Membedakan Arti Sikap Maksimalisasi dan Perfeksionisme

Hallo blogger Indonesia, pebisnis online dan freelancer online! Semoga tetap bersemangat dan termotivasi dalam berjejaring di internet.

Ketika kita beranjak dari dunia emosi dan masuk ke dunia profesionalitas bekerja di internet, kita harus bisa membedakan antara apa yang kita maksud sebagai maksimalis dan perfeksionis. Bisnis online bidang layanan jasa membutuhkan disiplin diri dan komitmen profesionalitas pekerjaan. Mengharapkan hasil yang terlalu tinggi (berpengharapan lebih) malah bisa menjadi bumerang bagi produktifitas bekerja.

New York Time mengadakan jajak pendapat yang berjudul “It’s a Hard Life (Or Not)” pada tahun 1999 tentang arti maksimalisasi dan perfeksionisme dalam bekerja. New York Times memberikan sejumlah kuesioner untuk mengukur skala perfeksionisme kepada para responden yang telah mengikuti skala maksimalisasi. Hasil temuan jajak pendapat tersebut adalah ketika jawaban pada dua skala tersebut dihubungkan, ternyata maksimalisasi dan perfeksionisme tidaklah sama.

Seorang perfeksionis tidak puas dengan mengerjakan suatu pekerjaan secara ‘cukup baik’ jika ia dapat mengerjakannya secara lebih baik. Contoh sederhana adalah seorang musikus terus berlatih dan melatih sebuah lagu. Bahkan saat ia mencapai sebuah level performa yang dianggap oleh semua penonton sebagai sempurna, ia terus berlatih tanpa henti. Berkaitan dengan prestasi, menjadi seorang perfeksionis adalah sifat yang sangat menguntungkan.

Contoh sikap perfeksionis lainnya adalah murid yang pintar terus merivisi pekerjaannya kendati sebenarnya ia telah melampaui batasan kualitas untuk mendapatkan nilai A. Dalam bidang olahraga, kita mengenal nama Tiger Woods yang berlatih tanpa kenal lelah dalam permainannya. Ia berlatih dalam waktu yang lama untuk mencapai nilai pukulan golf yang mengagumkan dan membuat decak kagum penyuka olahraga golf.

Foto profil Chef Arnold Poernomo
Foto profil Chef Arnold Poernomo

Perbedaan Maksimalis dan Perfeksionis

Dengan demikian, seorang perfeksionis, layaknya seorang maksimalis, mereka selalu berusaha mencapai hasil yang terbaik dari berbagai kemungkinan. Namun, Barry Schwartz dalam buku ‘The Paradox of Choice’ berpendapat bahwa terdapat perbedaan yang penting di antara sifat maksimalis dan perfeksionis. Kedua sikap tersebut tidak sama, baik dalam hal tindakan yang diambil maupun akibat yang ditimbulkan.

Meskipun seorang maksimalis dan seorang perfeksionis sama-sama memiliki standard yang sangat tinggi, menurut Barry Schwartz, para perfeksionis memiliki standard yang sangat tinggi, yang tidak mereka harapkan dapat tercapai. Sementara itu, seorang maksimalis mempunyai standard yang sangat tinggi, yang memang mereka harapkan dapat tercapai. Itulah garis besar perbedaan perfeksionis dan maksimalis.

Perbedaan karakter di atas mungkin menjelaskan mengapa kita melihat bahwa mereka yang mempunyai nilai tinggi dalam perfeksionisme bekerja, tidak seperti halnya maksimalisasi, tidak mengalami depresi, penuh penyesalan, ataupun tidak bahagia. Mereka berpikir jika hasil kerja yang dicapai tidak terlalu bagus, ya sudahlah. Mungkin itu bukan bidang terbaik yang mereka pilih.

Para perfeksionis mungkin kurang bahagia dengan hasil pekerjaan yang tidak sebagaimana seharusnya. Namun mereka tampaknya lebih bahagia dengan hasil tersebut daripada para maksimalis menyikap hasil yang telah mereka capai. Semoga artikel kali ini bisa memberi inspirasi bagi Anda dalam menumbuhkan motivasi diri dan produktifitas dalam bekerja.

Enjoy blogging, enjoy writing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *