Hilang Jiwa Kepemimpinan, Seperti Anak Ayam Kehilangan Induknya

Gambar Anak Ayam Kehilangan Induknya
Gambar Anak Ayam Kehilangan Induknya

Seorang pemimpin idealnya mampu memberikan pengayoman kepada anak buahnya, baik di tempat kerja maupun di organisasi tempat ia berada. Pemimpin sejati selalu dirindukan kehadirannya. Ia adalah tempat bertanya ketika anak buah mengalami kebingungan dan membutuhkan bimbingan dalam melangkah. Pemimpin yang dilahirkan dari ikatan hubungan emosi yang kuat diantara para personel mampu memberikan ruh positif terhadap gerak langkah organisasi. Dia bukan pelaku utama, namun keberadaannya adalah tokoh utama.

Namun apa jadinya jika seorang pemimpin tidak mampu menjadi bagian dari sebuah organisasi yang tengah bergerak dengan cepat. Betapa susahnya gerak langkah organisasi bila seorang pemimpin tidak mampu mengimbangi motivasi dan akselerasi anak buah. Musibah! Itulah yang terjadi. Organisasi yang dihuni oleh tenaga-tenaga muda menghendaki mampu melangkah terus dengan kecepatan yang mengagumkan. Pemimpin berjiwa tua-renta hanya mampu melihat dan tidak dapat merespons. Ini bukan masalah usia biologis.

Bagai anak ayam kehilangan induknya. Itulah gambaran mudah untuk sebuah organisasi yang kehilangan figur seorang pemimpin. Masing-masing departemen akan berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan keinginan. Walaupun tiap-tiap personel bertatap muka dalam rapat serius, itu bukanlah esensi penting organisasi. Tidak ada jiwa pemimpin karena pemimpin sibuk dengan dunianya sendiri dan dia tidak mau mengupgrade kemampuan diri. Penyakit berbahaya itu tidak dapat disembuhkan. Ini murni dari jiwanya.

Makanya, saya mempertanyakan keseriusan para pengurus kantor pusat organisasi ketika mereka mengirimkan seorang pemimpin ompong yang bisanya hanya mengangguk kepada anak buah. Organisasi tidak butuh orang demikian. Buang saja! Pemimpin payah hanya akan sendiko dhawuh kepada atasannya tanpa perlu membuat kreasi dan inovasi terkini. Sungguh malang nasibmu anak buah. Kamu tuh seperti anak ayam kehilangan induknya. Lebih baik kamu mencari induk baru di panti asuhan daripada menunggu perubahan mental seorang tua-renta yang tidak mau belajar.

Semoga terinspirasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *