Sambung Tali Silaturahim ke Lamongan Menuju Halal Bihalal Bani Sedo 2017

Selalu ada cerita seru tiap kali Lebaran Idul Fitri tiba. Lebaran Idul Fitri tahun 2016 ini menjadi sejarah bagi keluarga besar Mbah Topo. Untuk pertama kalinya keluarga besar dari Jombang bisa berkunjung dan bertatap muka dengan keluarga besar di Lamongan. Niat suci untuk menyambung silaturahim yang lebih erat sepertinya bakal segera terlaksana tahun depan. Saya optimis mimpi menyambungkan kembali potongan-potongan tali persaudaraan keluarga besar Mbah Buyut Sedo dapat terwujud menjadi sebuah kenyataan.

Bermula dari keinginan ibu saya, Mak Suamah, untuk berkunjung ke keluarga Pak Tris di Lamongan, akhirnya acara ini menjadi traveling bersama keluarga almarhum Bapak Mustopo, biasa saya panggil Mbah Topo. Itulah perbedaan pola pikir kaum Adam dan Hawa. Ibu-ibu lebih sering menggunakan intuisi dan perasaan mereka dalam bertindak. Jika ada satu saudara saja yang tidak hadir di Hari Raya Idul Fitri, maka itu akan menjadi masalah besar bagi mereka. Awalnya kami sempat kesulitan mencari tanggal yang tepat untuk berangkat ke Lamongan, mengingat masih ada event Halal Bihalal Bani Karso 2016. Akhirnya dengan tekad bulat kami mengendarai dua mobil bisa menjejakkan kaki di desa tujuan.

Senyum santri TPQ Mojowarno Jombang
Senyum santri TPQ Mojowarno Jombang

Kesana Kemari di Sukobendu

Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan selama lebih dari dua jam, pada Jumat 8 Juli 2016 sekitar pukul sembilan pagi saya dan keluarga tiba di kawasan hutan Mantup, Lamongan. Sempat kesasar dan bertanya kesana-kemari, kami tiba di tujuan yang pertama, yaitu rumah Pak Tris. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Ternyata Pak Tris telah meninggal dunia dua tahun lalu. Hanya ada anak-anaknya yang menempati rumah yang terletak di Desa Sukobendu Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan tersebut. Inilah pelajaran penting yang bisa kami ambil bersama. Kurang lebih dua puluh lima tahun tidak saling berkomunikasi akhirnya kami hanya menemukan batu nisannya saja.

Menyesal? Pasti ya. Saya masih ingat terakhir kali bertemu dengan Pak Tris, panggilan akrab Bapak Sutrisno, saat beliau mengantarkan saya khitan dulu, dulu sekali saat saya masih SD. Dan kini tersisa anak-anaknya yang tidak saya kenal nama-nama mereka. Memandang wajah mereka pun baru kali ini Ada kesan dingin dan cuek tampak di wajah mereka. Wajar saja. Mungkin perlu pembiasaan lebih lama agar mereka bisa mengakrabkan diri dengan keluarga besar Mbah Buyut Sedo daro Jombang. Langkah awal ini setidaknya menjadi pembuka jalan bagi kami untuk menjalin komunikasi lebih intensif. Untuk itu, saya membuat grup whatsapp (WA) Bani Sedo untuk mempermudah komunikasi lintas keluarga antar kota.

Kediaman Pak Tris yang menghadap langsung ke hutan jati Kecamatan Mantup itu memberikan pengalaman sendiri bagi kami yang tempat tinggalnya jauh dari hutan. Cuaca hari itu sangat panas, khas udara Kabupaten Lamongan di musim kemarau. Saya masih ingat cerita-cerita kuno dari para sesepuh bahwa sumber air bersih di Lamongan sangat terbatas. Hal itu pula yang menghantui kami yang mengendarai dua mobil sepanjang perjalanan panjang dari Jombang-Mojoagung-Sumobito-Pagaruyung-Kemlagi-Mantup-Kembangbahu. Padahal aslinya tidak seseram itu. Kecanggihan teknologi memungkinan setiap warga Lamongan mendapatkan sumber air bersih dari mengebor tanah.

Silaturahmi ke Desa Tlogoagung

Saudara-saudara Mbah Topo sebenarnya ada lima orang. Mereka semua adalah keturunan dari Mbah Buyut Sedo. Keturunan lima bersaudara itu terpecah kemana-mana. Mulai dari Jombang, Lamongan, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Surabaya, Kediri, dan Nganjuk. Misi kami untuk mengumpulkan kembali anggota keluarga besar masih berlanjut. Sesudah satu jam berbincang di Sukobendu, perjalanan sambung tali silaturahmi lanjut ke Desa Telogoagung Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan. Sesuai dengan namanya, Desa Tlogoagung memiliki sebuah telaga luas yang berisi air sebagai cadangan sumber pengairan bagi sawah dan ladang yang ada di sekitar desa tersebut. Kami sekeluarga hanya bisa memandang dengan keheranan dari dalam mobil saat menyaksikan genangan air keruh dan kehijau-hijauan.

Rasa penasaran kami tersimpan sementara saat tiba di kediaman Bapak Sutikno, biasa saya panggil Pak Tik. Rumah Pak Tik tidak jauh berbeda dibanding beberapa puluh tahun lalu saat saya masih kecil berkunjung kesana. Jauh dari jalan raya memberikan kesan terasing untuk pemukiman warga yang membujur dari barat ke timur itu. Tanah-tanah tandus cenderung berkapur menyebabkan hanya sedikit jenis tanaman yang sanggut bertahan hidup disana. Meski demikian, kami tetap berusaha mengakrabkan diri dengan para anggota keluarga di rumah tersebut. Sekali lagi tidak mudah. Rentang waktu puluhan tahun telah menghilangkan chemistry persaudaraan diantara kami. Percakapan awal hanya basa-basi menanyakan kabar dan keadaan masing-masing kota tempat tinggal.

Karena kunjungan kami ke Tlogoagung berlangsung pada hari Jumat, maka menjelang waktu dhuhur tiba kami sudah harus bersiap berangkat ke masjid untuk menjalankan sholat Jumat. Sekali lagi saya dan anggota keluarga lainnya dibuat kaget. Ternyata sampai sekarang masih ada blumbang yang digunakan untuk berwudhu. Blumbang adalah semacam empang berbentuk persegi yang dibuat khusus untuk mandi dan aktifitas membersihkan badan lainnya. Saya yang tidak terbiasa berwudhu di blumbang lebih memilih wudhu di kran. Air wudhu disana agak keruh dan berwarna kehijauan serta agak licin saat menyentuh kulit.

Itulah potret kehidupan masyarakat Tlogoagung saat musim kemarau tiba. Kering-kerontang dan mengandalkan sumber air telaga. Kubangan air yang terlihat menjijikkan bagi sebagian besar orang ternyata mampu memberikan kehidupan bagi sebagian orang lainnya. Perbedaan kondisi lingkungan, adat-istiadat dan pola perilaku masyarakat menghasilkan cara pandang yang berbeda terhadap sebuah fenomena alam. Namun tidak selayaknya semua perbedaan itu menjauhkan setiap manusia dari hubungan persaudaraan. Semoga Anda terinspirasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *