Mengapa Kita Memilih Menjadi Orang Beragama?

sepele?
sepele?

Hidup di dunia ini dipenuhi dengan kebebasan. Kita bebas menjadi siapa saja yang kita inginkan. Kita bebas melakukan apapun yang kita mau. Asaaal… asalkan tidak melanggar larangan. Memang terdengar bagai sebuah paradoks. Kita bebas, tapi juga terikat. Dan memang itulah seninya kehidupan. Dia ada sekaligus tak ada.

Lalu, setiap manusia berkesempatan menentukan jati dirinya. Apakah ia mau menjadi orang yang beragama atau tidak beragama (atheis)? Orang yang beragama akan selalu menyandarkan perilakunya pada aturan-aturan hidup yang dibuat untuk menyelamatkan manusia. Mereka memiliki dogma dan nilai yang menghasilkan keserasian dalam kehidupan.

Lalu, bagaimana dengan orang atheis? Mereka mengaku tidak beragama. Tetapi, mereka tetap memiliki keyakinan pada nilai-nilai rasional kehidupan. Misalkan, satu tambah satu menghasilkan dua. Hal yang fleksibel akan berlaku terhadap cara berfikir orang yang beragama. Bila kita mengeluarkan uang sepuluh ribu, kembali belum tentu dalam jumlah yang sama. Bahkan bisa jadi berlipat ganda.

Itulah pilihan-pilihan dalam hidup. Kita bebas memilih menjadi siapa. Namun tentu saja semua mengandung konsekuensi logis. Kita akan menjadi orang sesuai pergaulan kita. Resiko dan tanggungjawab akan selalu hadir dalam waktu yang bersamaan. Semoga kita bisa memilih mana pilihan yang terbaik dalam hidup.

One Reply to “Mengapa Kita Memilih Menjadi Orang Beragama?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *