Menjadi Gembala Spiritual Bagi Kecerdasan Berpikir Diri Sendiri

Menjadi Gembala Spiritual Bagi Kecerdasan Berpikir Diri SendiriMenjadi Gembala Spiritual Bagi Kecerdasan Berpikir Diri SendiriSetiap manusia memiliki sisi baik dan buruk dalam satu jasad dan pikiran. Secara tersirat hal ini tergambar dalam konsep Yin-Yang yang dibuat oleh kebudayaan China. Karena manusia memiliki dua sisi yang berlawanan, maka setiap orang memiliki dua kecenderungan sifat spiritualitas dan kecerdasan berfikir. Jika mereka tidak bisa menjadi manusia berkelakuan baik, pasti mereka akan berperilaku buruk. Begitu juga sebaliknya.

Bagaimana dengan mereka yang sedang berada dalam masa bimbang atau ragu-ragu? Justru ketika manusia itu menghadapi situasi bimbang dan galau, maka sesungguhnya dia sedang terjebak berada dalam karakter perilaku buruk. Bukankah manusia yang bermoral baik akan selalu percaya bahwa kehidupan ini sudah ada yang mengatur. Jika kesadaran hidup dan kepasrahan diri sudah dimiliki, maka tidak perlu lagi ada rasa galau dan bimbang di hati.

Meminjam istilah yang dipakai oleh para tokoh bijak dalam menganalisa karakter baik dan buruk manusia, sebenarnya kita semua adalah seorang gembala spiritual bagi perkembangan kecerdasan berpikir diri sendiri. Kunci sukses seorang gembala adalah kepemimpinan dan kontrol diri. Oleh karena itu, sebagai gembala kita harus mampu mengendalikan diri dalam setiap perbuatan.

Kita berkewajiban mencari tempat yang tepat untuk mendapatkan kebutuhan makanan. Kita butuh menemukan lingkungan yang nyaman dan memiliki resiko kecil terhadap bahaya serangan binatang buas. Kita harus bisa mengerem keinginan sehingga tidak tergoda mencicipi hijaunya rumput yang ada di rumah tetangga. Kita juga harus tahu sejauh mana kita akan melangkah sehingga tidak sampai tersesat dan lupa jalan pulang ke rumah.

Dan tanggungjawab utama seorang penggembala adalah melaporkan jumlah dan kondisi binatang peliharaannya kepada sang majikan. Satu saat nanti kita semua akan dimintai laporan pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta Kehidupan. Apakah kita mampu menggembalakan perilaku diri sehingga mencapai kecerdasan berpikir menemukan makna hidup dan kehidupan? Atau justru kita terlalu asyik bermain di padang rumput nan luas sehingga lupa kalau kita sedang menjadi seorang gembala?

Semoga artikel ini bisa menjadi bahan renungan diri untuk meningkatkan motivasi kehidupan Anda. Enjoy blogging, enjoy writing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *