten Jombang sampai Agustus 2016 kemarin. Memang pada tahun-tahun sebelum 2016 sudah ada Mulok Keagamaan namun pelajaran itu tidak termasuk wajib diajarkan kepada siswa. Baru para 2016 lalu Mulok Keagamaan menjadi pelajaran muatan lokal yang wajib diajarkan kepada seluruh peserta didik, apapun agamanya.

Berkaca dari pengalaman setahun kemarin, pengajaran Muatan Lokal Keagamaan di Sekolah Dasar Negeri mengalami sejumlah hambatan. Hambatan tersebut berasal dari dalam maupun luar guru. Masing-masing permasalahan perlu diuraikan secara jelas dan dicarikan solusinya. Mari kita bahas selengkapnya.

Hambatan Dari Dalam

Hambatan dari dalam diri guru adalah tidak semua guru pengajar Mulok Keagamaan memiliki kompetensi bisa mengajarkan membaca dan menulis Al-Quran. Pada umumnya guru mulok yang aktif saat ini merupakan produk instan dari Diklat sehari yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang. Setelah diklat tersebut tidak ada lagi UKG maupun kegiatan peningkatan kompetensi yang ditujukan untuk guru mulok keagamaan.

Kedua, tidak semua guru mulok keagamaan tertarik berkarir menjadi guru. Gaji yang rendah disinyalir menjadi alasan terbesar mengapa banyak guru mulok keagamaan saat ini mengundurkan diri. Tugas guru mulok keagamaan lumayan berat karena dituntut harus bisa mengajarkan baca-tulis Al-Quran sekaligus memperbaiki akhlaq peserta diri. Pekerjaan guru mulok diperberat dengan keharusan membuat RPP, Program Semester, Program Tahunan, Jurnal Pembelajaran, Jurnal Penilaian, dan tentu saja mengisi rapor keagamaan untuk murid seluruh sekolah.

Banyak sekolah dasar negeri di Jombang tidak memiliki guru yang khusus mengajarkan membaca dan menulis Al-Quran. Akibatnya, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dipekerjakan rangkap tugas mengajar kepada murid. Saya tidak meragukan kompetensi para guru PAI. Namun jam mengajar yang lebih dari 24 jam per minggu bisa menjadi kendali tersendiri dalam menyusun perangkat pembelajaran. Akibatnya, setiap guru PAI yang merangkap guru mulok keagamaan mengalami stress untuk setiap pemeriksaan yang dilakukan oleh pengawas sekolah.

Kebersamaan Ustadz dan para santri di TPQ Al-Mujahiddin Guwo Latsari Mojowarno Jombang

Hambatan Dari Luar

Selanjutnya, hambatan dari luar yang tidak mendukung aktifitas pembelajaran muatan lokal keagamaan adalah tidak adanya kesepakatan buku paket yang digunakan oleh seluruh siswa di Kabupaten Jombang. Setiap guru mulok keagamaan menggunakan buku yang berbeda-beda untuk mengajar selama setahun kemarin. Itu masih lebih baik. Bahkan ada juga guru mulok keagamaan yang tidak memiliki buku pegangan untuk siswa.

Sistem penilaian yang digunakan guru mulok keagamaan pun masih bersifat subyektif dan terkesan mengira-ngira. Obyektifitas penilaian kemampuan baca tulis peserta didik belum mampu dihadirkan sepenuhnya karena belum ada standarisasi guru pengajar muatan lokal keagamaan di Kabupaten Jombang. Berulangkali percakapan guru-guru mulok keagamaan di Grup WA membahas sistem penilaian siswa yang saat ini tidak efektif. Pernyataan Kompeten (K), Kurang Kompeten (KK), dan Tidak Kompeten (TK) sukar diuraikan dalam kata-kata.

Hambatan terakhir yang mengganggu terbentuk Kelompok Kerja Guru (KKG) guru muatan lokal keagamaan adalah masing-masing guru membanggakan almamater pondok pesantrennya atau lembaga belajar membaca Al-Quran yang diikuti. Sebut saya iqro’, tilawati, qiroati, at-tartil, qurany, tartila, dan lain-lain. Sampai penulis mempublikasikan tulisan ini, belum terbentuk KKG khusus untuk guru muatan lokal keagamaan. Masing-masing guru bekerja sendiri-sendiri sesuai naluri pendidik yang dimiliki.

Masih Ada Harapan

Terlepas dari beragam masalah yang dihadapi oleh guru muatan lokal keagamaan Islam di Kabupaten Jombang pada tahun ajaran 2016-2017 kemarin, penulis masih optimis untuk aktifitas pembelajaran muatan lokal keagamaan bisa memberikan manfaat untuk setiap peserta didik. Rencana pengadaan buku paket muatan lokal keagamaan Islam terdengar nyaring beberapa waktu lalu. Meski belum terealisasi, saya berharap ide tersebut bisa terwujud di tahun ajaran 2017-2018 nanti. Kalaupun belum terealisasi, setidaknya setiap guru muatan lokal keagamaan mampu mengantisipasinya dengan berkreasi membuat buku sendiri.

Pendataan guru-guru muatan lokal keagamaan telah dilakukan beberapa bulan lalu sebelum libur akhir tahun. Penulis berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang tidak hanya sekedar mendata jumlah guru, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan guru. Bagaimanapun, setiap guru adalah manusia normal yang memiliki kebutuhan hidup dan selama ini mungkin tidak tercukupi dari penghasilan mengajar sebagai Guru Tidak Tetap (GTT). Jika Pemerintah masih mengabaikan, inilah saatnya setiap guru berwirausaha sesuai kemampuan tanpa perlu meninggalkan tugas utama mengajar di sekolah.

Solusi terakhir berujung pada doa. Jika setiap usaha telah dilakukan namun Allah tidak kunjung memberikan apa yang kita harapkan, percayalah Allah tidak pernah tidur. Hasil kerja keras tidak akan pernah mengkhianati usaha yang telah Anda lakukan. Setiap guru adalah teladan bagi siswanya. Menyikapi keadaan yang tidak jelas saat ini pun guru harus tetap berpikiran tenang, tidak mudah menyerah dan tetap ikhlas mengajar baca-tulis Al-Quran kepada murid-muridnya. Kalaupun nanti Allah tidak memberikan kesejahteraan kepada Anda di dunia ini, yakinlah Allah akan membalas setiap jengkal langkah kaki kebaikan dengan imbalaan yang termanis di akhirat. Aamiin.

Artikel ini adalah opini pribadi penulis berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman sebagai praktisi pendidikan anak-anak Islami. Artikel ini boleh jadi bersifat subyektif karena keterbatasan waktu dan biaya penelitian. Anda dapat setuju maupun tidak setuju terhadap konten artikel ini. Silakan berbagi saran dan ide melalui kolom komentar di bawah ini.

3 Replies to “Selembar Asa di Bawah Tumpukan Hambatan Guru Muatan Lokal Keagamaan Islam Kabupaten Jombang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *